Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
65. JSAMS


__ADS_3

Tidak terasa sudah dua bulan Gadhing berjuang untuk mendapatkan cinta Nasya kembali. Tetapi, sepertinya gadis itu belum juga membuka hatinya kembali untuknya.


Malam ini Gadhing pulang larut malam karena baru saja melakukan operasi caesar, begitu juga Retno.


"Kamu nyetir sendiri?" tanya Gadhing setelah sudah berada di luar ruang operasi.


Retno menoleh bersamaan langkah keduanya yang beriringan. Ia mengangguk.


"Hati-hati," ucap Gadhing.


Hubungan pertemanan mereka sudah mulai membaik seperti sebelum Retno menikah tiga tahun lalu.


"Oke."


"Jangan pilih jalan yang sepi hanya untuk kebut-kebutan," tutur Gadhing mengerti kebiasaan Retno dahulu.


Retno berdecak. "Baiklah. Kenapa pak Dokter cerewet sekali belakangan ini," katanya seraya berjalan mendahului Gadhing.


Malam ini Retno tak ingin langsung pulang karena ibu mertua nya datang dan akan semakin membuatnya sakit hati.


Setidaknya pulang lebih larut lebih baik agar ketika tiba di rumah, semua orang telah terlelap.


Kecepatan laju mobil Retno melambat ketika melihat ponsel nya yang sedari tadi berdering dengan nama Rian yang tertera disana.


Ia pun menepi setelah dering ponsel itu berulang kali berbunyi. Ia pun menghela nafas panjang barulah mendial icon gagang telepon berwarna hijau.


"Hallo," kata Retno malas.


"Kamu dimana?"


"Di jalan," sahutnya singkat


"Kamu pulang, ya. Kita bicarakan di rumah. Mas janji akan ceraikan Siska setelah anak itu lahir. Mas mencintaimu, saya."


Tangan Retno terkepal erat mendengar ucapan Rian barusan. Tidak ingin berdebat lebih panjang membuatnya segera mematikan sambungan telepon tersebut.


Bagaimana bisa Retno tega memisahkan seorang ibu dengan anaknya. Sudah berulang kali ia meminta diceraikan tetapi Rian tidak setuju dengan permintaan nya itu.


Saat Retno hendak melajukan mobilnya kembali, ia di hadang oleh dua pria bersenjata tajam. Seketika ketakutan mulai merajai dirinya.


"Astaghfirullah. Gimana ini?" gumamnya sendiri saat dua pria itu sudah menggedor-gedor secara brutal.


"Keluar."


"KELUAR!!"


Retno semakin takut hingga terlihat sorot lampu mobil dari arah belakang, ia pun melihat siapa pengendara mobil tersebut.

__ADS_1


"Gadhing," gumamnya ketika melihat Gadhing turun dari mobil.


*


*


Gadhing berhadapan dengan dua pria yang diyakini itu adalah preman setempat. Ia menangkis dan mangelak dari serangan kedua pria tersebut yang menyerangnya dengan benda tajam.


Tapi saat sudah beberapa kali mengelak dan menangis Gadhing akhirnya lengah sehingga benda tajam dari salah satu preman itu naik dadanya sehingga terluka.


Saat kedua preman itu hendak menyerang gading lagi suara teriakan dari warga setempat membuat mereka pergi meninggalkan Gadhing dan Retno.


"Bapak enggak apa-apa?" tanya warga itu.


Gadhing memegang dada dan meringis. "Iya."


"Apa perlu kami bawa ke Rumah Sakit?"


Satu tangan Gadhing menengadah ke dada sebagai isyarat penolakan. "Gak perlu, saya Dokter dan dia perawat." Tunjuknya ketika Retno sudah keluar dan terlihat khawatir.


Warga tersebut mengangguk mengerti dan permisi pergi setelah memastikan semua baik-baik saja.


"Kenapa Dokter nekad, sih?" tanya Retno kesal bercampur khawatir.


Retno menuntun Gadhing masuk ke dalam mobilnya lalu menjalankan mobil. "Saya akan mengobati luka anda lebih dahulu, setelah itu pergi."


"Hem."


Beberapa saat kemudian mobil Retno telah sampai di halaman rumah Gadhing. dalam rumah Retno menanyakan Di mana letak peralatan medis milik Gadhing.


Gadhing memang selalu menyediakan alat-alat medis di rumah karena ingin memberi pertolongan pertama bagi asisten rumah tangga atau kedua orang tuanya saat berkunjung.


"Apa gak apa-apa aku masuk kamar kamu?" tanya Retno tidak enak hati.


"Enggak ada siapa-siapa disini," sahut Gadhing duduk di atas ranjang, bersandar di headboard dengan bertelanjang dada dan.


Retno mengangguk dan berjalan masuk ke dalam kamar Gadhing. Ia menahan nafas saat dihadapkan oleh dada bidang Gadhing yang tampak sangat nyaman bila berada dalam pelukan pria itu. Ia duduk di tepi ranjang menghadap ke arah Gadhing.


Retno menggeleng kecil ketika pikiran liar terlintas di kepalanya. Wajar saja, apalagi ia tidak pernah disentuh Rian setelah Siska berada di rumah mereka.


Dengan perlahan dan hati-hati Retno menjahit lukabyang cukup dalam itu. Andai saja ia mendongak, sudah dipastikan bibir keduanya akan bertemu.


"Sudah selesai," gumam Retno masih menatap bekas jahitan nya.


BRAK


"Apa-apaan kalian, hah!!!" sentak Rian membuat Gadhing dan Retno terkejut.

__ADS_1


Parahnya, keterkejutan itu membuat kedua bibir Gadhing dan Retno bertemu semakin membuat semua orang tercengang.


Semakin membuat Gadhing terkejut ketika matanya tertuju pada tiga orang di belakang Rian. Bunda Fadia, Buya Niko, dan juga Nasya yang masih berdiri mematung.


"Jadi ini yang membuat kamu malas pulang, Retno?" sentak Rian.


"Ini gak seperti yang anda lihat, pak." Gadhing mencari pembelaan karena dugaan Rian salah. Sementara Retno hanya diam saja.


"Ayo kita pulang. Mas anggap ini hanya cara kamu membalas kesalahan mas," ucap Rian meraih pergelangan tangan Retno tetapi segera ditepis wanita itu.


"Sejak awal aku mengetahui pernikahan keduamu sudah meminta cerai, bukan? aku sudah berselingkuh sekarang dan aku harap kamu mengabulkan permintaanku," kata Retno masih berdiri di sebelah Gadhing.


"Hah?" ucapan Retno semakin membuat ketiga orang di belakang Rian tercengang.


"Ret. Kenapa begini?"


"Pergilah, Rian. Aku sudah enggak cinta kamu lagi," kata Retno meremas baju seragam yang masih dikenakan nya.


Sakit.


Hati Rian semakin sakit saat Retno mengakui tidak mencintainya lagi. Ia pergi meninggalkan rumah itu.


FLASHBACK ON


Beberapa saat lalu, setelah menelepon Retno, Rian keluar rumah menaiki mobil untuk menyusul istri pertamanya di Rumah Sakit.


Telah sampai di sana, ia menanyakan kepada penjaga dan ternyata Dokter Gadhing dan Retno telah pergi beberapa saat lalu dengan mobil yang berbeda.


Entah mengapa hatinya seakan membawa diri ke arah rumah Gadhing karena ia mengenal pria itu saat dikenalkan oleh Retno.


Setiba telah sampai di pekarangan rumah Gadhing ternyata Buya Niko, bunda Fadia, dan Nasya baru saja tiba.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Buya Niko karena merasa asing.


"Saya Rian dan ingin menjemput istri saya disini," sahut Rian mengepalkan tangan setelah mengetahui mobil Retno terparkir disana.


"Istri? bagaimana bisa?" tanya bunda Fadia.


"Istri saya ada di dalam. Mobil itu milik istri saya," kata Rian menunjuk mobil tersebut.


Ucapan Rian sontak membuat 3 orang itu terkejut kemudian memilih masuk dan mengikuti langkah harian menuju kamar Gadhing dan terjadilah yang baru saja terjadi.


FLASHBACK OFF


Sedang Nasya masih berdiri mematung melihat Retno memeluk Gadhing tanpa penolakan.


Nasya tidak tahu harus merasakan seperti apa. Haruskah merasa sedih karena Gadhing telah memiliki wanita lain tanpa memberitahunya.

__ADS_1


Atau merasa bahagia karena dengan begini ia dapat bersatu dengan Jimmy?


__ADS_2