Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
26. JSAMS


__ADS_3

Nasya menyiapkan pakaian untuk Gadhing. Walau sedari tadi hati sudah tak tenang, tetapi ia mencoba tetap tenang.


Pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan wujud Gadhing yang sudah tampak lebih segar dan menambah ketampanannya.


Nasya menatap Gadhing tanpa kedip karena sangat mengagumi suaminya itu.


"Auwh," cicit Nasya ketika mendapat sentilan di kening dari Gadhing.


Gadhing baru menyadari bila Nasya begitu menggemaskan ketika cemberut seperti ini. Di raih dagu Nasya lalu di kecup dan di lu mat sekejap dan membiarkan Nasya masih terpaku atas tindakan nya.


Nasya tersadar lalu mencubit pinggang Gadhing. "Kenapa mas suka sekali mencuri ciuman ku?"


Gadhing terkekeh sembari memakai kaos dan boxer nya. "Kamu melihatku seperti melihat idola saja."


Nasya mencebik. "Tentu saja. Mas itu idolaku tahu."


Gadhing tak menjawab karena tahu seperti apa Nasya bila menanggapi ucapan gadis itu.


Ia mendekati meja rias dan menyisir rambutnya kemudian kembali berjalan mendekati ranjang.


Ia naik ke atas, bersandar pada headboard. Gadhing melambaikan tangan dan menepuk sisi ranjang di sebelahnya.


Dengan malu-malu Nasya merangkak naik ke atas ranjang mendekati dan duduk di sebelah Gadhing. Rasanya seperti mimpi bisa diperlakukan lembut seperti ini pada Gadhing.


"Boleh mas peluk kamu?" tanya Gadhing membuat Nasya terhenyak beberapa saat.


Nasya terpejam merasakan nyaman berada dalam dekapan Gadhing. Sesuatu yang diimpikan namun tak berani berharap.


"Kita mulai hubungan kita dari awal, gimana?" tanya Gadhing menunduk menatap mata Nasya yang juga menatap nya.


"Mas," Nasya tak dapat berkata-kata, rasanya bagai mimpi bisa mendengar pertanyaan tersebut meluncur dari bibir Gadhing untuknya.


"Aku yang salah, Nasyama. Maaf telah membuatmu merasa sakit hingga sekarang. Maafkan mas yang sudah menikahi Noni hanya agar melihatmu patah hati," ungkap Gadhing kemudian mengeratkan dekapan seraya mencium pucuk kepala Nasya.


Nasya tertegun mendengar ungkapan Gadhing. Apakah suaminya itu menikah dengan Noni hanya karena ingin melihatnya menderita?


"Bukankah mas menikahi Noni karena ada perasaan seperti perasaanku pada mas?"


Gadhing tak menjawab. Ia hanya semakin mengeratkan pelukan yang sebelum nya sudah dilonggarkannya.


Gadhing mengurai pelukan, pandangan keduanya bersatu hingga tak tahu siapa yang memulai, bibir keduanya sudah saling bertaut.

__ADS_1


Gadhing dapat merasakan cinta Nasya yang selama ini ia tolak mentah-mentah. Nasya sendiri sudah mulai membalas setiap sentuhan Gadhing.


Ketika keduanya sedang menikmati pagutan penuh cinta, ponsel Gadhing sedari tadi berdering membuat aktivitas mereka terganggu.


Gadhing yang seorang dokter langsung berpikir jika ada hal penting di rumah sakit.


"Sebentar, ya."


Nasya mengangguk dan membiarkan Gadhing menerima telepon tersebut. Dalam hati, ia semakin gusar jika malam ini akan melakukan malam pertama yang panjang bersama Gadhing.


Gadhing meraih ponsel dan dilihat siapa pelaku yang telah mengganggu aktivitas mereka. Dilihat nomor telepon rumah dan langsung ia hubungi kembali.


"..."


"Saya kesana sekarang, Bi."


Nasya mengerutkan keningnya setelah mendengar ucapan Gadhing apalagi raut wajah suaminya berubah menjadi muram.


"Ada apa, mas?" tanya Nasya ketika Gadhing turun dari ranjang lalu memakai celana panjang dan jaket.


Gadhing tampak tersadar jika Nasya berada di sampingnya tadi. Ia langsung mengitari ranjang ke sisi Nasya lalu dikecup kening istri mudanya.


Nasya beringsut turun dari ranjang. "Aku ikut ya, mas."


Gadhing mengangguk kemudian duduk di tepi ranjang menunggu Nasya bersiap. Tak berapa lama kemudian setelah Nasya selesai bersiap, keduanya langsung berangkat ke Rumah Sakit.


*


*


"Seperti yang kita ketahui, Dokter Gadhing. Kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan penyakit kanker yang menyerang leher rahim dan disebabkan oleh human papilloma virus atau HPV."


"Pada awal diderita, kanker serviks kerap tidak menimbulkan gejala sehingga sering kali baru terdeteksi setelah memasuki stadium lanjut."


Gadhing menghela nafas panjang setelah mendengar penjelasan Dokter Dika yang tak lain teman nya juga. Tentu saja ia mengetahui ciri-ciri kanker serviks, namun yang tidak diketahuinya adalah Noni tidak pernah mengatakan keluhan yang dirasakan.


Nasya menyimak penjelasan Dokter Dika dengan seksama. Ada rasa iba menyelimuti hatinya. Mau bagaimanapun Noni adalah sahabatnya sedari kecil.


"Dok. Penyebab kanker serviks itu apa ya?" tanya Nasya polos.


Dokter Dika tersenyum. Ia sudah tahu jika Nasya adalah istri kedua Gadhing. Sebelum mengetahui, sempat tersirat ingin mendekati bahkan hingga sekarang ia mengagumi sepupu tiri Gadhing ini.

__ADS_1


"Menikah atau memulai aktivitas sek sual pada usia muda. Lebih tepatnya di bawah 20 tahun, berganti-ganti pasangan sek sual, berhubungan sek*s dengan laki-laki yang berganti-ganti pasangan, riwayat infeksi di daerah kelamin atau radang panggul, dan masih banyak lagi, Sya."


Nasya mendengarkan secara seksama. Ia tertegun mendengar penyebab penyakit berbahaya itu.


Mungkinkah Noni pernah berhubungan dengan mas Dimas sebelum dinikahi mas Gadhing?


Setelah Gadhing konsultasi pada Dokter Dika, ia mengajak Nasya ke ruang perawatan Noni. Ia juga sudah meminta izin pada Dokter Dika agar yang menangani Noni adalah dirinya.


Di dalam ruang perawatan, Noni ditemani asisten rumah tangga mereka. Istri pertama Gadhing itu tampak tertidur pulas setelah meminum obat.


"Terimakasih, Bi."


"Sama-sama, pak."


Nasya duduk di tikar bersama Bibi Nur dan membiarkan Gadhing melihat keadaan Noni.


Cemburu?


Sudah pasti.


Tetapi Nasya tak ingin egois, karena Noni benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Seminggu tidak bertemu dengan wanita itu, sudah nampak perubahan yang Noni alami.


Wanita itu tampak kurus.


Nasya yang kelelahan, merebahkan diri di atas tikar tersebut. Ia harus segera istirahat karena esok akan membuatkan sarapan dan makan siang buat Jimmy.


Nasya yang sudah terpejam mencebik pelan ketika nama Jimmy terlintas dalam pikiran. Ia menjadi jengkel terhadap orang tersebut.


Gadhing melihat Noni yang tertidur. Sebenarnya, ia juga memikirkan penyebab sakit kanker serviks yang di derita Noni.


Ia tak pernah berhubungan badan dengan wanita manapun selain Noni. Setiap enam bulan sekali, Gadhing memeriksa kesehatan termasuk alat kelamin nya dan hasilnya masih tetap sama, SEHAT.


Gadhing tahu jika dirinya bukanlah pria pertama walau Noni mengakui jika hanya ia pria yang melakukan itu.


Gadhing mengusap wajah menggunakan telapak tangan dengan kasar. Selama ini, sebelum menikah hingga sekarang ia tak pernah tahu siapa pria yang telah merenggut mahkota Noni.


Dan ia tak pernah berusaha mencari tahu karena kesibukan nya menjadi Dokter juga sibuk dengan kebencian tak mendasar pada Nasya.


Ia mendekati Nasya dan duduk di sebelah istri muda nya itu. Di buka jaket dan dijadikan bantal untuknya lalu ikut merebahkan diri di samping Nasya. Perlahan, diangkat kepala Nasya kemudian diletakkan pada lengannya barulah ia ikut tidur.


Aku berharap, semua baik-baik saja setelah ini.

__ADS_1


__ADS_2