Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
29. JSAMS


__ADS_3

Nasya tersenyum ketika mendapat kecupan di kening nya dari Gadhing. Masih dengan senyum manis yang salam, Nasya menerima jas putih dan tas kerja sang suami.


Malam hampir larut, Gadhing baru saja pulang kerja dan Nasya setia menunggu kepulangan nya.


"Buya dan Bunda sudah tidur?" tanya Gadhing melihat suasana rumah sudah sepi.


Nasya tersenyum. "Buya dan bunda sudah tidur. Noni juga sudah minum obat dan sekarang sudah tidur," terang Nasya.


Gadhing terharu. Ia mendekap erat tubuh Nasya kemudian melabuhkan banyak kecupan di wajah istri keduanya itu.


"Makasih, Sya. Cintamu terlalu besar untukku tetapi aku hanya bisa membaginya," gumam Gadhing yang masih terdengar oleh Nasya.


Nasya mendongak dan tersenyum. "Ini sudah membuatku cukup bahagia, mas."


Sekali lagi Gadhing mengecup kening Nasya dan Nasya terpejam merasakan kecupan tersebut.


"Bersiaplah. Aku menginginkanmu," bisik Gadhing membuat Nasya tersipu malu.


Keduanya jalan beriringan memasuki kamar Nasya. Setelah berada di dalam, Gadhing masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual mandi.


Nasya hanya diam seribu bahasa karena mendadak gugup. Bagaimana pun, ini adalah pengalaman pertama nya.


Beberapa saat kemudian, Gadhing keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang.


Nasya melihat itu hanya bisa menelan salliva dengan kasar. Detak jantung nya semakin kencang ketika Gadhing berjalan mendekat kearahnya.


"Jangan gugup," kata Gadhing sembari merapikan anak rambut Nasya ke belakang telinga.


"Aku malu, mas."


Gadhing terkekeh kemudian duduk disebelah Nasya. Ia meminta Nasya duduk ke arah nya.


Melihat Nasya masih menunduk, Gadhing meraih dagu Nasya hingga tatapan mereka bertemu.


Secara naluri, bibir mereka bertemu dan saling berpagut. Menyesap dan melu mat mencari kepuasa di bibir pasangan.


"Ikuti gerakan mas , Sya."


Kata Gadhing melepas pagutan. Nasya hanya mengangguk malu.


"Gadhing," pekik seseorang dari luar pintu dengan suara tampak panik.


Gadhing dan Nasya yang masih saling berpagut tersentak, sontak membuat pagutan mereka terlepas.


"Bunda, mas."


Gadhing mengangguk sembari mengusap bibir Nasya yang basah. Nasya bangkit mengambilkan pakaian untuk Gadhing.

__ADS_1


Gadhing menerima dan memakainya dengan buru-buru barulah Nasya membuka pintu. "Ada apa Bunda?" tanya Nasya.


Bunda Fadia merasa tak enak pada kedua anaknya karena terlihat penampilan Nasya berantakan.


"Maaf, bunda ganggu."


Nasya dan Gadhing saling pandang. "Gak apa, Bun. Bunda ada ingin sesuatu?" tanya Nasya lembut.


"Noni dari tadi bunda panggil gak ada sahutan, Nak."


Gadhing dan Nasya mendelik mendengar ucapan bunda Fadia. Tanpa menjawab, keduanya melangkah menuju kamar Noni.


"Noni," panggil Gadhing seraya menepuk-nepuk pipi Noni.


Gadhing dan Nasya tampak khawatir karena Noni tak kunjung merespon panggilan mereka. Tanpa pikir panjang, Gadhing menggendong Noni dengan langkah lebar diikuti Nasya, bunda Fadia, dan Buya Niko.


Langkah kaki Gadhing berhenti, menoleh ke belakang melihat dua wanita beda generasi di belakang nya.


"Pakai hijab dulu," katanya kemudian melanjutkan langkah nya.


Bunda Fadia dan Nasya terkejut kemudian kembali ke kamar untuk bersiap, sedang Buya Niko mengikuti Gadhing membantu membuka kan pintu mobil.


Setelah semua naik ke dalam mobil, Gadhing melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Mau bagaimanapun, Noni adalah istri nya.


Hati Nasya menjadi sakit melihat bagaimana khawatirnya Gadhing terhadap Noni. Ia pun berandai-andai bagaimana bila ia berada diposisi tersebut?


Apakah Gadhing akan sama khawatir atas keadaan nya?


Atau justru merasa baik-baik saja?


Nasya menggeleng menyadari bukan waktu yang tepat untuk cemburu dan berandai-andai ataupun membandingkan.


Sekarang, fokus nya adalah kesembuhan Noni.


*


*


Sesampainya di Rumah Sakit, Gadhing langsung membawa Noni ke ruang UGD dan memanggil suster.


Dari tangan nya sendirilah Noni diperiksa. Rasa khawatir terus mendera hatinya.


Jarum infus dan selang oksigen sudah terpasang di punggung tangan beserta kedua lubang hidung Noni.


Gadhing menghela nafas panjang mengetahui penyakit Noni memburuk. Ia pun keluar dari ruangan tersebut menemui keluarganya.


Gadhing memeluk Nasya setiba sudah berada di luar. Ia sangat butuh ketenangan. "Jangan tinggalin aku, Nasyama."

__ADS_1


Nasya mendongak menatap wajah Gadhing yang sendu. "Aku gak akan pergi sampai kamu sendiri yang memintaku pergi, mas."


Gadhing menangkup wajah kemudian mengecup seluruh wajah Nasya dengan sayang.


"Aku janji, Sya. Aku gak akan meminta mu untuk pergi," tegas Gadhing membuat Nasya merasa bahagia.


Bunda Fadia dan Buya Niko merasa lega melihat hubungan kedua anak mereka sudah jauh lebih baik. Tidak ada lagi merasa khawatir antara keduanya.


Noni sudah di pindah ke kamar perawatan. Nasya sudah tertidur dalam dekapan Gadhing begitu juga bunda Fadia dengan posisi yang sama.


Pagi harinya, Gadhing sudah terbangun tetapi masih enggan berpindah karena Nasya masih tertidur.


Matanya fokus pada bibir ranum Nasya yang begitu menggoda iman. Karena sudah tak tahan, Gadhing mengecup bibir Nasya. Namun, merasa kurang puas akhirnya Gadhing melu mat bibir Nasya membuat sang empu terbangun dan terkejut.


Tetapi Gadhing menahan tengkuk Nasya agar pagutan tetap menyatu. Nasya hanya bisa pasrah dan memejamkan mata menikmati sentuhan bibir Gadhing.


Tanpa mereka sadari, Noni melihat adegan mesra tersebut. Tangan nya terkepal merasa cemburu atas apa yang dilakukan Gadhing terhadap Nasya.


Apalagi semenjak Noni sakit, Dimas tak pernah menjenguk karena selalu ada bunda Fadia dan Buya Niko yang selalu berada di dekatnya.


*


*


Jimmy mondar-mandir di ruang kerjanya dan sesekali menatap pintu masuk ke ruangan nya. Ia sedang menunggu kedatangan Nasya namun tak kunjung tiba.


Jimmy mengangkat dan memundurkan lengan kemeja, melihat arloji sudah menunjukkan pukul 08.32 WIB. Tetapi Nasya belum juga mengantar sarapan.


Jimmy mendekati meja kerjanya kemudian memencet beberapa tombol telepon kemudian menempelkan gagang telepon ke telinga kiri nya.


"Ke Ruangan saya sekarang, Ris."


Beberapa saat kemudian, tampak Rispan masuk ke dalam ruang kerja Jimmy. Dengan wajah datar, Jimmy bertanya pada Rispan. "Dimana Nasya ku, Ris?"


"Mbak Nasya berada di Rumah Sakit, istri pertama Dokter Gadhing drop lagi, pak."


Mendengar jawaban Rispan membuat Jimmy mengepalkan tangan nya sangat erat. Rahang nya mengeras membayangkan Nasya harus kelelahan membantu merawat Noni.


"Persiapkan buket bunga mawar merah dan buah-buahan. Antar saya kesana, Ris."


Rispan tampak tersentak karena kenekatan sang bos. "Tapi, bos."


"Enggak ada tapi-tapian, Ris. Aku ingin bertemu dengan calon istriku," terang Jimmy tak ingin di bantah.


Rispan menggeleng mendengar Jimmy mengatakan Nasya adalah calon istri, sementara Nasya masih menjadi istri Gadhing.


Inilah yang dikhawatirkan Rispan. Jika Jimmy sudah menginginkan sesuatu maka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

__ADS_1


Rispan menunduk hormat lalu pamit keluar ruangan. Ia segera memesan apa yang diinginkan Jimmy.


Semoga memang Nasya jodoh anda, pak.


__ADS_2