
Nasya berdiri di samping Amanda diatas tanah merah sedang menyaksikan pemakaman Noni.
Malam tadi, Nasya dan Amanda langsung berangkat ke Malang setelah mendapat kabar Noni meninggal dunia dan akan di makam kan di Kota kelahiran wanita itu.
Sebenarnya Nasya sangat menyayangkan Jimmy tidak dapat ikut karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal oleh nya.
Padahal, jika saja Jimmy dapat ikut Nasya berencana untuk mengenalkan Jimmy kepada keluarga nya di Malang.
Tetapi, Nasya mencoba mengerti karena Jimmy memang sangat sibuk.
Nasya juga melihat Gadhing mengadzani jenazah Noni dengan suara bergetar. Ia memejamkan mata meresapi hati, apakah masih ada perasaan tak rela, apakah masih ada perasaan cemburu?
Tidak.
Nasya tidak merasakan dua hal itu lagi. Hatinya benar-benar sembuh dari luka lama yang sudah lama bersemayam di hatinya.
Dan Nasya bersyukur akan hal itu.
Beberapa saat kemudian prosesi pemakaman sudah selesai. Nasya dan Amanda langsung ke kediaman Buya Niko dan bunda Fadia.
Disana juga ada kakak sepupunya, Daffa dan Daffi.
Nasya selalu menghindar ketika Gadhing hendak mendekatinya.
Amanda menggenggam tangan Nasya ketika mereka berdua mendengar bisik-bisik tetangga yang tak sedap mengenai Nasya yang telah menjadi perebut suami orang.
Nasya menghela nafas panjang. "Aku gak apa-apa, mbak."
"Yang sabar. Mereka gak tahu apa yang sudah kamu lewati selama menjadi istri mas Gadhing. Semua sudah terlewati," Amanda selalu bisa menenangkan lawan bicaranya.
*
*
Malam hari para tetangga sudah datang ke rumah untuk menghadiri acara takziah. Orang tua Amanda dan Dimas juga turut hadir.
Selesai acara takziah, Nasya membantu membersihkan ruang tamu dan mencuci piring.
Setelah selesai beberes, Nasya ikut gabung duduk bersama bunda Fadia, ibu Elsa (orang tua Amanda), dan Amanda.
"Jangan terlalu lelah, nak. Kamu dari semalam belum istirahat."
Nasya menegakkan kepala dan tersenyum. "Iya, Bun. Nanti saja," kata Nasya.
Amanda mengajak Nasya duduk di samping rumah karena hendak teleponan dengan Dimas.
"Mbak curang. Masa aku di cuekin, sedang mbak bermesraan."
Nasya cemberut melihat Amanda sedang teleponan. Sementara dirinya hanya berdiam diri.
Tadi saat dipemakaman Jimmy sempat menelepon, tetapi Nasya tidak tahu karena ponsel berada di kamar.
Baru saja Nasya menggerutu karena Jimmy tidak menghubunginya, ponselnya sudah bergetar panggilan video masuk.
__ADS_1
Senyuman nya terukir indah setelah melihat wajah Jimmy. Tetapi, perasaan gugup melanda ketika keduanya sudah mengucapkan salam dan menjawab salam.
Alasan kenapa Nasya merasa gugup karena Jimmy menatapnya begitu dalam tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Kenapa menatapku seperti itu, mas?"
Tampak Jimmy menghela nafas di seberang telepon.
"Aku sangat merindukanmu."
Nasya tersenyum. "Dua hari lagi juga aku pulang, mas."
Jimmy melotot mendengar jawaban Nasya. "Sayang. Kenapa terlalu lama? mas saja besok sudah pulang ke Surabaya."
Nasya terkekeh. "Kenapa mas menjadi manja? aku pulang setelah takziah hari ketiga."
Jimmy mencebik. "Sehari gak lihat kamu saja serasa setahun."
Nasya terkekeh lagi. Melihat Jimmy cemberut seperti itu sangat menggemaskan baginya.
Sedetik kemudian, wajah Jimmy terlihat datar dan Nasya menyadari itu.
"Mas kenapa?" tanya Nasya lembut.
"Kamu di luar sama siapa?"
"Sama mbak Amanda. Beliau sedang teleponan dengan mas Dimas," sahut Nasya kemudian mengklik icon pengubah kamera depan menjadi kamera belakang dan memperlihatkan Amanda sedang teleponan sembari mencabut rumput.
Mata Nasya terbelalak kemudian memutar tubuhnya melihat Gadhing berdiri di belakangnya.
Tanpa mematikan panggilan video, Nasya berdiri. "Ada apa, mas?"
"Mas hanya mau tanya kamu sudah makan atau belum?" tanya Gadhing merasakan cemburu tetapi tak dapat mengungkapkan nya.
"Sudah."
Gadhing mengangguk mengerti kemudian pergi dari sana setelah pamit pada Nasya.
Nasya menghela nafas kemudian mengarahkan ponsel ke wajahnya. "Mas," panggilnya.
"Hem."
"Mas marah?"
Jimmy menggeleng. "Aku hanya cemburu. Aku percaya kamu gak akan duain aku."
"Mas Gadhing hanya bertanya," terang Nasya.
*Jimmy mengangguk. Ia bercerita apa saja yang dilakukan seharian berada di Jakarta.
Ya. Jimmy tidak dapat ikut ke Malang kerena harus ke Jakarta, sementara Tiara bersama pengasuh dan pelayan lain nya di mansion.
Jimmy juga meminta maaf karena tidak dapat ikut ke Malang*.
__ADS_1
"Gak apa-apa, mas. Kita bisa kesini bersama dengan Tiara saat libur sekolah dan mas gak sibuk," Nasya memahami bagaimana sibuknya menjadi pemimpin Perusahaan besar.
"Terimakasih, sayang. Jaga kesehatan disana, jangan makan terlalu pedas. Enggak baik," kata Jimmy menasihati.
Nasya terkekeh serta mengangguk. "Aku akan belajar kurangi pedasnya."
Satu jam telah berlalu akhirnya Nasya pamit untuk menutup panggilan video. "Titip salam sama Tiara, ya. Katakan kalau aku sangat merindukan dia."
"Sama papi nya?" pertanyaan Jimmy membuat Nasya tersipu malu.
"Biasa saja."
Jimmy berdecak. "Dua hari lagi mas jemput di Terminal dan mas gak terima penolakan."
Nasya berdecak tetapi senyuman nya merekah.
*
*
Senyuman Jimmy merekah setelah menutup panggilan video. Gelengan kecil dari kepalanya karena tak menyangka akan merasakan jatuh cinta kembali.
Bahkan Jimmy menyadari jika perasaan nya kepada Nasya lebih dalam daripada terhadap mantan istrinya.
Terhadap Nasya, Jimmy menjadi merasakan kagum secara diam-diam, belajar bersabar karena menginginkan Nasya tetapi harus sabar dan menahan diri karena gadis itu masih milik pria lain.
Jimmy juga merasakan yang namanya berjuang mendapatkan sesuatu tanpa pemaksaan ataupun kecurangan.
Jimmy benar-benar berjuang seperti para pria lain nya. Selalu memberi perhatian, selalu meluangkan waktu untuk menghubungi Nasya, dan selalu membuat gadis itu merasa bergantung padanya.
Jimmy memakai kaos kemudian keluar dari kamar. Saat ini ia berada di rumah orang tuanya.
Ia berjalan menuju dapur kemudian mengambil gelas, gula, kopi hitam. Setelah membuat kopi, Jimmy duduk di mini bar dan mengabaikan Ibu Mayang yang memerhatikan nya.
"Tumben minum kopi, gak alkohol lagi?" pertanyaan ibu Mayang terdengar sedang menyindir.
Jimmy menyeruput kopi tersebut. "Aku sudah hampir satu tahun gak sentuh minuman itu, ma."
Ibu Mayang terkejut langsung mendekati sang putra. Tentu saja ini adalah kabar baik untuknya.
"Benarkah?"
Jimmy mengangguk. "Hanya sedang belajar berhenti merokok sebelum aku menikah," sahut Jimmy tanpa melihat raut wajah ibu Mayang yang berbinar.
Ibu Mayang semakin terkejut. "Menikah? kamu mau menikah? siapa wanita itu, Jim? kamu sudah melihat latar belakang nya kan? sudah dapat dipastikan gak akan selingkuhi kamu?" cecar ibu Mayang.
Jimmy mencebik. Inilah yang membuat Jimmy pusing bila pulang ke rumah orang tuanya.
"Calon ku jauh dari pertanyaan mama. Dia masih gadis. Tapi ingat, bukan gadis matre karena dia punya rumah makan dan kafe di Malang dan Surabaya. Dan terakhir paling terpenting, dia sangat dekat dengan Tiara."
Ibu Mayang semakin terkejut kemudian mencubit Jimmy secara membabi-buta. "Hubungan kalian sudah sejauh itu kenapa enggak pernah kabari, mama? sudah kamu apakah anak gadis orang, Jimmy? sudah kamu bawa ke hotel berapa kali?"
"Hah??!"
__ADS_1