Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
113. JSAMS


__ADS_3



Surabaya North Quay sebenarnya adalah terminal bagi kapal pesiar mewah yang bersandar. Namun, tempat ini sengaja dibenahi supaya dapat menjadi tempat wisata bagi warga Surabaya dan sekitarnya. Bahkan, tak sedikit yang berasal dari luar daerah yang penasaran ingin menikmati pemandangan menakjubkan. Lautan lepas dengan kapal pesiar mewah yang bersandar di terminal ini, menjadi daya tarik utamanya.


Pemandangan tidak harus selalu berhubungan dengan gunung saja, pemandangan laut pun tak kalah indahnya. Meskipun Surabaya tidak memiliki pantai seindah Pacitan, Bali, atau Lombok, tapi pelabuhannya lebih menarik. Salah satunya karena memiliki terminal untuk bersandar kapal-kapal pesiar mewah internasional. Dari sini, pengunjung dapat menyaksikan betapa megahnya kapal pesiar yang bersandar.


Objek wisata ini terletak di lantai dua dan tiga gedung megah Terminal Gapura Surya Nusantara. Setiap lantai menawarkan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Di lantai dua, wisatawan dapat menyaksikan ruang pameran dengan produk kreatif. Sementara di lantai tiga, diisi dengan aneka kuliner yang siap menggoyang lidah dengan kenikmatannya.


Pengunjung dapat menyaksikan lalu lalang kapal yang seolah sibuk dengan tujuannya. Aroma lautan menjadi penyejuk tersendiri suasana di Surabaya North Quay. Di lantai tiga pun dilengkapi dengan rumput sintetis yang menyejukkan mata, lengkap dengan beanbag. Bersantai di atas beanbag sambil menikmati santai suasana sore hari di sini menjadi pilihan tepat.


Nasya, Azzam, dan Azzura tampak memejamkan mata menikmati senja di Surabaya North Quay. Angin yang berhembus menerpa wajah mereka.


Nasya lebih dahulu membuka mata lalu menoleh melihat kedua anaknya. Hal ini seperti suatu kebiasaan yang mereka jalani semenjak Jimmy telah tiada.


Menikmati senja dan merasakan kehadiran Jimmy setiap di waktu tersebut.


"Kalian gak boleh sedih, ya. Masih ada Mami, kan?" tanya Nasya membuat kedua anaknya membuka mata, melihat kearahnya lalu mengangguk.


Kemudian Nasya melihat Gadhing tampak sibuk menjaga dan melayani setiap permintaan Emier dan Asnan dengan Dena yang tampak setia berada di samping Gadhing.

__ADS_1


"Kenapa mami terlihat sedih melihat ayah bersama Tante Dena?" celetuk Azzam membuat Nasya terkejut lalu menggeleng.


"Ada-ada saja," sahut Nasya.


Azzam tampak menatap Nasya begitu intens dengan menggosok-gosok dagu, persis seperti orang dewasa sedang berpikir. "Papi pernah bilang kalau kami harus punya papi baru, kan?" tanyanya.


Azzam berkata seperti itu karena sangat banyak rekaman video Jimmy sebelum meninggal dunia dan salah satunya mengatakan kedua anak mereka tidak boleh marah kalau memiliki papi baru.


Nasya hanya terkekeh disertai gelengan. Ia merasa anak laki-laki nya lebih dewasa dari umurnya. Dan ia tahu mengapa, itu karena keadaan yang membuat sifat pelindung nya lebih menonjol.


Nasya tidak ingin menolak apalagi melawan takdir jika dirinya masih memiliki jodoh di dunia. Tetapi, sekarang harus lebih mementingkan kebahagiaan kedua anaknya.


"Kalian gak ingin foto-foto lagi?" tanya Nasya agar pembahasan mengenai papi baru tidak dilanjutkan.


Azzam dan Azzura hanya menggeleng. "Cukup, mi."


Nasya mengangguk mengerti. Tentu saja mengerti karena kedua anak mereka lebih suka bersama dengan nya duduk manis menikmati waktu dan sekitar mereka.


"Maaamiiiii???!!" pekik Emier berlari mendatanginya.


Nasya langsung menoleh ke arah Emier disertai senyuman manis yang menyejukkan. Ia merangkul Emier setelah anak laki-laki itu memeluknya dari samping karena posisi Nasya saat ini sedang duduk.

__ADS_1


"Ada apa, sayang?" tanya Nasya. Emier sangat manja kepada Nasya karena memang sedari bayi, dirinyalah yang sering merawat anak laki-laki berusia 7 tahun ini. Beruntung kedua anaknya tidak pernah merasa cemburu.


"Ayo kita foto bersama dengan ayah," ajak Emier membuat Nasya menatap Gadhing dan Dena bergantian.


"Ayok, bang!" ajak Azzam membuka suara.


Emier dan Azzam menarik tangan Nasya sehingga menuruti keinginan mereka.


Emier menyarankan Nasya berdiri di sebelah Gadhing, Azzura dan Asnan berdiri di depan Gadhing dan Nasya. Sementara Emier berdiri di depan, sisi kanan Gadhing. Sementara Azzam di depan sisi kiri Nasya.


Sedangkan Dena? tentu saja ia yang menjadi tukan foto mereka. Walau ada rasa kesal, tetapi mengingat Nasya adalah sepupu Gadhing membuatnya mengesampingkan rasa kesalnya.


Sementara Gadhing benar-benar gugup harus berdiri di sebelah Nasya. Ia mengira lima tahun tidak bertemu dengan Nasya membuat rasa cinta nya menghilang. Ternyata pada kenyataan nya, ia salah.


"Maafin Emier, Nasyama!" ungkapnya pelan di sela pose nya.


Nasya semakin menarik sudut bibirnya. "Maaf untuk apa?"


"Karena Emier memaksa foto. Mas sungkan dan takut pak Jimmy salah paham," sahutnya jujur.


Nasya terkekeh mengingat bagaimana cemburunya Jimmy terhadap Gadhing. "Gak masalah, mas. Justru aku di suruh cari papi baru untuk anak-anak!"

__ADS_1


__ADS_2