
"Sayang," ucap Jimmy berdiri terpaku diambang pintu menatap sang istri yang berdiri dihadapan nya.
Nasya tersenyum langsung berhambur kedalam pelukan Jimmy. Selama satu Minggu tidak bertemu membuat keduanya saling merindu.
Cukup lama mereka berpelukan hingga Nasya merasakan mual kembali. Ia mengurai pelukan dan berlari menuju kamar mandi begitu saja.
Jimmy terperanjat dan dibuat khawatir oleh Nasya. Ia juga berlari menyusul sang istri ke kamar mandi yang berada di dapur.
Jimmy membantu menyibakkan hijab dan tangan satunya memijat tengkuk leher Nasya dengan lembut.
"Kita ke Dokter, ya. Mas khawatir," kata Jimmy.
Nasya tidak langsung menjawab, ia mencuci mulutnya kembali lalu keluar dari kamar mandi diikuti oleh Jimmy.
Jimmy menuntun Nasya segera duduk di pantry, lalu ia mengambil dan memberi air hangat buat istrinya.
"Besok kita harus ke Dokter. Jangan menolak, sayang."
Nasya mengangguk pasrah dan menurut karena benar-benar lemah malam ini.
Melihat air hangat telah tandas, Jimmy menggendong Nasya menuju kamar mereka. Walau tubuhnya sangat lelah karena selama seminggu benar-benar bekerja tanpa istirahat yang cukup.
Tetapi, melihat istri sedang tidak sehat membuatnya tidak tega. Jimmy merebahkan tubuh Nasya secara perlahan lalu menyelimutinya.
"Apa ini terjadi selama seminggu mas pergi?" tanya Jimmy dan Nasya memalingkan wajah tidak mampu menatap mata mengintimidasi dari suaminya.
Jimmy mencebik dengan ujung bibirnya saat menyadari Nasya tengah berbohong selama seminggu ini padanya.
"Kenapa bohong, hm?" tanya Jimmy duduk di sebelah Nasya, pada tepi ranjang.
Nasya memberanikan diri menatap Jimmy. Rasa bersalah kembali menyeruak dalam hatinya. "Aku takut buat mas jadi khawatir," ucap Nasya lirih.
Jimmy menghela nafas panjang. Tangan nya terulur membelai pipi Nasya menggunakan ibu jari. "Mas ngerti kamu gak ada niat untuk membuat mas khawatir. Tapi, mas sangat menginginkan kamu jujur dan mengasuh apa saja kepada mas, sayang."
Mungkin bawaan janin dalam kandungan membuat Nasya menjadi lebih sensitif. Air matanya terlihat menetes.
Jimmy menghela nafas dan langsung mengusap air mata Nasya.
"Jangan menangis, sayang."
"Maaf," cicitnya dengan suara serak.
__ADS_1
"Katakan apapun yang kamu rasakan dan kamu inginkan. Katakan, sekarang kamu mau apa?" tanya Jimmy lembut.
"Dipeluk kamu, mas."
Jimmy tersenyum. "Sebentar ya, mas mandi dulu."
Nasya mengangguk mengerti dan membiarkan Jimmy mandi. Ia pun mencoba bangkit dan menyiapkan pakaian tidur untuk sang suami.
Setelah membawa pakaian Jimmy dan di taru di pinggir ranjang, Nasya kembali baring ke ranjang menunggu Jimmy selesai mandi.
Jimmy keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang. Ia mendekati ranjang, melihat Nasya sudah tertidur dan atensi nya berpindah dimana pakaian nya sudah tersedia disana.
Senyuman nya terbit lalu segera memakai pakaian lalu naik ke atas ranjang. Kaki nya menyurut masuk ke dalam selimut yang sama dengan Nasya.
Sesuai permintaan sang istri, Jimmy memeluk Nasya dan ikut terlelap.
*
*
"Kamu kangen aku, gak?" tanya Novi menengadah menatap wajah Rispan yang datar.
Rispan hanya berdehem saja. Keduanya kini tengah duduk bersandar pada headboard dengan selimut yang sama.
Sudah lama berlibur dan saat ia pulang justru disuguhkan dengan penampilan istrinya yang sangat seksi.
"Kamu kangen aku gak, sih?" Novi mulai kesal karena Rispan tak juga mengaku.
Rispan berdecak lalu membungkam bibir Novi dengan rakus. Memainkan sesuka hati sampai mencari kepuasan, walau kenyataan nya tidak merasa puas jika hanya sekedar berciuman.
Ciuman itu terlepas saat keduanya kehabisan pasokan oksigen. "Aku merindukan mu. Sangat," ucap Rispan dan langsung mengulang ciuman panas itu.
Novi mengerjap dan mematung mendengar ucapan Rispan barusan. Bahkan sampai tidak merespon perlakuan suaminya itu.
Saat ciuman itu masih berlangsung, Rispan menyentil dahi Novi saat tidak mendapat respon.
Novi selalu dibuat mabuk kepayang dengan sentuhan-sentuhan yang di berikan oleh Risnal sejak pertama kali.
"Ah.. Ris, lebih keras."
Bukan menuruti permintaan Novi, Rispan justru memperlambat gerakan nya sehingga membuat Novi menatapnya heran.
__ADS_1
"Ada anak kita," ucap Rispan mengerti arti tatapan Novi.
*
*
Dokter menyatakan usia kehamilan Nasya sudah menginjak usia 6 Minggu. Dan lebih mengejutkan lagi, Nasya sedang mengandung bayi kembar dan itu membuat Jimmy dan Nasya menjadi lebih bahagia.
"Dok. Akhir-akhir ini, frekuensi muak saya semakin intens, lemas, sakit kepala, dan kadang sampai muntah. Saat muntah rasanya dada sakit, sesak nafas, terasa ada dorongan kuat dari dalam perut. Sudah beberapa hari saya juga susah tidur karena ada rasa nyeri ringan dan cekit cekit seperti maag di perut. Apakah itu termasuk morning sickness yang normal dok?"
Dokter Ana tersenyum mendengar pertanyaan dari Nasya. "Pada seseorang wanita yang hamil pada trimester pertama, biasanya mengalami gejala mual dan muntah di pagi hari atau dikenal dengan nama morning sickness. Gejala ini sering mucul terutama dipicu oleh beberapa hal, misalnya aroma tertentu, makanan pedas, atau suhu panas. Gejala morning sickness ini akan berangsur-angsur hilang pada trimester kedua seiring dengan hormone HCG yang berkurang siring dengan memasuki trimester kedua. Namun beberapa ibu hamil masih mengalami morning sickness hingga akhir trimester kedua. Mual dan muntah merupakan hal yang wajar dalam kehamilan trimester pertama, dan itu juga merupakan tanda kehamilan normal."
"Apa ibu mengalami muntah-muntah dalam jumlah banyak sehingga tidak dapat makan dan minum?"
Nasya mengangguk.
"Muntah mengandung darah atau kecoklatan?"
Nasya mengangguk lagi membuat Jimmy menggenggam erat tangan istrinya. Ia tidak menyangka bila sang istri sampai mengalami seperti itu.
"Minum air putih atau kuah sup. Hindari minuman yang mengandung kafein,seperti kopi. Istirahat yang cukup. Kurang istirahat dapat memicu juga mual dan muntah. Konsumsi makanan yang ringan sesaat setelah bangun tidur. Suplemen zat besi kadang pada beberapa ibu hamil dapat memiliki efek samping mual saat meminumnya. Oleh kareta itu, sebaiknya konsumsi zat besi dapat diminum sebelum tidur. Tenangkan pikiran dan hirup udara segar. Gunakan aromaterapi untuk menenangkan dan menghilangkan rasa mual.
Vitamin B6 dapat diminum untuk mengurangi gejala morning sickness."
"Bapak juga harus selalu ada buat ibu, ya. Peran anda sangat berpengaruh," ucap Dokter Ana langsung diangguki oleh Jimmy.
"Apa ada yang mau ditanya lagi, Bu?" tanya dokter Ana ramah.
Nasya menoleh menatap Jimmy sekilas. "Masih boleh anu gak, Dok?"
Dokter Ana tersenyum sedangkan Jimmy terbelalak dengan mulut menganga. Ia menoleh menatap Nasya tidak percaya dengan pertanyaan sang istri.
Bahkan dirinya sendiri tidak berpikir ke arah sana sejak tadi walau sudah lama berlibur tidak mengunjungi tempat kesukaan nya.
"Boleh. Tapi lakukan dengan pelan dan harus dalam keadaan nyaman, ya. Jangan dipaksa kalau ibu nya tidak mood."
Nasya mengangguk mengerti.
"Dan hindari posisi perut yang terjepit."
Jimmy yang penasaran akhirnya mengajukan pertanyaan. "Emang gaya apa yang boleh, Dok?"
__ADS_1
"Ibu tidur menyamping dan woman on top atau ibu yang di atas," ucap Dokter membuat Nasya menelan saliva.
Sedangkan Jimmy tersenyum penuh maksud.