Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
36. JSAMS


__ADS_3

"Mas. Anterin aku ke rumah kak Joko, ya!" pinta Nasya seperti menyuruh pada sopir.


Jimmy menautkan kedua alisnya. Ia tidak merasa keberatan dengan ucapan Nasya yang ketus.


"Ngapain kamu kesana? mending nginap di rumah aku, masakin aku dan Tiara."


Suara Jimmy terdengar tidak suka saat Nasya meminta diantar ke rumah Joko. Jelas saja tidak suka, kan papi Jimmy cemburu. 🤭


Nasya mencebik. "Aku minta anterin kesana untuk cariin rumah kontrakan atau kos khusus perempuan, mas. Bukan yang aneh-aneh," bantah Nasya merasa kesal mendengar ucapan Jimmy seakan melarang nya pergi.


"Kenapa cari rumah lagi?" tanya Jimmy.


"Aku gak mau tinggal disana," sahut Nasya santai.


"Aku yang akan carikan, tapi malam ini biar kamu menginap lagi di rumah ku. Kita ke Rumah Sakit sekarang," ucap Jimmy datar.


Nasya tersentak. "Kenapa harus ke rumah, mas dan kenapa harus ke Rumah Sakit?" tanyanya beruntun.


"Kamu harus pamit sama ibunya mantan suami kamu, Sya."


Jimmi menekan kata mantan suami saat mengatakan kalimat barusan dengan harapan, Nasya sadar bila Gadhing hanya masa lalu.


Sedang Nasya tertegun mendengar jawaban Jimmy yang tak pernah terpikirkan sedari semalam.


Nasya hanya meratapi kesedihan sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaan wanita yang sudah merawatnya sedari bayi.


Bunda Fadia pasti juga merasa sedih karena sebelum Gadhing menikahi Noni, wanita paruh baya itu sangat menginginkan Nasya yang menjadi menantunya.


"Bunda," gumam Nasya lirih yang masih terdengar oleh indera pendengaran Jimmy.


Jimmy menoleh sekilas. "Jangan sedih. Semakin kamu memperlihatkan kesedihan, justru membuat Ibu Fadia sedih."


Nasya melirik kearah Jimmy dan mengangguk.


"Oh ya. Aku sudah menyimpan nomor ponselmu. Awas saja kalau kamu cuekin," Jimmy mengalihkan perhatian agar Nasya tidak bersedih.


Nasya mencebik. "Iya, bawel."

__ADS_1


"Aku, bawel?" ulang Jimmy menatap Nasya tak percaya. Mobil mereka baru saja terparkir sempurna di parkiran Rumah Sakit.


"Iyalah, siapa lagi? dari tadi mas terus saja bicara. Apa mas lupa kalau aku sedang sedih? aku ini baru saja di talak suamiku, mas. Cinta pertama ku. Mas saja enggak tahu gimana rasanya berjuang dapatin cinta seseorang, eh baru saja mulai berkembang malah di campakkan!" cerocos Nasya belum juga menyadari jika mobil mereka sudah berhenti.


Jimmy menghela nafas. Sebenarnya yang bawel itu siapa? awal nya saja calon istriku ini nampak galak. Setelah mengenalnya justru semakin nampak bawel. Tapi Nasya begitu menggemaskan kalau sedang ngomel begini.


"Kamu mirip Ibu Mayang," celetuk Jimmy tanpa menanggapi cerocosan Nasya seraya melepas seat belt.


Sedang Nasya mengerutkan dahi karena tidak mengenal siapa itu ibu Mayang. "Ibu Mayang siapa, mas?" tanya nya seraya melepas seat belt juga.


Jimmy memilih tidak menjawab, memilih keluar lebih dahulu kemudian membukakan pintu mobil bagi Nasya.


Seperti biasa, Nasya akan cemberut bila Jimmy membukakan pintu baginya. Bukan lebay, menurutnya. Hanya saja merasa tidak enak hati dibukakan pintu oleh sang pemilik mobil.


"Makasih, mas. Lain kali jangan dibuka kan, ya? aku gak enak sama mas," kata Nasya jujur ketika keduanya sudah berjalan beriringan.


"Hanya membuka pintu terus kamu nya keluar saja kenapa harus ngomel, Sya? doyan banget ngomel," kata Jimmy jengah tetapi sejujurnya sangat suka melihat Nasya begitu.


Melihat Nasya melotot membuat Jimmy berjalan cepat lebih dahulu.


"Mas," pekik Nasya kesal.


Beberapa saat kemudian, Jimmy lebih dahulu sampai di depan pintu ruang perawatan Noni. Sedang Nasya terus berlari kecil dengan menggerutu apa saja karena begitu kesal dengan Jimmy.


"Auwh.. Sakit, Sya. Kenapa kamu cubit aku?" cicit Jimmy mengusap pinggang nya yang terkena cubitan Nasya.


Saat Nasya hendak mengomel, pintu ruang perawatan terbuka dan terlihat bunda Fadia dan juga Buya Niko hendak keluar.


"Bunda, Buya!" ucap Nasya lirih.


Bunda Fadia tampak tersenyum lalu memeluk Nasya. Kemudian Nasya di ajak masuk ke dalam dan Buya Niko mempersilahkan Jimmy juga masuk ke dalam.


Untuk pertama kalinya Jimmy merasa sedang berhadapan calon mertua, padahal hubungan nya dengan Nasya belum sejauh itu.


Sedang Nasya sedang menahan tangis agar tidak membuat ibu angkat sekaligus mantan mertua nya tersebut tidak merasa khawatir.


"Noni kemana, Bu?" tanya Nasya heran melihat brankar tidak ada Noni.

__ADS_1


"Kemo. Sayang, apa kamu benar gak mau rujuk dengan mas Gadhing?" tanya bunda Fadia lembut.


Nasya melirik ke arah Jimmy dan pria itu langsung membuang muka setelah tatapan mereka bertemu.


Kemudian Nasya beralih menatap bunda Fadia dan menggenggam tangan wanita paruh baya itu. "Maafin Nasya, Bun. Untuk saat ini biarlah mas Gadhing merawat Noni. Nasya gak mau perhatian mas Gadhing terbagi. Nasya ingin istirahat, Bu."


Nasya menghela nafas panjang merasakan dada nya kembali sesak merasakan betapa sakitnya berjuang sendiri untuk mendapatkan cinta seorang Gadhing.


"Apa gak ada kesempatan lagi, nak?" tanya bunda Fadia yang sudah terdengar bergetar.


Nasya tersenyum. "Nasya hanya ingin mas Gadhing fokus pada Noni, Bun. Nasya gak mau jadi orang ketiga lagi," terang Nasya.


Jimmy mengepalkan tangan mendengar jawaban Nasya yang seolah masih memberi peluang untuk Gadhing mendekati gadis itu lagi.


"Bunda, jangan paksa Nasya." kata Buya Niko terhadap bunda Fadia.


Karena Buya Niko sedari tadi memerhatikan Jimmy yang tampak sedang menahan emosi. Sebagai seorang pria, tentu saja tahu bagaimana perasaan Jimmy.


"Maafin Nasya, Bun. Nasya gak mau memaksakan takdir lagi. Kalau pada akhirnya, Nasya dan mas Gadhing berjodoh, pasti suatu saat akan kembali dipertemukan."


"Begitu juga sebaliknya. Jika kami gak berjodoh, mau bagaimanapun dipertahankan tetap akan berpisah pada akhirnya."


Buya Niko dan bunda Fadia mengangguk mengerti dan tak ingin membantah apapun lagi.


Jimmy pun akhirnya mengerti apa yang dimaksud Nasya tadi. Emosinya menjadi sedikit meredah.


Nasya kembali menatap Jimmy dan pria itu mengangguk seakan mengerti jika ia sedang meminta pendapat sekarang adalah waktu yang tepat untuk pamit.


"Bunda. Nasya pamit. Maafin Nasya kalau sering ngeluh mas Gadhing jahat. Sekarang sudah enggak lagi," kata Nasya meminta pamit dan menahan tangisnya.


Bunda Fadia menggeleng lalu mendekati Nasya erat. "Anak bunda yang jahat sama kamu. Maafin mas Gadhing, yang sudah gak adil sama kamu."


Akhirnya kedua wanita beda generasi tersebut menangis saling berpelukan. Dan kedua pria yang melihat itu hanya mampu terdiam.


Jimmy memberikan sapu tangan pada Nasya setelah melepas pelukan dan gadis itu menerimanya. "Makasih, mas."


Jimmy tersenyum dan mengangguk merelakan sapu tangan nya menjadi basah karena air mata dan cairan kental yang keluar dari hidung gadis itu

__ADS_1


Sumpah demi apapun, Jimmy sama sekali tidak terlihat ilfil pada Nasya


Kamu sudah gila, Jim.


__ADS_2