
Miracle Garden adalah tempat wisata di Dubai yang paling tepat bagi kamu para pecinta kebun dari berbagai jenis tanaman yang memiliki ragam warna.
Nasya tersenyum menatap tanaman penuh warna, Jimmy memeluk sang istri dari berakang lalu mengecup pipi sang istri.
"Kamu buat aku kaget," ucap Nasya lirih.
Jimmy tergelak. "Maaf, sayang."
Seharian Jimmy dan Nasya menghabiskan waktu bersama. Walau selalu ada Rispan mengikuti mereka tak mempermasalahkan hal itu.
Rispan melakukan itu semata-mata menjaga keduanya. Di mobil juga sudah tersedia kebutuhan Jimmy sewaktu-waktu membutuhkan kursi roda dan obat yang masih harus rutin di konsumsi.
*
*
Beberapa terlewati dengan penuh suka cita. Ini adalah hari terakhir mereka di Dubai dan berencana hendak ke Dubai Mall.
__ADS_1
Lima hari sebelumnya, Jimmy mengajak Nasya berkeliling Dubai dan mendatangi tempat-tempat wisata yang terkenal disana. Ia juga mengajak nasya ke Burj Khalifa, Dubai Fountain, dan Gold Seuk.
"Sayang. Bisakah mas jalan sendiri?" tanya Jimmy berulang kali.
Nasya menghentikan dorongan nya, kemudian berjalan lalu menghadap Jimmy. Ia berjongkok di depan sang suami lalu mengecup kedua tangan pria itu.
"Kenapa tetap ngeyel, hm? padahal mas tahu kalau sudah sangat kelelahan?" tanya Nasya beruntun.
Mata keduanya bersitatap. "Mas takut kamu malu," sahut Jimmy lirih.
Nasya menghela nafas panjang. Ia berdiri lalu menangkup wajah Jimmy. Di kecup seluruh wajah sang suami. "Aku gak perduli mereka menilai kita bagaimana. Yang terpenting mas segera sehat. Ingat! mas harus sehat sebelum kita punya anak agar setelah anak kita lahir, mas bisa bermain bersama dengan mereka."
Jimmy memeluk pinggang Nasya dan menyandarkan kepala pada perut sang istri. "Kalau begitu, aku akan bekerja keras agar kamu segera hamil."
Jimmy menengadah. "Jadi ingin memakanmu," ucapnya membuat Nasya melotot.
"Apaan sih mas. Kenapa mesum begitu?" Nasya membuang muka karena malu.
Rispan yang berdiri di belakang, tidak jauh dari mereka hanya dapat menghela nafas panjang. Sekali lagi, hatinya merasa bahagia dan sedih secara bersamaan.
__ADS_1
*
*
Sepanjang mereka berada di Dubai Mall, Nasya merasa pusing menatap bandrol harga yang tertera. Jiwa emak-emak nya meronta-ronta karena merasa buang-buang uang.
Jimmy melihat wajah masam Nasya justru merasa gemas. Ia pun mencubit pipi istrinya itu. "Jangan lihat harganya, sayang. Pilih mana yang kamu suka gamisnya," ujar Jimmy.
"Jangan lupa belikan Buya dan Bunda," imbuh Jimmy lagi karena sedari tadi Nasya memilih pakaian untuk Tiara.
Nasya mengangguk lemah. Ia melanjutkan memilih pakaian muslim buat bunda Fadia dan Buya Niko. Tak lupa memilih untuk ibu Mayang.
"Mas. Aku boleh beli sepatu itu, gak?" tanya Nasya saat melihat sepatu anak laki-laki dari merk ternama.
Jimmy menengadah melihat keantusiasan pancaran wajah Nasya. Ia pun tersenyum. "Boleh. Belikan buat anaknya saja. Ayahnya gak boleh," sahutnya membuat Nasya menunduk menatapnya dengan dahi berkerut.
"Mending aku belikan mas saja dari pada ayah nya Emier. Yang ada aku kenak omel suami dan mbak Retno," celetuk Nasya memasuki toko dimana sepatu itu di jual.
Jimmy terkekeh seraya menggelengkan kepala. "Benarkah kamu sudah melupakan Gadhing, Sya?" gumamnya. Hingga kini rasa takut itu masih melekat dalam hatinya.
__ADS_1