Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
74. JSAMS


__ADS_3


Jimmy tersenyum melihat Nasya sedari tadi tersenyum bahagia saat berfoto riya bersama Retno dan Amanda.


Jimmy tahu jika Nasya masih menghindarinya setelah prosesi akad nikah beberapa saat lalu.


"Apa anda sudah membaik, pak?" tanya Gadhing baru saja duduk di sebelah Jimmy, diikuti Dimas juga.


Jimmy menatap Gadhing kemudian beralih ke kiri menatap Dimas, setelah itu mengangguk. "Jauh lebih baik," sahutnya.


"Maafkan kesalahan saya, pak."


Jimmy tersenyum tipis. Sangat tipis, hingga tidak dapat dilihat oleh orang lain. "Itu sudah berlalu."


"Mungkin, gak ada insiden dua tahun lalu saya sudah menikah dan memiliki anak bersama Nasya." Goda Gadhing langsung mendapat tatapan tajam dari Jimmy.


"Dan saya pastikan akan merebut Nasya," geram Jimmy merasa tak terima.


Gadhing dan Dimas tertawa melihat Jimmy yang sudah terpancing emosi. "Sepertinya, anda harus memanggil kami mas mulai sekarang," timpal Dimas dan disetujui oleh Gadhing.


Jimmy diam saja karena merasa keberatan. Bagaimana mungkin memanggil pria lain yang usia mereka masih dibawahnya.


"Sayang, kemarilah." Gadhing memanggil Retno.


Terang saja Retno langsung menghampiri suaminya. Tak lupa ia juga mengajak Nasya dan Amanda.


Wajah Nasya kembali datar ketika sudah berada di hadapan Jimmy begitu juga pria itu.


"Kalian harus foto berdua," celetuk Amanda dan disetujui semua orang.


Dengan perlahan Jimmy berjalan mengimbangi langkah Nasya. Keduanya tampak kaku saat hendak di potret.


"Kenapa kalian foto dengan gaya kaku begitu?" gerutu Retno dan Amanda.


Amanda mendekati pasangan itu, ia pun mengarahkan kedua tangan Nasya ke dada bidang Jimmy.


Jantung keduanya berdebar tak karuan, apalagi saat tubuh Nasya merapat dengan tubuh Jimmy.


Puas dengan foto gaya seperti itu, Nasya memanggil Tiara untuk berfoto bersama mereka.


Keluarga yang sempurna.


*


*

__ADS_1


Pukul 10 malam waktu setempat. Semua para undangan telah kembali ke kediaman masing-masing.


"Jaga kesehatan, Jim." Ibu Mayang mengingat kan saat Jimmy baru saja menurunkan Tiara yang tertidur di gendongan nya ke dalam mobil.


Jimmy mengangguk mengerti. "Aku sudah baik-baik saja, ma. Jangan khawatir," ucapnya menenangkan.


Ibu Mayang beralih mendekati Nasya, kemudian memeluk menantunya itu. "Terimakasih sudah mau menerima anak mama lagi. Maafin kesalahan kami dua tahu lalu. Semoga kamu akan mengerti keputusan suami kamu setelah mengetahui yang sebenarnya," ungkap ibu Mayang membuat Nasya mengerutkan dahinya.


Nasya hanya mengangguk walau sebenarnya memikirkan apa yang dikatakan ibu Mayang. Sebenarnya bukan hanya ibu Mayang, orang-orang terdekatnya juga mengatakan hal ini sebelumnya.


"Mama hati-hati, ya. Kami titip Tiara, besok kami akan menjemputnya."


"No, sayang. Kita akan pergi ke Dubai," kata Jimmy membuat Nasya dan ibu Mayang terkejut.


Jimmy mengerti tatapan khawatir ibu Mayang. "Aku gak apa-apa, ma." Tentu saja ia mengatakan hal itu karena sedari tadi hanya duduk saja, saat melakukan pemotretan saja Jimmy berdiri.


Ibu Mayang menghela nafas panjang. "Baiklah. Mama pergi dulu," kata beliau kemudian masuk ke dalam mobil.


Jimmy dan Nasya hanya diam saja. Nasya berjalan lebih dahulu memasuki hotel dimana keduanya akan bermalam, malam ini.


Jimmy hanya dapat tersenyum melihat tingkah Nasya yang menggemaskan, apalagi istrinya itu berjalan dengan hentakan kaki serta wajah yang cemberut. Persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.


Dahi Jimmy berkerut ketika mendapati Nasya berjalan ke arahnya kembali. "Ada apa, Sya?" tanya Jimmy lembut.


"Aku gak tahu kamar kita yang mana," sahut Nasya ketus justru membuat Jimmy ingin tertawa namun di tahan.


"Jangan pegang-pegang, kamu jahat sama aku!" Percayalah, Nasya rasanya ingin marah namun kalimat yang baru saja di ucapkan nya terdengar persis rengekan.


"Sudah sah, Sya. Mas tahu," kata Jimmy lembut. Ia menyadari, waktu dua tahun tidak mengubah keras kepala yang dimiliki Nasya.


Jimmy mengajak Nasya ke kamar president suite yang telah dipersiapkan. Keduanya masuk ke dalam kamar itu dan mematung saat melihat kamar yang sudah di penuhi oleh kelopak bunga mawar dan balon bentuk hati di langit-langit kamar. Serta terdapat lilin aromaterapi di dinding.


Jimmy berdehem membuat Nasya salah tingkah. Tentu saja keduanya tahu maksud dari dekorasi ini di persiapkan untuk mereka.



"Kamu atau mas lebih dulu yang mandi, Sya?" tanya Jimmy lembut.


Tetapi, pertanyaan Jimmy justru membuat pipi Nasya merona. Bagaimana tidak? untuk pertama kalinya ia berada satu kamar dengan Jimmy hanya berdua saja. Apalagi selama dua tahun ini tak pernah bertemu atau bahkan mendengar suara pria itu.


"Aku lebih dulu," kata Nasya berlari menuju kamar mandi melewati taburan kelopak mawar merah.


Jimmy duduk di sofa tunggal menatap dekorasi kamar pengantin ini. Ia menggeleng kecil kepala nyankarena merasa tak yakin akan melewati malam panjang seperti pengantin lain nya.


Sudah hampir satu jam Nasya belum juga keluar kamar mandi, hal itu membuat Jimmy khawatir. Ia pun beranjak menuju pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Sya. Kenapa belum keluar? kamu baik-baik saja, kan?" tanya Jimmy khawatir.


Di dalam kamar mandi, Nasya mondar-mandir karena lupa tidak memiliki pakaian ganti. Bahkan kini hanya mengenakan kimono handuk tanpa sehelai benang apapun dibaliknya.


"A-ku lupa gak Bawak baju ganti," sahut Nasya berteriak di balik pintu.


Ah, ya. Jimmy juga melupakan hal itu. Ia pun segera melihat ruangan itu dan mencari paperbag, berharap Rispan sudah menyediakannya.


Namun sayang, yang diharapkan ternyata tidak ada. Jimmy pun segera mendekati pintu kamar mandi kembali.


"Sya. Gak apa-apa keluar begitu, mas gak akan lihat. Rispan lupa sediakan baju ganti untuk kita," kata Jimmy berteriak.


Nasya mendengar itu semakin gusar. Bagaimana bisa keluar hanya tertutup kimono handuk dan Jimmy tidak akan melihat nya?


Tapi, ia terpaksa keluar dan menebalkan muka dihadapan Jimmy. Sungguh betapa malunya ia saat ini.


Beberapa saat kemudian, Nasya keluar mengenakan kimono handuk saja. Jimmy melihat itu tertegun kemudian menelan saliva dengan kasar.


Mau bagaimana keadaan nya sekarang, Jimmy tetaplah pria dewasa yang pernah mengalaminya. Ia segera memalingkan wajah.


Begitu pun Nasya langsung jongkok di samping ranjang. "Sana mas masuk kenkamar mandi," pekik Nasya membuat Jimmy menoleh ke arahnya lalu membuang muka kembali.


Jimmy masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual mandi. Sama seperti Nasya tadi, ia merasa malu harus keluar dan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang nya.


Jimmy keluar dari kamar mandi dan melihat Nasya masih bersembunyi di samping ranjang.


Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Rispan.


"Kenapa kamu tidak menyiapkan pakaian untuk saya dan istri saya, Ris?" omel Jimmy karena tak biasanya sang asisten lalai.


"Maafkan saya, pak. Toko sudah pada tutup semua dan selamat melewati malam panjang," sahut Rispan girang kemudian mematikan sambungan telepon.


Jimmy merutuki Rispan dan sadar jika ini adalah kesengajaan.


Jimmy menoleh ke arah dimana Nasya berada. Walau bersembunyi seperti itu, tetap saja ia dapat melihat betapa cantiknya sang istri.


"Kita harus bicara, Sya."


❤️


Malam kesayangan emak.


Maaf, ya. Belakangan ini emak gak ikut nimbrung di komentar. Kalau mau langsung chat pribadi emak pasti balas.


Beberapa hari ini emak sibuk karena ada jadwal latihan sholawatan, Yasin Akbar, ada acara hajatan di rumah saudar, dan di rumah emak lagi renovasi kamar mandi.

__ADS_1


Sekali lagi maaf ya..


Sungguh wajah keduanya memerah akibat malu ti


__ADS_2