
Nasya bangkit dan meminta berkas yang telah dibuat Rispan sebelumnya. Lalu mendekati denah dan ibunya
Tanpa mengatakan apapun Nasya menyerahkan berkas tersebut kepada Dena dan meminta untuk membaca lebih dahulu.
"Silahkan dibaca lebih dulu dan segera tanda tangan. Kalau kamu tidak setuju dengan apa yang ang tertera di sana maka saya akan melaporkan kamu ke polisi."
"Jangan berpikir kamu akan melaporkan saya karena saya bisa membeli hukum tersebut," terang Nasya datar.
Mendengar itu Dena mengepalkan tangannya dengan erat karena merasa kalah oleh Nasya. Siapa yang tidak tahu PT. Istana Tiara dan pemiliknya tetapi selama ini tidak pernah tahu wajah dari istri pemilik Perusahaan tersebut.
karena pada nyatanya Nasya sangat jarang menampakan diri di depan publik dan memberitahu ke semua pelanggannya atau teman-temannya bahwa dirinya adalah istri dari seorang Jimmy Soecipto.
"Cepat tanda tangan. Biaya perawatan ibu mu sudah saya tangani. Saya rasa akibat dari ucapan pembelaan kemarin sudah lebih dari cukup dari apa yang sudah saya berikan."
Dena belum juga menandatangani berkas itu. "Tapi mas Gadhing sudah berjanji untuk menjaga ku," sepertinya belum juga mau menyerah untuk mendapatkan Gadhing.
Nasya balik badan menatap Gadhing yang sedari tadi memerhatikan nya. "Apa mas ada janji?"
Gadhing menggeleng. "Mas gak janji, sayang. Mas hanya mengatakan meminta izin kamu lebih dulu. Tapi mereka salah mengartikan," ungkap Gadhing jujur.
Nasya menatap Dena dengan senyum miring nya. "Cepat tanda tangan."
__ADS_1
Dena tanda tangan kemudian urusan mereka telah selesai dan Nasya berharap tidak ada lagi hal semacam ini terjadi.
Waktu berlalu begitu cepat. Sudah waktunya Nasya dan kedua anaknya kembali ke Jerman. Ada rasa sedih di hatinya tetapi harus kembali karena pekerjaan nya menunggu.
Gadhing sedari tadi mendekap Nasya dari samping seakan tak rela melepas Nasya. "Baik-baik disana, sayang."
Nasya mengangguk. "Mas juga jaga diri. Jangan macam-macam sama yang lain. Kalau mau macam-macam, sama aku saja."
Gadhing terkekeh dan di angguki olehnya. Ia sudah bertekad untuk tidak lagi memperdulikan orang lain, kebahagiaan istri dan anak-anak nya adalah yang utama.
"Zurra pasti kangen papi," celetuk bocah perempuan itu.
Azzura mengangguk kemudian minta turun dan langsung mendekati Buya Niko dan bunda Fadia.
Kedua paruh baya itu pun turut ikut mengantar keberangkatan Nasya beserta kedua anaknya.
Saat mendengar panggilan untuk penumpang, Nasya dan kedua anak nya bangkit diikuti yang lain.
Nasya memeluk bunda Fadia dengan mata berkaca-kaca. "Bunda sehat-sehat ya."
Bunda Fadia mengusap punggung Nasya dengan derai air mata. Sementara Gadhing memalingkan wajah seraya menghapus air matanya. Rasanya tak sanggup harus berjauhan kepada Nasya dan kedua anak sambungnya.
__ADS_1
Nasya beralih memeluk Buya Niko. Tak lupa pula ia mengiyakan setiap nasihat yang diberikan oleh orang tuanya.
Kemudian Nasya kembali menghampiri Gadhing yang tak ingin menatapnya. "Mas. Nasya berangkat, ya?!"
Gadhing memeluk Nasya kembali dengan menahan tangis. "Mas pasti bakal kangen kamu," tutur Gadhing dengan suara serak.
"Sabar, ya. Kami pergi untuk kembali," terang Nasya menenangkan suaminya.
Gadhing melabuhkan kecupan pada seluruh wajah Nasya agar dapat melepas rindu. "Hati-hati disana sayang."
Nasya mengangguk kemudian mencium punggung Gadhing begitu juga si kembar melakukan hal yang sama.
Nasya berjongkok di hadapan Emier dan Asnan. "Mami pergi sebentar. Kalian gak boleh nakal, okey?"
"Oke mami," sahut keduanya bersamaan. Setelah itu Nasya mengajak kedua anaknya pergi dari sana.
Bunda Fadia mendekati Gadhing yang sedang menatap punggung Nasya. "Sudah. Nasya bakal kembali."
Gadhing hanya diam saja. Rasanya tidak rela harus berpisah kepada Nasya. Bagaimana tidak? mereka adalah pengantin baru.
Mereka kembali ke rumah Gadhing untuk makan siang. Lagi-lagi Gadhing terlihat murung, tetapi tetap saja harus menjalani hari dengan semangat.
__ADS_1