Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
114. JSAMS


__ADS_3

Assalamualaikum kesayang aku😘🥰🥰


Aku mau balas komentar kalian yang banyak kenapa Jimmy aku buat meninggal!


Begini, aku buat peran Jimmy sama seperti seseorang dari kenyataan. Banyak sekali orang baik pasti akan lebih dulu dipanggil Sang Maha Pencipta.


Karena kita lihat, dari awal Jimmy saat menikah dengan Diana juga adalah pria baik yang tersakiti. Mengenal Nasya membuatnya berubah menjadi lebih baik lagi.


Terus mengenai pertanyaan, kenapa Nasya dibuat sedih Mulu? aku buat Nasya harus mengalami namanya konsekuensi dari obsesi dan memaksakan kehendak sehingga menjadi pelakor.


Coba saja kalau dia bersabar dan berdoa terbaik untuknya, pasti gak akan seperti ini. Dan untuk Gadhing, dia juga harus merasakan yang namanya penyesalan telah menyia-nyiakan orang yang sangat tulus padanya.


Paham ya?


Makasih banyak sayang...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gadhing terpaku mendengar ucapan Nasya. Ia terus mengulang ingatan dimana Nasya mengucapkan kalimat ambigu.


Masih dengan mimik wajah bingung, ia menatap Nasya seakan meminta penjelasan. "Nasyama."


Nasya menoleh disertai senyuman. "Kenapa, mas?"


Gadhing menggeleng. "Enggak. Mungkin mas salah dengar, tadi."


Nasya terkekeh. "Mungkin. Oh iya, weekend mas ada acara?"


"Enggak. Kenapa?"


"Aku kangen sama Buya dan bunda."


"Mas antar!"


Dena melihat interaksi Gadhing dan Nasya terlihat ada kecanggungan diantara mereka. Tetapi Dena tidak bisa menebaknya.


Setelah puas melihat pemandangan dan kapal pesiar di Surabaya North Quay, mereka semua pergi menuju Rumah Makan terdekat.

__ADS_1


Sesampainya di tempat itu, Nasya memilih tempat duduk lesehan agar memudahkan anak-anaknya makan dan ia ingin mengenalkan makanan Indonesia.


"Zurra mau nila bakar, mi!" seru Azurra melihat gambar menu makanan tersebut.


Nasya tersenyum dan mengangguk. "Abang Azzam, apa?"


"Samain, mi."


Nasya mengangguk lagi kemudian menatap Emier dan Asnan bergantian. "Emier dan Asnan mau yang mana?"


"Sama," sahut keduan bersamaan membuat Nasya terkekeh.


"Baiklah. Kalau begitu Mami juga sama."


Nasya menyerahkan buku membuka makanan kepa pelayan kemudian menyebut pesanan mereka.


Tepat tidak jauh dari posisi duduk Nasya dan keempat anak tersebut, Gadhing yang sedang duduk bersebelahan dengan Dena tampak memerhatikan mereka.


Ada rasa kesal sedari tadi Dena selalu mencari celah agar bisa berduaan dengan nya.


"Kamu kenapa lihatin Nasya begitu?" sebagai wanita yang sedang dekat dengan Gadhing, tentu saja sedikit tidak suka.


Dena menggeleng. "Enggak. Cuma aneh saja tatapan kamu bukan seperti tatapan ke sepupu."


Gadhing tahu maksud dari jawaban Dena, tetapi membuatnya enggan menepis penilaian Dena.


*


*


Gadhing mengantar Nasya dan sikembar kembali ke mansion. Sebenarnya, wanita itu meminta diantar ke rumahnya dan pulang mengendarai mobil sendiri.


Tetapi, Gadhing tidak mengizinkan karena tentu saja ingin memastikan bahwa wanita sang pujaan hati selamat hingga sampai tujuan pulang.


"Itu mansion punya Nasya?" tanya Dena kagum setelah meninggal kan wilayah elit tersebut.


"Ya."

__ADS_1


"Tapi kenapa selama ini aku gak pernah bertemu Nasya, ya?" tanya Dena penasaran lagi.


"Di menikah dengan pemilik PT. Istana Tiara dan di boyong ke Jerman. Dia baru saja tiba di Surabaya kemarin setelah lima tahun gak pernah pulang."


Dena ber- oh riya saja. Jujur saja sejak pertama kali melihat Nasya, sudah terlihat bila wanita itu bukan dari kalangan biasa.


"Kamu gak mampir, dulu?" tanya Dena karena memang sudah lama sekali ingin Gadhing mampir ke apartemen nya.


Gadhing menolak. "Maaf. Gak baik aku berada di apartemen mu tanpa hubungan yang halal."


Dengan menipiskan bibir disertai anggukan. "Baiklah. Selamat malam."


Gadhing mengangguk. "Malam," ucapnya membiarkan Dena keluar dari mobilnya.


*


*


Keesokan harinya.


Seperti permintaan Nasya ketika liburan yang lalu. Gadhing dan kedua anaknya sudah berada di mansion Nasya. Ada rasa sungkan dan canggung berada di tempat mewah ini. Apalagi melihat beberapa pelayan menatapnya aneh dan senyum-senyum.


"Rumah mami besar," gumam Emier melihat sekeliling begitu juga dengan Asnan melakukan hal yang sama.


Terdengar suara Azzam dan Azzura berceloteh dari atas tangga hendak turun, diikuti oleh Nasya.


Gadhing melihat tampilan Nasya menjadi terpana. Gamis berwarna marron dipadukan dengan hijab berwarna merah muda membuat Nasya benar-benar tampak lebih cantik dan lebih muda.


"Mas," panggil Nasya seraya menggerakkan telapak tangan di depan wajah Gadhing ke kanan dan ke kiri.


Gadhing tersentak kemudian menjadi salah tingkah dan hal tersebut membuat Nasya tertawa.


"Kita berangkat?" tanya Gadhing dan di angguki Nasya.


Nasya yang melihat bibi Nur langsung memanggil. "Bi. Sepertinya kami gak pulang untuk beberapa hari. Stok makanan kita masih ada, bibi bisa gunain."


Bibi Nur mengangguk mengerti. "Semoga pulang dari kampung bawa papi baru ya, Bu!" ucap bibi Nur kembali membuat Gadhing mengerutkan dahi. Sementara Nasya hanya tertawa sumbang.

__ADS_1


"Jangan dengarkan ucapan bibi ya, mas."


Gadhing tidak menjawab. Ia menatap Nasya begitu intens. "Apa yang kamu sembunyikan, Nasyama?"


__ADS_2