Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
104. JSAMS


__ADS_3

Dalam hidup pasti terdapat beberapa hal dan kejadian yang mau tak mau harus kita terima secara ikhlas dan lapang dada. Pada saat sedang menghadapinya, hal tersebut memang seringkali terasa berat dan tak tertahankan. Namun, sebagai manusia kita harus berusaha untuk menjalaninya.


Dukungan dari orang-orang terdekat akan sangat berarti dalam masa-masa sulit seperti ini. Dengan adanya mereka, kita tak akan merasa sendirian dan ditinggalkan.


Sudah enam bulan semenjak kepergian Retno, Gadhing mulai menerima keadaan nya. Walau kedua anaknya tetap saja tidak diterimah keluarga Retno, ia tak mempermasalahkan hal tersebut.


Membenahi hati dan diri nya, merawat kedua anaknya dengan tangan nya sendiri walau ada baby sitter yang menjaga saat ia bekerja.


Putra keduanya diberi nama Asnan Dzaki Firdaus artinya seorang anak laki-laki yang merupakan anak kedua dan memiliki kecerdasan dalam berpikir.


Asna sudah dapat duduk tanpa di sandarkan oleh benda lagi. Anak itu juga sudah tampak ramah dan mudah tersenyum.


Saat ini, duda anak dua itu berada di Malang bersama kedua anaknya.


*


*


Mitoni, dalam tradisi Jawa, adalah serangkaian upacara siklus hidup. Mitoni sendiri berasal dari kata ‘am’ dan ‘pitu’. ‘Am’ menunjukkan kata kerja, sementara ‘pitu’ berarti tujuh atau hitungan yang ke tujuh.


Di kediaman Buya Niko dan bunda Fadia tampak ramai karena sedang bergotong royong mempersiapkan acara mitoni Jimmy dan Nasya.


Ibu Mayang dan Tiara juga pulang ke Indonesia karena acara ini. Saat ini, nenek dan cucu itu tengah istirahat karena baru saja tiba pagi tadi di kediaman bunda Fadia.


Nasya tersenyum menyambut kedatangan suaminya yang baru pulang dari mesjid melaksanakan sholat Jumat.


Jimmy mengecup kening Nasya lalu menunduk, mengelus dan mengecup perut Nasya. "Ada keluhan saat mas pergi?" tanya nya lembut.


Nasya tersenyum lalu menggeleng. "Gak ada, mas. Kami sudah kenyang," terangnya karena semenjak kehamilannya menginjak bulan kelima, ia sudah dapat makan nasi walau sedikit. Makanan nya lebih banyak sayur dan buah saja.


Jimmy membelai kepala Nasya dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. Semenjak kepergian Retno dan membantu Gadhing menangani kasus dari ibu mertua pria itu, Jimmy mulai membiasakan diri jika Nasya dan Gadhing akan terus berhubungan karena masih berstatus keluarga.


Seperti saat ini. Setelah masuk ke dalam rumah, Emier berlari mendekati Nasya. Usia bocah laki-laki itu sudah dua tahun dan sangat pasih dalam bicara dibanding anak seusianya yang lain.


Dengan sigap Jimmy menggendong Emier karena bocah itu merentangkan tangan ke arah Nasya.

__ADS_1


"Gendong papi saja, ya. Mami kan sudah gendong dua adik di dalam perut," tutur Jimmy dan bocah itu mengangguk.


Nasya tersenyum melihat itu. Pikiran nya langsung membayangkan masa depan dimana Jimmy akan bermain di belakang rumah bersama kedua anak mereka, sementara dirinya akan duduk bersama Tiara menyaksikan mereka bertiga.


"Ayo kita makan," ajak Nasya dan berjalan menuju dapur.


Di dalam dapur, Gadhing tengah duduk di lantai bersama Asnan, pria itu sedang menyuapi putra kedua nya.


Di meja makan, Nasya melihat Gadhing begitu telaten menyuapi Asnan sambil menyiapkan makanan untuk Jimmy.


"Kamu sudah makan, 'kan?" tanya Jimmy kepada Nasya.


Nasya langsung menoleh melihat Jimmy mendengar pertanyaan itu. "Sudah, mas."


Jimmy menghela nafas. Ia melihat Nasya sedang memerhatikan Gadhing di pojokan dapur yang sedang memberi makan putra keduanya.


"Panggillah Gadhing, sayang. Sepertinya dia belum makan," kata Jimmy membuat Nasya menatapnya.


"Mas. Jangan salah paham, ya."


Nasya takut bila Jimmy salah paham dan akan ada keributan saat acara nya nanti.


Nasya tersenyum lalu menghampiri Gadhing. "Mas!" panggilnya pelan dan Gadhing langsung menoleh ke arah Nasya.


Kedua mata mereka bertemu dan Nasya segera memutuskan pandangan itu. "Mas makanlah bersama mas Jimmy. Aku yang akan suapi Asnan," kata Nasya.


Gadhing mengangguk dan menyerahkan mangkuk makan siang Asnan.


Gadhing duduk disebelah Emier dan melayani apanyang diminta oleh putra pertamanya sembari makan makanan nya.


"Terimakasih sudah mau direpotkan anak-anak saya, pak!" Gadhing masih saja belum terbiasa memanggil Jimmy dengan sebutan nama karena seperti itulah jika dari tutur keluarga.


"Panggil Jimmy saja," kata Jimmy kemudian diangguki oleh Gadhing.


Selesai makan siang, Jimmy dan Nasya keliling desa untuk meminta air dari 7 sumber.

__ADS_1


*


*


Dengan tema kebaya muslim, Nasya tampak sangat cantik dengan kebaya muslim berwarna biru muda.


Sebagaimana acara mitoni yang pertama kali adalah sungkeman kepada calon ayah atau sang suami.


Nasya bersimpuh dihadapan Jimmy yang duduk di kursi yang telah disediakan. Setelah itu baik Jimmy dan Nasya bersimpuh dihadapan ibu Mayang.


Ibu Mayang memegang kepala Jimmy dan Nasya dengan derai air mata. Ini adalah kali pertama ia melakukan prosesi metoni bagi anaknya. Di pernikahan pertama Jimmy, tidak ada melakukan acara begini karena tahu pernikahan sang anak sedang tidak baik-baik saja.


Setelah sungkeman kepada ibu Mayang, Jimmy dan Nasya beralih bersimpuh di hadapan Buya Niko dan bunda Fadia secara bergantian.


Prosesi selanjutnya adalah siraman. Siraman adalah tahap di mana calon bunda dimandikan. Siraman merupakan simbol pembersihan diri, baik fisik maupun jiwa. Air siraman sendiri berasal dari 7 sumber.


Sama seperti sekarang, Nasya telah di siram sebagai calon bunda. Usai itu, prosesi pecah telur oleh sang calon ayah yaitu Jimmy. Menurut kepercayaan, prosesi ini bermaksud agar melahirkan dengan lancar.


Memutus janur dan bronolan adalah prosesi setelah pecah telur. Kemudian prosesi selanjutnya adalah pecah kelapa.


Calon ayah mengambil salah satu kelapa tersebut dengan mata tertutup. Kelapa yang diambil lalu ditempatkan di area siraman, dan dipecahkan. Hal ini dilakukan untuk memperkirakan jenis kelamin calon bayi.


Kelapa yang digunakan adalah kelapa gading muda yang sudah diukir gambar Kamajaya dan Dewi Ratih.


Setelah siraman dilakukan, calon ibu akan mengeringkan badan dan mengganti busana yang sebelumnya digunakan. Upacara ganti busana ini akan menggunakan 7 jenis kain yang melambangkan 7 bulan dan harapan bagi si bayi. Tujuh kain tersebut melambangkan seperti Sidomukti (Kebahagiaan), Sidoluhur (Kemuliaan), Semen Rama (Agar cinta kedua orang tua bertahan selamanya), Udan Iris (Agar kehadirannya menyenangkan untuk orang di sekitarnya), Cakar Ayam (Kemandirian), Kain lurik bermotif lasem (Kesederhanaan). Pada saat pemakaian kain yang ke-6, para tamu undangan akan ditanggapi “kurang cocok…” dan yang ke-7 dengan ‘cocok.”


Acara selanjutnya dilanjutkan saat setelah pengajian dilaksanakan selepas Maghrib.


*


*


Pengajian telah usai. Tidak lupa pula Jimmy dan Nasya menyantuni anak yatim piatu juga kaum dhuafa.


Selanjutnya adalah prosesi dimana calon ayah dan calon bunda memeragakan berjualan cendol dan rujak. Di mana calon ayah memayungi calon bunda saat berjualan. Uniknya, uang yang dipakai adalah uang koin dari tanah liat atau kreweng.

__ADS_1


Acara terakhir adalah potong tumpeng. Tumpeng berisi dari nasi dengan enam tumpeng kecil di sekelilingnya.


Jimmy memberikan teh hangat kepada Nasya lalu mendekap erat sang istri setelah selesai minum. "Aku bahagia karenamu."


__ADS_2