Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
105. JSAMS


__ADS_3

"Gak boleh nangis, sayang. Mami pergi sebentar saja," kata Nasya menenangkan Emier yang sedang menangis dalam pelukan nya.


"Ami.. Ami, Emi itut!" seru bocah laki-laki itu terisak.


"Emi gak ada unda, Ami gak bole pergi!" larang Emier dengan bahasa cadel nya memeluk leher Nasya.


Hati Nasya teriris mendengar setiap ucapan Emier. "Bunda janji akan pulang saat Emier akan masuk sekolah. Jangan nangis lagi, oke!"


Hari ini, Nasya harus ikut dengan Jimmy ke Jerman karena suatu pekerjaan dan akan menetap lama disana.


"Nasyama. Apa gak sebaiknya setelah melahirkan kamu menyusul kesana?" tanya Gadhing mendadak khawatir dengan keadaan Nasya.


Bukan hanya hatinya akan galau tidak dapat melihat Nasya lagi. Tetapi, mereka terbiasa dekat walau tidak seatap sedari dulu. Karena itu pula Gadhing langsung memboyong Nasya ke Surabay setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Atas.


Nasya tersenyum mendengar pertanyaan Gadhing. Beruntung Jimmy tidak ada di dekat mereka karena sedang menelepon seseorang.


"Mau bagaimana lagi, mas? bukankah sudah kewajiban ku mengikuti kemana pun suami mengajak? Doakan kami selamat hingga sampai tujuan," sahut Nasya lembut yang masih menggendong Emier.


"Jangan sampai kelelahan. Katakan pada suamimu kalau kamu benar-benar tidak kuat melanjutkan perjalanan. Vitamin jangan lupa," ucap Gadhing beruntun.


Nasya terkekeh lalu mengangguk kecil.


"Sayang. Apa sudah siap? kita harus segera berangkat ke Jakarta, sekarang!" kata Jimmy memasuki ruang keluarga.


Nasya menoleh. "Sudah mas."


Jimmy dan Nasya berpamitan kepada orang tua Gadhing, Daffa dan Daffi, terakhir kepada Gadhing.

__ADS_1


Semuanya mendoakan yang terbaik untuk Jimmy dan Nasya.


*


*


Hari mulai gelap. Entah mengapa perasaan Gadhing sedari pagi tidak tenang. Tetapi bingung penyebab perihal tersebut tidak tahu.


Bahkan ia sampai menelepon baby sitter yang menjaga kedua putranya untuk memastikan apa yang dirasakan nya.


Gadhing menghela nafas panjang. "Mungkin hanya perasaanku saja," gumamnya lalu memasukkan ponsel ke saku nya kembali.


*


*


"Sayang. Kamu sayang aku, nggak?" tanya Jimmy disaat mereka masih berada di pertengahan jalan menuju Jakarta.


Jimmy tersenyum disertai gelengan. Ia mendekap erat tubuh Nasya kemudian mengecup pucuk kepala wanita pujaan nya itu.


"Sayang. Adakah yang kamu inginkan di masa depan?" tanya Jimmy.


Nasya menengadah menatap wajah tampan suaminya. Ia menggeleng kecil. "Aku hanya ingin duduk di belakang rumah, di bawah pohon menikmati teh hangat dan melihat kamu bermain dengan anak-anak kita."


Jimmy menatap Nasya penuh cinta. "Tolong beri nama anak kita Azzam Calliandra dan Azzura Calliandra," gumam Jimmy pelan yang masih di dengar oleh Nasya.


Dahi Nasya mengerut mendengar kata 'tolong' yang diucapkan Jimmy. "Kenapa harus minta tolong, mas? bukankah kamu lah yang akan menggendong anak-anak kita nanti?" tanyanya beruntun yang hanya disenyumi oleh Jimmy.

__ADS_1


*


*


"Bunda. Benarkah belum ada kabar dari Nasya?" tanya Gadhing dari seberang telepon.


Entah mengapa hatinya menjadi gundah gulana karena belum mendapatkan kabar hingga tengah malam.


"Gadhing. Jangan katakan kalau kamu masih belum bisa menerima takdir," bunda Fadia seakan tahu apa yang dirasakan Gadhing.


"Bu-bukan, Bun. Perasaanku gak enak saat Nasya pergi dalam keadaan hamil. Bukan karena itu, Bun!"


"Semoga saja begitu. Bunda juga sedang menunggu kabar darinya. Ya sudah. Buya sudah menyuruh bunda tidur. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Gadhing menghela nafas panjang. Ia tidak bisa tidur sedari tadi. Demi menemani kesepian nya, ia menghidupkan televisi.


Matanya terbelalak. "Gak mungkin!!"


❤️


Assalamualaikum kesayangan.


Maaf ya, beberapa hari ini slow update.


aku nya gak enak badan.

__ADS_1


oh iya, dukung juga novel baru aku ya..



__ADS_2