Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
84. JSAMS


__ADS_3

Nasya sudah bersiap hendak ke Kantor Jimmy. Ia teringat dengan ucapan sang suami saat setelah mereka melakukan hubungan badan pada dini hari.


Ia semakin merasa percaya diri mengenakan hijab. Nasya juga sudah mempersiapkan keberangkatan ibu Mayang dan Tiara kembali ke Jerman karena anak sambung nya itu harus melanjutkan sekolah.


Tiara yang sudah biasa hidup berjauhan dengan sang papi merasa tidak masalah jika berpisah kembali. Bukan tidak sayang, tetapi Tiara adalah tipe gadis yang sangat pengertian.


Nasya pergi ke kantor menggunakan mobil khusus untuknya bila ingin bepergian. "Ternyata begini istri sultan. Syukur suamiku mau masakan rumahan. Kalau sampai seperti tokoh novel yang sarapan roti, terus siang spaghetti, lalu steak. Bisa kurus kering aku," gumam Nasya lalu terkekeh sendiri memikirkan jika makanan itu menjadi menu nya setelah menjadi istri orang kaya.


"Apa kenyang makan makanan enak tanpa nasi?" gumamnya lagi membayangkan jika menjadi kenyataan.


"Dasar perut Indonesia," ia terkekeh atas ledekan untuk dirinya sendiri.


Satu jam kemudian, mobil yang di tumpangi Nasya telah sampai di basement. Ia langsung menuju lift menuju lobby kantor sesuai arahan sang suami.


Sebenarnya Jimmy tidak tahu jika Nasya hendak ke kantor, bahkan pria itu mengatakan akan menjemput Nasya pukul 12 siang, tepat saat jam makan siang.


Tetapi, belum juga waktu makan siang Nasya sudah tiba di kantor sang suami karena mengingat Jimmy belum sembuh total. Ia juga membawa obat Jimmy di dalam tas nya.


Banyak pasang mata yang melihat kedatangan Nasya dan disadari oleh sang empu.


"Eh, mbak."


Nasya menoleh ke arah yang memanggilnya. Seorang wanita cantik mendekatinya. Ia menghela nafas saat menyadari tatapan dan senyuman wanita itu tampak meremehkan nya.

__ADS_1


"Kamu pemilik Rumah Makan Cintarasa, kan?" tanya wanita cantik dan seksi itu bernama Dila.


Nasya tersenyum disertai anggukan. "Ada apa, ya?"


"Saya pesan nasi liwet 5 dan nasi Padang 5 juga," kata Dila lagi dengan gaya sombongnya.


Dila melakukan ini demi sahabatnya, Novi. Ia ingin memberi pelajaran kepada Nasya agar sadar diri, tidak pantas dicintai oleh pria berkelas seperti Rispan.


Ya, Dila belum mengetahui bila Nasya adalah istri dari pemilik Perusahaan dimana tempatnya mengais rejeki.


Yang ia ketahui adalah Nasya disukai oleh Jimmy dan Rispan. Itu saja. Tetapi ia tak tega melihat Novi menjadi budak sek*s Rispan demi melampiaskan patah hatinya.


Padahal, Rispan tidak pernah meminta atau mendatangi Novi sekalipun. Wanita itulah yang selalu mengikuti Rispan setelah pulang bekerja.


"Maaf, mbak. Bisa langsung ke Rumah Makan saya saja atau pesan melalui aplikasi, ya."


Dila menyunggingkan senyum miring lalu melipat kedua tangan di dada. "Kenapa harus dengan cara itu kalau yang punya ada di hadapan saya," ucapnya terdengar mengejek.


Nasya mencengkeram tali tas bekal yang ada di tangan nya. Sekuat tenaga ia menahan emosi agar tidak membuncah.


"Tapi saya harus mengantarkan bekal ini kepada su-,"


"Bukankah pesanan saya banyak? lumayan kan nambahin pendapatan Rumah makan kamu," potong Dila sebelum Nasya menyelesaikan ucapan nya.

__ADS_1


Nasya masih mencoba tersenyum. "Baiklah, saya titip ini dulu di meja resepsionis."


Nasya kemudian berjalan mendekati meja resepsionis. "Mbak titip, ya. Ini untuk pak Jimmy," kata Nasya dan diangguki pegawai resepsionis karena sudah mengenal Nasya dua tahun lalu.


Nasya keluar dari gedung itu tanpa menghampiri mobil yang ditumpanginya tadi. Ia lebih memilih naik angkutan umum. Setelah berada di angkutan umu, ia menelepon Joko untuk menyiapkan pesanan Dila tadi.


Nasya berpikir, akan menjadi lebih cepat jika dengan cara begitu. Ia tidak ingin setiba di kantor Jimmy ternyata sang suami sudah makan siang di luar.


"Kenapa gak telepon aku agar antar kesana saja, Sya?" tanya Joko menyerahkan dua kantung plastik kepada Nasya yang baru saja tida di Rumah Makan.


"Jangan khawatir. Antar aku, bisa?" tanya Nasya seraya menatap layar ponsel, melihat jam berapa saat itu.


Joko mengangguk lalu masuk ke ruang belakang, dimana tempat beristirahat nya para karyawan. Ia mengambil dompet dan kunci mobil kemudian menyusul Nasya yang sudah berada di samping mobil nya.


Joko menoleh sekilas karena baru menyadari jika Nasya tampak gelisah. "Kenapa, Sya?"


Nasya menoleh sekilas lalu pandangan nya kurus ke depan. "Aku hanya ingin segera sampai kantor karena ingin makan bersama mas Jimmy," katanya.


"Dasar bucin."


❤️


Maaf tadi emak gak update, berhudung di rumah emak tadi ada pengajian. Maaf ya sekali lagi..

__ADS_1


__ADS_2