
Satu Minggu telah berlalu. Tetapi tampaknya pasangan suami istri itu masih enggan membuka mata. Padahal, kedua anak mereka sudah membaik dan normal. Hanya harus dirawat secara intensif agar berat badan kedua bayi itu bertambah.
"MasyaAllah, Jimmy!" pekik ibu Mayang saat melihat jemari Jimmy bergerak beberapa kali.
Benar.
Perlahan kedua mata Jimmy terbuka. Matanya menyipit sedang menyesuaikan cahaya dari lampu ruangan.
Bayangan dimana dirinya sedang bercanda gurau bersama Nasya lalu secara tiba-tiba mobil oleng ke kiri menabrak pembatas. Sontak Nasya langsung terhempas ke arah kiri dengan keras karena sang istri tidak mengenakan sabuk pengaman.
Sangat jelas pada penglihatan nya jika Nasya menahan sakit. Tidak sampai disitu, karena menabrak pembatas besi, bagian sisi kanan di tabrak oleh mobil di belakang mereka yang melaju kencang sehingga mobil mereka menabrak pembatas beton di seberang arah berlawanan dengan posisi mobil sudah memutar sehingga sisi kiri kembali menghantamnya.
Terlihat jelas oleh mata kepala Jimmy sendiri kepala Nasya mengeluarkan darah dan Nasya sudah tidak sadarkan diri. Ingin rasanya ia menolong sang istri tetapi kakinya terjepit hingga pada akhirnya tidak sadarkan diri.
"Sa-sayang!" panggilnya lirih.
Ibu Mayang mendekati Jimmy. "Nak."
Jimmy beralih menatap wajah ibu Mayang. "Ma. Nasya kemana? anak-anak kami?" tanyanya beruntun.
Ibu Mayang mengelus rambut Jimmy dengan sayang. Tampak wajah wanita paruh baya tersebut masih menyimpan sejuta kesedihan.
__ADS_1
"Istri kamu belum sadarkan diri. Anak kalian sehat dan masih harus di rawat. Kamu fokus pada kesembuhan kamu, ya."
Jimmy menggeleng tak percaya mendengar bahwa Nasya belum sadarkan diri. "Ma. Aku kenapa?"
*
*
Cukup lama baik Gadhing ataupun Rispan tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Karena perasaan mereka sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa kamu bisa ceroboh, Ris?" tanya Gadhing lesu setelah bisa mengatasi kegundahan nya.
"Ma-maaf!" cicit Rispan. Ia benar-benar tidak sengaja melakukan nya dan sekarang setiap saat dilingkupi oleh rasa bersalah.
Saat Rispan hendak menjawab, salah seorang polisi mengatakan jika waktu besuk telah usai. Terpaksa Gadhing menyudahi pembicaraan nya dengan Rispan.
Gadhing tidak mempermasalahkan bagaimana Rispan menyetir kala itu karena tahu sudah takdir Tuhan. Yang sangat disayangkan adalah keluarga Jimmy membawa Nasya tanpa kejelasan informasi bagaimana keadaan wanita itu.
Gadhing memasuki mobil dan melajukan me menuju Rumah Sakit dengan kecepatan sedang.
Sesampainya disana, Gadhing masuk ke dalam ruangan nya untuk menenangkan diri sebelum memasuki jam kerjanya.
__ADS_1
Tangan nya terulur mengambil figuran yang selalu terletak di meja kerjanya. "Mas harap, kamu baik-baik saja disana, Nasyama!" pintanya lirih.
Sudah satu Minggu Gadhing menantikan kabar Jimmy dan Nasyama. Tetapi, tidak ada yang memberi tahukan kabar secara detail dan hal itu justru memicu kecurigaan bahwa kabar mereka sedang tidak baik-baik saja.
Gadhing menghela nafas panjang seraya meletakkan kembali figura tersebut kemudian keluar ruangan menuju ruang praktik nya.
*
*
Pukul sembilan malam Gadhing baru saja tiba di rumah. Ia tidak langsung melihat kedua putranya melainkan memilih membersihkan diri lebih dahulu.
Setelah membersihkan diri barulah Gadhing memasuki kamar Emier lebih dahulu. Betapa terkejutnya ia melihat putra pertamanya duduk diam di atas tempat tidur.
"Emier kenapa, nak?" tanya Gadhing berusaha tenang walau di landa kepanikan.
Emier menoleh lalu memeluk Gadhing. "Emi cayi nda, Ami!" ucap nya dengan bahasa cadel.
Hati Gadhing tercabik-cabik mendengar ucapan Emier. "Bunda 'kan sudah bobok, sayang."
"Kata Ami, mau tepon!" ucap bocah itu semakin membuat hati Gadhing dilanda galau.
__ADS_1
"Mami lagi kerja sebentar. Kalau sudah selesai kerja pasti telepon Emier."