
Usai makan siang bersama Dena, Gadhing mengantar kedua putranya pulang ke rumah. Kemudian kembali ke Rumah Sakit karena masih memiliki tugas yang harus diselesaikan.
Di sepanjang perjalanan, Gadhing mengingat ucapan Emier yang selalu menegur Dena jika wanita itu telah larut mencari perhatian darinya.
"Ya ampun anak itu," ucapnya tersenyum disertai gelengan. Gadhing merasa lucu melihat tingkah Emier yang begitu posesif setiap kali Dena ataupun wanita lain yang mencoba mendekatinya.
Gadhing tersenyum mengingat Nasya yang masih berada di Jerman. Walau Emier dan Asnan sering komunikasi dengan Nasya melalui ponsel, sama sekali dirinya tidak pernah bergabung dengan mereka.
Hak itu dilakukan Gadhing karena tidak ingin mengganggu kesehatan hati dan rumah tangga Nasya.
Biarlah ia menjaga jarak demi kebaikan semuanya.
Sesampainya di Rumah Sakit, Gadhing langsung menuju ruangan nya kemudian bersiap untuk mengoperasi pasien.
*
*
Pukul 9 malam Gadhing baru saja tiba di kediaman nya. Ia tampak lelah hari ini karena lebih dari dua orang menjalani operasi caesar.
"Emier dan Asnan telah tidur, pak."
Gadhing hanya mengangguk ketika mendapat laporan dari baby sitter kedua putranya. "Terimakasih," ucapnya tulus.
Baby sitter itu mengangguk lalu pami kembali pulang. Rumahnya tidak jauh dari komplek perumahan Gadhing.
Gadhing memasuki kamar Emier dan duduk di tepi tempat tidur. Di elus nya dengan sayang kepala putra sulung nya.
"Anak kita sudah besar, Ret. Maaf kalau Emier begitu dekat dengan Nasya," gumam Gadhing.
Atensinya beralih ketika ponsel Emier bergetar. Ia melihat siapa yang menghubungi anak sulung nya pada malam hari begini.
Emier memiliki ponsel sendiri khusus ketika di rumah saja. Hal itu diberi karena Gadhing ingin selalu terhubung dengan kedua anaknya ketika ia bekerja.
Gadhing meraih ponsel tersebut lalu melihat siapa yang menghubungi tersebut. Jantung nya berpacu dengan cepat ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut.
Mami❤️
Getaran pada ponsel Emier berhenti membuat hati Gadhing lega. Tetapi beberapa saat kemudian, ponsel itu bergetar kembali.
Gadhing memilih keluar kamar Emier dengan ponsel anaknya itu masih di genggam nya. Ia memilih menuju dapur dan duduk di mini bar.
__ADS_1
Ia menyandarkan ponsel di atas meja yang mengarah ke padanya. Sumpah demi apapun, Gadhing terlihat sangat gugup ketika di pandang Nasya lewat panggilan video.
"Assalamualaikum, mas!" ucap Nasya di seberang telepon.
Gadhing melirik Nasya lalu menunduk. "Waalaikumsalam. Ada apa, Nasyama?" tanyanya Gadhing gugup.
Kemudian menggeleng ketika pikiran nya melayang dimana ia masih mencintai Nasya.
Mencintai?
Entahlah.
Nasya tersenyum disertai gelengan. "Nggak, mas. Sore tadi Emier minta di dongengin malam ini. Sepertinya sudah tidur, ya?"
Gadhing mengangguk. "Sepertinya mereka banyak main tadi, jadi tidur cepat dari biasanya. Kamu apa kabar?"
Nasya ber- oh saja. "Alhamdulillah, sehat. Gimana kabar Buya dan bunda?" tanya Nasya.
Gadhing tersenyum. "Mereka sangat sehat."
*
*
Rispan menatap Novi dan anak nya dengan haru. Tanpa terasa sudah lima tahun meninggalkan istri dan anak nya.
Matanya berkaca-kaca melihat Novi yang masih tampak cantik dan selalu setia menunggu nya.
Ia melangkahkan kaki dengan cepat kemudian mendekap istri dan anak nya itu. "Terimakasih telah setia menungguku," bisiknya kepada Novi dan langsung diangguki oleh wanita itu.
Memang begitulah adanya. Novi begitu setia menunggu kebebasan Rispan. Ia tetap setia dan selalu membesuk sang suami setiap Minggu nya.
Novi mengurai pelukan kemudian menyerahkan sang anak yang mereka beri nama Rafael Aditama.
Rafael tidak merasa asing kepada Rispan karena bocah itu selalu ikut ketika membesuk sang ayah.
"Mas. Maaf, ya. Sekarang kita gak tinggal di apartemen lagi. Aku beli rumah di Perumahan Nasional di komplek yang sama dengan Bu Nasya. Aku juga buka toko grosir pakaian di depan komplek," ucap Novi memang belum menceritakan keadaan nya selama di tinggal Rispan.
Beruntung mereka masih memiliki tabungan dan tabungan itu ia gunakan membeli rumah dan membuat usaha bersama Amanda.
Rispan menoleh menatap Novi. "Maafin aku, Nov!" sebagai seorang pria dan berstatus suami tentu saja merasa tidak berguna.
__ADS_1
Novi yang sedang menyetir menoleh sekilas disertai senyum manis nya. "Jangan merasa sedih, mas. Aku justru bangga melihat kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan."
Rispan hanya tersenyum sebagai tanggapan. Tidak tahu saja jika ia masih merasa bersalah.
Mereka berhenti tepat di toko grosir milik Novi. Wanita itu menjual pakaian wanita. Gamis, one set, daster, dan pakaian wanita lain nya.
"Amanda," panggil Novi yang memang selalu berada di toko sampai siang hari.
Amanda keluar dan melihat Novi. "Ya, mbak."
"Titip toko, ya. Aku pulang dulu ngurus suami," tutur Novi dan disetujui oleh Amanda.
Rispan hanya duduk di dalam mobil seraya memangku Rafael karena sang anak tidur memeluknya.
Rispan terharu melihat Novi yang begitu mandiri selama ditinggal olehnya.
Novi kembali masuk mobil lalu melajukan menuju rumah mereka. Sesampainya di depan rumah, Rispan berdiri menatap rumah itu cukup lama.
Novi menghampiri Rispan kemudian merangkul pinggang suaminya. "Jangan pernah berpikir bahwa kamu menelantarkan kami, mas. Ayo kita masuk," ajak Novi melangkah menuju pintu utama. Ia membuka pintu itu kemudian mempersilahkan Rispan masuk.
Rispan mengedarkan pandangan melihat seisi rumah itu setelah novi mengambil alih Rafael dan memindahkan ke kamar nya.
Rispan duduk di sofa. Betapa terkejutnya ia melihat Novi keluar dari kamar mengenakan lingerie hitam yang transparan.
"Nov," cicitnya.
Novi nyengir kuda. "Jelek ya, mas? apa aku sudah gak pantas memakai lingerie begini karena sudah tua?" tanyanya beruntun setelah berdiri tepat di hadapan Rispan. Ia merasa tidak percaya diri lagi mengenakan pakaian seperti itu.
Rispan terkekeh langsung menarik Novi hingga duduk di pangkuan nya. "Justru aku yang malu karena penampilan ku gak seperti dulu lagi. Aku merindukanmu, sayang!" bisiknya tepat di telinga Novi hingga hembusan nafas Rispan menimbulkan gelanyar aneh pada tubuh Novi.
"Geli, mas!" cicit Novi ketika kecupan demi kecupan mendarat pada leher nya.
"Kamu semakin cantik," puji Rispan melanjutkan aksi nya.
Tanpa di sadari, keduanya telah polos tanpa sehelai benang. "Kita di kamar saja. Nanti Rafael bangun," bisik Novi langsung diangguki oleh Rispan.
Rispan menggendong Novi tanpa melepas pagutan. Mereka memasuki kamar dan menutupnya. Ia menghempas tubuh Novi ke atas tempat tidur.
Rispan langsung memasukkan kejantanannya ke dalam lubang surga dunia. "Apa kamu siap kasih Rafael adik?" bisik Rispan dengan menggerakkan tubuhnya bagian bawah.
"Siap, mas."
__ADS_1