
"Cih."
"Beraninya hanya dengan kekerasan. Semua ini salahmu, Gadhing. Andai saja kebencian mu kepada Nasya itu kamu hilangkan, aku dan Noni gak akan berpisah sehingga nekad berbuat keji seperti itu."
"Kamu penjahat nya disni," cecar Dimas membentak Gadhing dengan diiringi rasa nyeri di wajah akibat tinjuan dari pria di hadapan nya.
Tadi, Dimas baru saja pulang dari salah satu Rumah Sakit, tetapi bukan rumah sakit dimana Gadhing bekerja.
Dimas memeriksakan kesehatan nya, terutama pada alat kelamin nya karena sudah mengetahui penyakit Noni.
Hasil pemeriksaan medis akan keluar dua Minggu kedepan.
Gadhing hanya diam karena membenarkan ucapan Dimas. Ia juga baru tahu jika Dimas dan Noni adalah sepasang kekasih sebelum pada akhirnya ia melamar Noni dan kebetulan memiliki tujuan yang sama.
Yaitu membuat Nasya menderita.
Gadhing mengacak rambutnya karena merasa frustasi. Semenjak berpisah dengan Nasya, ia tak pernah bisa berkonsentrasi dalam bekerja.
Beruntung tidak banyak pasien yang harus di operasinya. Tetapi tetap saja, hari nya seperti merasa kehilangan suatu kebiasaan yang sering dilakukan oleh Nasya pada dirinya.
Ucapan cinta.
Rayuan gombal.
Keras kepala Nasya.
Ungkapan cinta.
Selalu sibuk menghubunginya.
"Aku laki-laki normal. Jika disuguhkan keindahan tubuh perempuan pasti akan tergoda. Kamu saja yang bodoh terlambat menyadari bagaimana cinta nya Nasya padamu."
"Kami hampir menikah. Aku akui Nasya adalah gadis baik hati dan sangat cantik. Tapi, aku gak kuat untuk menahan diri agar tidak tergoda lagi dengan kemolekan tubuh Noni."
Gadhing tidak menjawab. Ia lebih memilih pergi dari kediaman Dimas. Rasanya sangat sakit bila mengingat bagaimana kejam nya terhadap Nasya dan Noni sebagai alat pembantu untuk membuat mantan istri siri nya itu menderita.
Gadhing masuk ke dalam mobil dan melajukan menuju ke suatu tempat.
*
__ADS_1
*
Nasya berulang kali menghela nafas panjang sebelum keluar mobil dan memasang wajah ceria di hadapan Tiara.
Jimmy melihat Nasya masih memasang wajah kesal membuat ketar-ketir.
Tadi, setelah makan siang Nasya marah karena Jimmy selalu membahas pernikahan. Nasya kesal karena Jimmy tidak ingin tahu betapa takutnya dirinya dengan menjalin kasih bahkan menikah lagi.
Jimmy merogoh saku dan mengambil ponsel. Dibuka, lalu di tap aplikasi Mbah Google kemudian mencari sesuatu disana.
Jimmy berdehem. "Kamu itu seperti pencuri. Tapi aku tidak marah dan tak melaporkanmu ke polisi. Karena yang kamu curi cintaku, disimpan baik-baik ya."
Nasya terkejut langsung menoleh ke arah Jimmy dan melihat pria itu sedang membaca artikel yang terdapat di ponselnya.
Ingin rasanya Nasya mencubit, menjambak, dan memukul Jimmy saat ini. "Apaan sih, mas? mending jangan gombal deh daripada gombal nya nyontek begitu. Gimana mau jadi suami? bisa-bisa hidupku monoton menikah sama duda tua kayak, mas."
Mata Jimmy mendelik mendengar apa yang baru saja diucapkan Nasya. "Oke. Kalau begitu mas enggak akan menggombal tapi mas akan menjamin kalau kehidupan rumah tangga kita enggak akan monoton dan kamu harus tahu, mas belum setua itu," sahut Jimmy tersenyum senang seraya menatap Nasya penuh cinta
"Eh. A-nu, bu-kan itu maksud aku, mas."
Mendadak Nasya menjadi gugup dan salah tingkah mendengar dan di tatap Jimmy seperti itu. Ia pun merutuki diri karena omelan nya menjurus ke kehidupan rumah tangga.
"Ini terlalu cepat, mas."
Jimmy menghela nafas panjang dan masih menatap mata Nasya sangat dalam. Keduanya tidak perlu khawatir karena ada sopir diantara keduanya.
"Nasya. Aku adalah pria dewasa dan kita sama-sama pernah gagal dalam rumah tangga. Bedanya, kamu ingin mendapatkan cinta suamimu dan aku menerima pernikahan itu karena di jodohkan."
Jimmy tetap menatap mata Nasya sangat dalam dan itu membuat darah Nasya berdesir. Untuk pertama kalinya ia mendapatkan tatapan teduh dan penuh cinta itu.
Bahkan tatapan Gadhing tidak sedalam tatapan Jimmy saat ini.
"M-mas," kata Nasya gugup dan memutuskan pandangan itu. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diingin kan berawal dari tatapan mata Jimmy yang membuat degub jantungnya berdetak kencang.
"Tatap mataku, Sya. Lihatlah, apakah ada kebohongan dan ketidak sungguhan dari tatapan mataku?"
Nasya memberanikan diri menatap mata Jimmy lagi. Ia menelan saliva merasakan degub jantung nya tak bisa di kontrol olehnya. Hanya harapan, semoga pria di samping nya ini tidak mendengar suara jantungnya.
"Jangan kasih aku dan Tiara harapan kalau kamu masih ingin sendiri, Sya."
__ADS_1
"Mas. Kita baru saja kenal, kenapa mas terburu-buru?"
Jimmy menggeleng. "Aku gak terburu-buru, Sya. Aku sudah lama memerhatikanmu sejak kamu masih kuliah. Pertama kali aku melihatmu saat masih di Malang, masih memakai seragam putih abu-abu dan kamu mengantar makanan ke meja ku. Tiga tahun kemudian, kita bertemu di kampus saat aku menjadi tamu dan memperkenalkan Perusahaan ku dan siap menerima mahasiswa yang berkompeten."
Nasya tertegun mendengar penjelasan Jimmy. Ingatan nya mundur pada usia nya masih tujuh belas tahun saat masih putih abu-abu. Ia sering sekali setelah pulang sekolah pasti ke Rumah Makan dan menjadi pelayan disana.
Nasya memang suka sekali membantu para pekerja untuk melayani pembeli. "Mas yang pakai jas hitam dan aku gak sengaja numpahin air minum?" Nasya tersentak ketika mengingat kejadian itu.
Jimmy mengangguk.
"Om galak banget waktu itu sampai marah-marah," Nasya cemberut mengingat dimana Jimmy marah-marah padahal Nasya sudah meminta maaf.
Jimmy melotot langsung menusuk pipi Nasya dengan jemari telunjuk nya. "Aku bukan om-om, Sya."
Nasya terkekeh setelah mengingat salah menyebut Jimmy. "Dan saat di kampus aku gak sengaja nabrak mas karena buru-buru mau masuk kelas mas, kan? Wah.. Ternyata aku seceroboh itu," tutur Nasya membuat Jimmy mencebik.
Kambuh cerewetnya. Astaghfirullah, calon istri.
"Sya. Aku sedang bicara serius," kata Jimmy kembali memasang mimik wajah serius dan membuat Nasya seketika gugup lagi.
Nasya menghela nafas panjang. "Perpisahan ku dengan mas Gadhing mengajarkan aku suatu hal. Ternyata, berjuang sendiri itu sangat sakit dan aku gak mau itu terjadi pada mas."
"Aku juga harus mengerti dari sudut pandang orang lain, jangan menjadi pengemis cinta. Sekarang aku sadar bahwa begitu bodohnya aku menjadi pengemis cinta itu."
Tatapan keduanya bertemu. Untuk sesaat mereka tidak ada yang mengeluarkan suara apapun. Padahal, mereka sudah cukup lama berada di dalam mobil. Bahkan sang sopir sudah merasa bosan berada di dalam namun tidak dapat berkata apapun.
"Jadi?"
"Aku masih tahap mengobati luka hatiku, mas. Aku gak mau mas merasa sebagai pelampiasan ku. Jujur saja, kehadiran Tiara bisa membuatku mengalihkan rasa sakit hatiku."
"Jadi?" ingin rasanya Jimmy mencium bibir Nasya karena terlalu bertele-tele.
Hah.. Ini sungguh cobaan.
"Bolehkah aku belajar menerimamu secara perlahan?"
"Boleh. Sangat boleh," sahut Jimmy cepat.
Nikah sekarang juga boleh, Sya.
__ADS_1