
"Kamu katain mas, bodoh?" tanya Jimmy memundurkan sedikit badan nya agar dapat memandang wajah Nasya lebih seksama.
Nasya cemberut disertai anggukan. "Gimana kalau pak Rispan mau gantikan, mas? dan semisal mas sembuh seperti sekarang, kami sudah menikah? kenapa gak pernah mikir sampai kesana?" cecar Nasya mengomel tetapi tidak dapat bergerak kemana pun karena tubuhnya terus saja di peluk bagai bantal guling.
Jimmy tertegun. Untuk sesaat pikirannya melayang membayangkan apa saja yang dipertanyakan Nasya menjadi kenyataan.
Jimmy menggeleng cepat. "Aku akan merebutnya," desis Jimmy semakin mengeratkan pelukan.
"Gimana kalau aku jatuh cinta dengan pak Rispan?" tanya Nasya.
Mendengar pertanyaan tersebut membuat Jimmy menarik tengkuk leher istrinya kemudian membungkam bibir Nasya dengan bibirnya.
"Aku akan membunuhnya dan menikahimu secara paksa. Aku akan berjuang kembali mendapatkan cintamu," Jimmy menggeram akitlbat pertanyaan Nasya.
Jawaban Jimmy sontak membuat Nasya terkejut. Ia merapatkan tubuh ke tubuh Jimmy.
"Jangan pernah berpikir untuk pergi dalam keadaan begitu. Apa gak ingin aku merawat, mas?"
"Mas harus tahu, cinta ku ke mas itu bukan hanya saat sehat dan senang saja."
Jimmy masih diam menatap Nasya yang tengah mengakui perasaan yang sebenarnya kepadanya. Ia tidak menyangka bila Nasya akan menerima keadaan nya.
"Jadi, apa mas sekarang baik-baik saja?" tanya Nasya.
Jimmy tersenyum lalu kembali mengukung tubuh Nasya. Ia tersenyum kala melihat sang istri terkejut.
"Mas."
Jimmy mengecup bibir Nasya. "Mas masih kuat."
"Tapi nanti mas kelelahan, gimana?" tanya Nasya khawatir.
"Hari ini kita istirahat. Malam nya kita berangkat ke Dubai. Jangan menolak, sayang. Dosa," kata Jimmy kemudian melakukan permainan itu hingga tuntas. Sedang Nasya hanya dapat pasrah dan menikmati permainan yang disuguhkan oleh Jimmy.
*
*
Di rumah Nasya. Buya Niko dan bunda Fadia baru usai melaksanakan sholat subuh. Buya Niko duduk di kursi makan dengan meja bundar yang tidak terlalu besar.
Bunda Fadia mendatangi Buya Niko dengan segelas teh hangat ditangan nya kemudian diserahkan kepada sang suami.
"Makasih, Bun."
__ADS_1
Bunda Fadia mengangguk lalu kepalanya bersandar pada bahu sang suami. Buya Niko langsung mengecup pucuk kepala sang istri.
"Apa kamu sudah tenang sekarang?" tanya Buya Niko.
"Entahlah. Aku masih takut, Niko." Mereka sering menyebut nama masing-masing bila sedang berdua karena pada dasar nya mereka adalah sahabat sedari masa sekolah menengah pertama.
Buya Niko merangkul bahu bunda Fadia. "Semua sudah menemukan cinta mereka, sayang. Bukan kah itu permintaan bang Harry?"
Bunda Fadia menegakkan tubuhnya menatap Buya Niko yang tengah tersenyum. "Bagaimana bisa, Niko? Gadhing menikah dengan Retno tanpa restu mertuanya sampai sekarang. Daffa punya dua istri, dan Daffi sedang dikejar-kejar anak orang kaya. Aku takut," ungkap bunda Fadia lirih.
Buya Niko mendekap tubuh bunda Fadia. Sedari dahulu sangat tahu bagaimana kuat dan tegar nya hati pujaan hatinya ini.
"Tapi kamu jangan lupa kalau Gadhing sangat bahagia dengan keluarga nya sekarang. Anak itu sudah sering tersenyum, kan? Sedang Daffa, sampai sekarang kedua istrinya hidup rukun. Jiwa kepimpinan bang Harry menurun pada anak itu. Dan Daffi, aku yakin bisa mengatasi gadis kaya itu."
"Jangan menangis. Besok malam mau ikut ke Bandara antar Nasya bulan madu?" sambung Buya Niko.
Bunda Fadia mengangguk. "Anak itu sudah menikah. Aku harap, kehidupan yang akan dijalani Nasya gak rumit. Suaminya sangat kaya," katanya.
"Kira-kira suami Nasya pernah makan cilok yang jualan nya di depan gerbang sekolah seperti sekolah kita dulu?" celetuk Buya Niko mengingat jajanan yang sering di makan nya bersama bunda Fadia.
Bunda Fadia terkekeh. "Dan makan telur gulung."
Keduanya tertawa. "Nasya harus menanyakan itu, sayang."
Bunda Fadia mengangguk setuju.
*
*
Setelah usai melakukan hubungan badan, lagi. Nasya tidak langsung tidur walau tubuhnya sangat lelah.
Beruntung ia merasa tidak terlalu sakit pada inti tubuhnya karena Jimmy melakukan nya dengan sangat lembut.
"Mas jangan lihatin aku terus," ujar Nasya cemberut.
Jimmy sedang miring ke arah Nasya dengan kepalanya ditopang oleh satu tangannya. "Sangat cantik, Sya." Jimmy membelai pipi Nasya dengan sangat lembut.
Nasya tersipu malu. Hingga kini ia masih tak menyangka bila sudah menjadi seorang istri dari Jimmy Soecipto.
"Apa masih sakit?" bisik Jimmy semakin membuat pipi Nasya merona.
"Kenapa malu, hm? hanya ada mas disini," Jimmy terkekeh melihat tingkah menggemaskan Nasya.
__ADS_1
"Gak terlalu sakit, mas. Sudah jangan bahas itu lagi, aku malu."
Jimmy terkekeh lalu mengecup bibir Nasya sekali lagi. "Terimakasih sudah menjaga dan memberikan nya untuk mas, Sya."
Tatapan keduanya bertemu dengan tubuh yang masih saling melekat. Nasya membayangkan bagaimana jika ia sudah tak gadis saat di nikahi Jimmy.
"Apa mas akan terima aku jika sudah tak gadis lagi?" tanya Nasya masih menatap Jimmy.
Ditanya seperti itu membuat Jimmy tersenyum. "Bahkan aku berpikir kamu sudah tak gadis karena sudah pernah menikah. Ini suatu anugrah dan kebanggaan untukku. Aku berharap, Tiara akan segera punya adik," ia mengelus perut Nasya dibalik selimut membuat sang empu berkaca-kaca.
"Mas beneran mau punya anak dari aku?" tanya Nasya dengan suara serak menahan tangis.
"Tentu sayang. Kita akan bangun rumah tangga kita dengan cinta," sahut Jimmy.
Nasya memeluk Jimmy untuk beberapa waktu lalu. Ia bersyukur doa yang selama ini ia agungkan agar dipersatukan oleh orang yang tepat terkabul sudah.
"Mas. Sudah terang begini kenapa baju kita belum juga diantar?" tanya Nasya teringat keadaan mereka sekarang.
Jimmy terkekeh. "Masih jam tujuh sayang. Kamu lebih cantik kalau polos begini," akui nya justru mendapat cubitan dari Nasya.
"Mas sudah hubungi Rispan. Mungkin sebentar lagi datang."
*
*
Di gedung hotel yang sama namun lantai berbeda. Rispan mencoba duduk dengan kepala yang masih terasa sangat pusing.
Ia menoleh dan melihat seorang wanita yang dikenalnya. Sh it !
Rispan merutuki dirinya yang kembali mabuk karena patah hati. Patah hati yang ia buat sendiri.
Sudah dari awal perasaan nya terlarang tetapi semakin memaksa melupakan justru semakin besar rasa itu.
Hingga berakhir mabuk-mabukan dan melakukan hubungan badan dengan Novi tetapi pikiran nya selalu kepada Nasya.
Rispan mengacak rambut frustasi karena selalu saja begini.
Novi adalah sekretaris Jimmy dan Rispan sangat tahu bila wanita itu menaruh hati padanya juga mengetahui jika ia menaruh hati pada Nasya.
Novi selalu mengatakan jika dirinya siap menjadi teman ranjang Rispan sampai kapanpun ketika pria itu menginginkan nya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Novi lembut.
__ADS_1
"Hem," Rispan berdehem, ia bangkit langsung memakai pakaian yang berserakan di lantai.
"Sudah saya katakan jangan memanfaatkan keadaan saya yang tidak sadar. Dan satu lagi, kita tidak sedekat itu. Anda hanya bawahan saya," kata Rispan kemudian keluar kamar hotel itu.