Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
44. JSAMS


__ADS_3

PLAK


"Kenapa kamu menjadi laki-laki berengsek, Gadhing?" bentak bunda Fadia.


Wanita paruh baya itu marah besar setelah mengetahui perceraian anak sulungnya dengan Noni.


"Bunda. Maafkan Gadhing." Mata pria itu tampak berkaca-kaca, untuk pertama kalinya sang ibunda berlaku kasar padanya.


"Kesalahan mana yang harus bunda maafkan?"


"Bunda."


"Kenapa kamu menuruni sifat bapak mu itu, Gadhing?" bentak bunda Fadia mengejutkan Gadhing dan Buya Niko.


"Bunda."


"Sayang," ucap Buya Niko.


Buya Niko tak menyangka istrinya mengatakan kalimat yang selama ini selalu dihindari mereka.


Gadhing tak menyangka bunda Fadia mengucapkan kalimat keramat apalagi dirinya sangat membenci pria yang berstatus sebagai ayah kandungnya itu.


Tangan Gadhing terkepal, tanpa mengatakan apapun ia meninggalkan ruang tamu kediaman orang tuanya.


Hatinya sakit diperlakukan kasar untuk pertama kali oleh sang ibunda. "Kenapa aku punya bapak sepertimu," desis Gadhing memukul setir mobil setelah sudah masuk ke mobilnya.


*


*


Buya Niko menyodorkan segelas air minum buat sang istri. "Sayang," ucapnya lembut.


Bunda Fadia menggeleng. "Jangan sekarang, Nik."


Buya Niko mencebik mendengar namanya disebut oleh sang istri. "Apa harus aku kawini dulu baru kamu mau mendengarkan aku, Fadia? sudah aku bilang, Gadhing itu anakku."


Bunda Fadia mendengus lalu memalingkan wajah karena tahu suami nya ini adalah pria lemah lembut tetapi jika menyangkut menasihati maka, sang suami akan berubah menjadi pria yang tegas."


"Ayo masuk ke kamar," kata Buya Niko mengajak bunda Fadia.


"Enggak mau. Semalam sudah," tolak bunda Fadia tetapi percuma karena sang suami sudah menggendongnya masuk ke dalam kamar mereka.


"Setelah ini, minta maaflah pada Gadhing. Pasti dia semakin patah hati atas perkataan kamu tadi," ujar Buya Niko kemudia menghabiskan malam bersama.


*


*


Nasya duduk termenung di meja kerjanya. Sudah beberapa hari ini selalu melaksanakan sholat istikharah dengan mimpi yang sama pula.

__ADS_1


Tangannya mengepal, menyanggah dagu dan sedang melamun. Rasanya masih takut untuk menceritakan kepada seseorang arti petunjuk mimpi itu.


"Melamun saja, Bu?"


Nasya menoleh ke arah pintu masuk kemudian mencebik. "Enggak," sahut Nasya.


"Bingung harus pilih yang mana?" tanya Amanda membuat Nasya menghela nafas berulang kali.


Nasya menggeleng. "Aku sudah sholat istikharah hampir sebulan ini, mbak."


"Benarkah? lalu apa petunjuknya?" Amanda mencondongkan tubuh karena sangat penasaran.


"Mbak. Istikharah bukan sebuah mimpi sebagai jawaban sebenarnya kan? mbak pasti tahu hasil istikharah sesungguhnya adalah kemantapan hati dari yang melakukan sholat istikharah, kan?" berondong Nasya masih dengan wajah lesu.


Amanda mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Nasya. "Lalu? apa kamu ada bermimpi sesuatu dan apa kemantapan hatimu?"


Tanpa permisi air mata Nasya menetes. Selama sebulan ini menyembunyikan kegundahan hati dan butuh tempat cerita namun tidak tahu harus kepada siapa.


"Hati ku sudah mantap dengan mas Jimmy. Tetapi, mimpi itu selalu membayangiku."


Nasya menceritakan bagaimana selama sebulan ini mimpi tersebut sering muncul. Matanya terbayang senyuman Jimmy sedang menunggunya di ujung jalan.


Amanda menggeser bobot tubuhnya mendekati Nasya. Ia pun merangkul sahabat dan sudah dianggapnya sebagai adik. "Jangan sedih, itu hanya bunga tidur. Banyakin istighfar," ucapnya menenangkan Nasya.


Astaghfirullah.


Nasya menegakkan tubuhnya yang tadi sempat bersandar di bahu Amanda. Ia menarik nafas panjang dan mengusap air matanya.


Nasya mengangguk paham. "Makasih, mbak. Oh ya, mbak sama siapa? sama mas Dimas?" Nasya celingukan mencari Dimas.


Amanda terkekeh. "Enggak. Mbak sendiri," sahutnya.


"Tadinya mbak mau makan gratis, tapi karena yang punya Rumah Makan lagi galau, gak jadi deh!"


Nasya cemberut dan membuat Amanda tergelak. Keduanya langsung menuju etalase berisi lauk pauk yang sudah tersedia.


*


*


Calon istri❤️ : Mas sudah makan? mau aku antar makan siang?


Jimmy tersenyum melihat isi pesan WhatsApp Nasya. Padahal baru saja hendak mengirim pesan, tetapi sang pujaan hati sudah mengirim pesan lebih dahulu.


Ia pun segera membalas pesan Nasya dan mengatakan jika dirinya belum makan siang karena baru saja selesai meeting dengan klien.


Senyuman Jimmy tak luntur. Diletak ponsel tersebut di atas meja, tubuhnya bersandar pada sandaran kursi kebesaran nya.


Mata Jimmy terpejam dengan kedua siku tangan bertumpu pada penyanggah kursi, jemarinya saling bertaut.

__ADS_1


Bayangan beberapa tahun lalu ketika Nasya berlari tergesa-gesa di pinggir jalan masih mengenakan seragam putih abu-abu. Ada suatu adegan yang membuatnya kagum terhadap sang pujaan hati pada saat itu.


Disaat ia masih berlari tergesa-gesa, Nasya berbalik arah semula dan membantu seorang nenek menyeberang jalan.


Untuk pertama kalinya melihat seorang gadis masih perduli dengan orang tua di zaman modern seperti ini.


Sejak saat itu, ketika Jimmy kunjungan bisnis ke Malang maka ia akan makan siang di Rumah Makan Cintarasa hingga Nasya tiba di tempat itu.


Tetapi sejak perceraian nya dengan Diana, Jimmy sangat jarang ikut perjalanan bisnis karena fokus mengurus Tiara.


"Assalamualaikum," pekik Nasya di balik pintu ruang kerjanya.


Jimmy membuka mata dan tersenyum lebar. Ia beranjak, berjalan mendekati pintu lalu membukanya.


"Waalaikumsalam," balasnya.


Jimmy berdehem. Sebenarnya, sudah sejak pertama kali bertemu Nasya bertapa kali, ia selalu merasakan jantungnya berdegup kencang.


"Aku bawain makan siang. Maaf ya, lama. Tadi ada teman datang."


"Teman?" tanya Jimmy mengerutkan keningnya seraya duduk di sofa dan diikuti Nasya duduk berseberangan dengan nya.


Nasya mengangguk seraya membuka kotak bekal kemudian menyerahkan kepada Jimmy.


"Makasih sayang."


Nasya mencebik malu, pipinya seketika merona. Hatinya selalu berbunga setiap Jimmy menyebutnya dengan sebutan sayang atau ketika pria itu menyanjungnya.


Nasya baru menyadari dan merasakan bagaimana menjadi ratu di kehidupan seseorang. Di tambah anak dari orang tersebut begitu dekat dengan nya.


"Kamu cantik kalau sedang tersipu malu begini, mas suka."


"Jangan terus menggodaku, mas."


Jimmy terkekeh kemudian melanjutkan makan siang nya. Beberapa saat kemudian, Jimmy telah selesai makan dan Nasya juga sudah membereskan tempat bekalnya.


"Sayang, esok jangan antar makan siang, ya."


"Kenapa, mas?"


"Besok mas pergi bertemu ustadz. Mas mau belajar sholat dan mengaji," kata Jimmy lirih. Jujur saja ia merasa malu mengatakan tujuan nya tetapi, rasanya sejak mengenal Nasya lebih jauh membuatnya sedikit demi sedikit tersadar, ternyata bukan hanya dunia yang harus dikejar.


Nasya masih mendengar ucapan Jimmy merasa terharu. "Aku dukung, mas."


Jimmy tersenyum. "Makasih banyak, Sya. Mas sangat butuh dukungan darimu," ucapnya jujur.


"Katakan, kapan kamu siap mas nikahi?"


Nasya berdehem karena mendadak gugup ditanya seperti pada Jimmy. "Sampai mas sudah siap menjadi imam sholat Tiara dan juga aku," sahut Nasya pasti.

__ADS_1


"Tapi ingat, hijrah karena Allah bukan karena aku."


__ADS_2