Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
119. JSAMS


__ADS_3

"Mas," panggil Nasya yang tengah baring di dada Gadhing.


Gadhing yang masih mengusap-usap punggung Nasya berdehem saja.


"10 hari lagi kami harus pulang ke Jerman, mas!" cicit Nasya membuat gerakan Gadhing berhenti. Kedua mata mereka bertemu.


"Kamu mau ninggalin mas lagi, sayang? kenapa harus kesana padahal keluarga kamu disini," ucapnya merasa tidak rela ditinggal oleh Nasya lagi apalagi keduanya telah menikah.


Pelukan itu semakin erat. "Apa kamu gak bisa menetap disini?"


Nasya mengangguk. "Tapi kami harusmengurus data yang diperlukan untuk kepindahan kami termasuk tugasku di Perusahaan mas Jimmy," ungkap Nasya.


"Berapa lama? kamu tega ninggalin, mas?" tanya Gadhing tak suka.


Nasya terkekeh. "Aku akan kembali setelah surat-surat kepindahan aku selesai dan sambil nunggu Rispan pindah kesana untuk ngurus perusahaan."


Ya, Nasya telah memaafkan Rispan dan meminta pria itu ikut membantu mengurus perusahaan peninggalan Jimmy. Karena yang ia ketahui selama ini Rispan lah yang selalu membantu Jimmy dalam urusan pekerjaan.


"Jadi kita harus jauh?" tanya Gadhing memastikan.


Nasya menegakkan tubuhnya dan tangan nya sebagai tumpuan. "Hanya sementara, mas. Hanya sampai surat kepindahan kami selesai dan kita bakal tinggal bersama," ucap Nasya menenangkan Gadhing.


Gadhing tidak lagi fokus pada pembicaraan karena pandangan nya lebih memerhatikan hal yang lebih menarik. Dua buah pepaya gantung yang memiliki beberapa cap kepemilikan.


Gadhing menurunkan badan dan mensejajarkan wajahnya dihadapan payuudara Nasya. Ia pun mengulum dan menghisap sesuka hatinya.


Sementara Nasya hanya bisa pasrah dan merespon segala kenikmatan yang diberikan Gadhing.


*

__ADS_1


*


"Kamu di dalam saja. Mas masak air hangat," kata Gadhing pelan. Mereka tidak ingin mengganggu orang rumah lain nya karena keributan yang mereka perbuat.


Nasya hanya mengangguk menurut saja dan menunggu di dalam kamar mandi.


Gadhing merebus air untuk mandi Nasya. Sembari menunggu air mendidih, ia mengambil selembar roti untuk mengganjal perutnya yang lapar karena kehabisan tenaga.


Senyuman nya terus mengembang manakala teringat malam pengantin mereka. Baru pertama kali untuknya berhubungan badan merasa sangat puas lahir dan batin. Bukan hanya sekedar menunaikan kewajiban memberikan nafkah batin kepada sang istri.


Air sudah mendidih segera dibawanya ke dalam kamar mandi dan menuangnya di dalam ember besar, kemudian dicampur dengan air dingin.


Merasa sudah hangat, Gadhing membawa panci keluar dan di letakkan di atas kompor kembali lalu ia masuk ke dalam kamar mandi dan mandi wajib bersama.


"Mata mas itu di jaga," tegur Nasya setelah mereka sudah di dalam kamar. Ia sedang memakai pakaian, sementara Gadhing telah selesai berpakaian.


Setelah berpakaian, keduanya membangunkan keempat anak mereka agar pergi ke Mesjid bersama untuk melakukan sholat subuh berjamaah.


"Kamu itu bisa gak, jangan senyum-senyum kalau ngomong sama laki-laki!" tegur Gadhing merasa tidak suka melihat Nasya tersenyum ketika di sapa warga desa.


Nasya yang baru saja selesai menjawab pertanyaan Azzam menjadi menatap Gadhing heran. "Mas, cemburu?" tanya Nasya menahan senyum.


Gadhing membuang muka dan masih menggandeng kedua anaknya. "Siapa yang cemburu? mas itu gak suka mereka lihat senyuman kamu," sahut Gadhing.


"Idiihh," cicit Nasya disertai tawa. "Sama saja, mas."


*


*

__ADS_1


Siang hari keluarga kecil Gadhing telah sampai di kota Surabaya. "Jadi, mulai sekarang mami akan tinggal di rumah kita, yah?" tanya Emier antusias.


"Iya. Abang Emier tetap duduk, jangan berdiri begitu!" jawab Gadhing seraya menegur anak sulung nya.


"Iya, ayah."


"Mi. Kenapa panggil ayah? bukan nya kata papi Jimmy, cari papi baru bukan ayah baru!" terang Azzam yang sering sekali menonton video peninggalan Jimmy.


Bahkan sebelum Jimmy tiada, banyak sekali video kebersamaan nya dengan anak kembarnya walau dalam keadaan kaki yang seperti itu.


Nasya hanya tersenyum sementara Gadhing mengerti bila kedua anak istrinya ini begitu menyayangi Jimmy walau sudah tiada.


"Apa kalian suka kalau panggil ayah itu papi?" tanya Gadhing." Kebetulan mereka baru saja berhenti di sebuah minimarket.


"Suuukkaa," pekik keempat anak itu bersamaan.


"Baiklah, kalian boleh panggil ayah dengan sebutan papi!" ucap Gadhing membuat keempat anak itu bersorak gembira.


Nasya tersenyum kemudian menggenggam tangan Gadhing. "Makasih banyak, mas."


"Sudah kewajiban mas, Nasyama. Ayo kita pulang," ajaknya.


Di sepanjang jalan Azzam menceritakan apa saja yang ada di video Jimmy. Anak sulung Nasya memang begitu suka menonton video sang papi.


Tak berselang lama, mobil yang dikendarai mereka telah sampai di pekarangan rumah dan melihat sebuah mobil terparkir juga disana.


Semuanya keluar mobil dan masuk ke dalam rumah.


"Dena?!!"

__ADS_1


__ADS_2