Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
71. JSAMS


__ADS_3

Di mansion, para pelayan sangat sibuk mempersiapkan penyambutan sang tuan rumah karena setelah dua tahun dan kejadian yang menimpa sang tuan tak pernah lagi kembali.


Pak Maman, kepala pelayan. Mengarahkan kepada setiap pelayan untuk segera menyambut kepulangan Jimmy.


Semua pelayan telah berbaris di depan pintu saat mobil Jimmy terdengar.


*


*


"Saya bisa sendiri, Ris."


"Anda sudah terlalu banyak beraktivitas sendiri. Biar kali ini saya bantu," Rispan tidak menerima penolakan.


Jimmy hanya pasrah mengikuti apa yang dikatakan Rispan.


"Saya akan membawa Nasya untuk anda, pak."


Jimmy menengadah menatap Rispan yang tengah menatap lurus. "Sudah terlambat. Nasya sudah menikah dan memiliki anak," gumam Jimmy yang masih didengar oleh Rispan.


Rispan tersenyum tipis. "Aku berjanji akan membawa Nasya kembali pada anda. Beliau harus mengerti keadaan anda dahulu," terang Rispan tegas.


Jimmy mendengus kesal. "Jangan mengada-ada, Ris. Kamu mau rebut Nasya dari suaminya, lalu aku datang menyelamatkan Nasya, begitu?"


"Lagu lama," gerutu Jimmy kesal.

__ADS_1


Rispan tersenyum tipis. "Dalam seminggu ini, anda pasti akan menikah dengan Nasya."


Jimmy menggeleng mendengar perkataan Rispan. Ia sudah mengenal asisten nya itu sejak masih lajang, tentu saja tahu apa yang hendak dilakukan Rispan.


"Jangan hancurkan kebahagiaan Nasya, Ris."


"Tapi kebahagian beliau ada ditangan anda, pak."


Jimmy menunduk sedih. "Tapi enggak dengan sekarang. Kami berbeda," ucapnya lirih namun tidak lagi ditanggapi Rispan karena keduanya telah tiba di depan pintu masuk.


Jimmy tidak membalas hormat kepada para pelayan di rumah. Beginilah pria itu, hanya cerita Nasya yang membuatnya banyak bicara.


Untuk pertama kalinya Jimmy menggunakan lift di mansion nya. Terakhir kali menggunakan lift itu ketika Diana sedang hamil.


Dan sekarang Jimmy menggunakan alat itu karena dipaksa oleh Rispan dan juga keadaan.


Jatuh.


Patah hati.


Dan hampir menyerah.


Itulah yang dialami Jimmy.


"Aku akan istirahat sebentar, Ris. Tolong jangan ganggu saya," titah Jimmy.

__ADS_1


Rispan membuka pintu kamar Jimmy tanpa menanggapi ucapan pria itu. Setelah memastikan sudah berada di kamar, ia belum juga keluar dari ruangan tersebut.


Jimmy berdecak. "Pergilah," usirnya.


"Saya akan keluar setelah melihat anda sudah baring di ranjang, pak." Rispan berbicara dengan wajah datar karena tahu kebiasaan sang bos akan berlama-lama di dalam kamar, merenung.


Jimmy mencebik bibir kemudian perlahan naik ke atas ranjang dengan hati-hati.


Benar saja, Rispan pergi setelah Jimmy sudah baring di atas tempat tidur. Jimmy tidak tahu kemana asisten nya itu pergi, yang pasti saat ini sangat ingin beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh dari Jerman ke Surabaya.


*


*


Rispan melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi di jalan tol menuju Malang. Mungkin keputusan yang diambil saat ini bagi sebagian orang akan di nilai salah. Tetapi, keinginan untuk menyatukan kedua insan yang terpisah karena keadaan membuatnya nekad melakukan hal ini.


Kurang lebih tiga jam Rispan sudah sampai di kediaman orang tua angkat Nasya yaitu Buya Niko dan bunda Fadia.


"Assalamualaikum," sapanya langsung di jawab Buya Niko kebetulan hendak keluar rumah.


"Ada perlu apa?" tanya Buya Niko heran karena baru pertama kali melihat Rispan, apalagi pria itu berpenampilan formal.


"Boleh saya masuk?" tanya Rispan sebagai jawaban.


Buya Niko langsung mempersilahkan Rispan masuk dan duduk di sofa.

__ADS_1


"Tujuan saya kemari hendak melamar Nasya untuk bos saya."


__ADS_2