Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
82. JSAMS


__ADS_3

Jimmy dan Nasya di sambut dengan riang gembira oleh ibu Mayang dan Tiara. Gadis kecil itu langsung berlari dan memeluk Nasya setiba masuk ke dalam mansion.


"Apa kalian sehat? nggak ada kendala kan?" tanya ibu Mayang.


Jimmy berdecak. "Nggak ma. Bahkan sangat lancar saat aku bekerja keras agar Nasya segera hamil," ia selalu terbuka jika bersama sang ibunda.


Mata Nasya melebar kemudian melayangkan pukulan pekan ke lengan Jimmy. "Mulut kamu itu, mas."


Jimmy terkekeh. "Kenapa sayang? Pingin mas cium, lagi?"


Pertanyaan Jimmy justru membuat Nasya cemberut dan ibu Mayang menggeleng.


"Sudah-sudah. Ayo masuk dan bawa istrimu istirahat," ujar ibu Mayang dan disetujui keduanya.


Ibu Mayang menghela nafas melihat Rispan yang masih berdiri mematung. "Kemarilah," titahnya langsung dituruti Rispan.


Ibu Mayang memberi pelukan kepada Rispan seraya menepuk-nepuk pundak pria itu. "Terimakasih, Ris. Segeralah menikah agar kamu juga ada yang mengurusi," tuturnya.


Rispan hanya memaksakan senyuman.


"Apa mau ibu carikan? mau yang gimana? seorang model, pintar dan seksi?"


"Tidak, terimakasih. Saya masih nyaman seperti ini, Bu."


Ibu Mayang menghela nafas panjang. "Baiklah. Kamu hati-hati dan segera istirahat," kata ibu Mayang menyerah.


Sedari dahulu ibu Mayang tidak pernah tahu bagaimana karakter Rispan sebenarnya. Karena pria itu tidak banyak bicara kepada orang lain.


*


*


"Mi. Makasih ya boneka nya. Barbie nya cantik," ucap Tiara kepada Nasya.


Ibu dan anak itu tengah berada di kamar Tiara karena gadis kecil itu meminta ditemani saat tidur.


Nasya tersenyum lalu mengangguk. "Hadiah yang dibelikan papi sudah kamu buka?"


Tiara mengangguk girang. "Boneka Teddy bear nya bagus, aku suka."


Nasya tersenyum lalu mengacak rambut gadis itu. "Ayo kita segera tidur," katanya kemudian menyelimuti tubuhnya dan juga Tiara.


Belum juga terpejam, pintu kamar Tiara terbuka dan menampakkan Jimmy disana.


Jimmy berjalan kemudian naik dan menyurutkan kedua kaki masuk ke dalam selimut. Tidak lupa ia memasang wajah cemberut kepada Nasya.

__ADS_1


Kening Nasya berkerut menatap heran ke suaminya. "Mas kenapa?"


"Kamu nyebelin, sayang. Kenapa ninggalin aku saat tidur?"


Sedang Tiara menatap heran papi dan maminya. "Papi sudah besar. Kan gak apa-apa tidur sendirian. Aku saja tidur sendiri, Kenapa papi marah sama mami?" celetuk gadis polos itu.


Mata Jimmy melebar mendengar ucapan Tiara sementara Nasya melipat bibirnya karena sedang menahan tawa.


"Dijawab pertanyaan anaknya, mas. Papi kan sudah besar, ya 'kan, sayang?" tanya Nasya pada Tiara seakan ingin memojokkan sang suami.


Jimmy menelan saliva saat menatap Tiara, sedang anaknya itu memasang wajah penuh tanya dan menanti jawaban.


"Mami kan juga lelah, sayang. Jadi papi tadi mau marahin mami karena nggak tidur juga," sahut Jimmy.


"Bukan nya papi marah karena mami ninggalin papi saat tidur?" tanya Tiara kurang puas dengan jawaban Jimmy barusan.


Jimmy mendengus kesal, apalagi saat tatapan nya bertemu dengan Nasya yang seakan mengejek padanya.


"Papi gak tahu, deh. Papi mau tidur disini."


"Papi... Sempit. Tempat tidur Tiara nggak sebesar punya papi," ronta Tiara seraya mendorong bobot tubuh Jimmy yang tidak tergeser sama sekali.


Jimmy mencebik lalu duduk. "Papi tidur dekat mami saja agar kamu nggak kesempitan," dengan cepat Jimmy berpindah posisi menjadi rebahan di belakang Nasya kemudian memeluk istrinya itu.


Nasya membiarkan Jimmy memeluknya dari belakang.


Beberapa saat lalu, ketika Tiara sudah terlelap sangat nyenyak. Tangan Jimmy mulai bergerak ke bagian atas.


Belum puas sampai disitu, tangan Jimmy masuk ke dalam baju tidur Nasya lalu meremas lembut payuudara sang istri dengan sensual.


"Euungh," Nasya melenguh lalu membuka mata kembali. Ia pun berbalik arah menjadi berhadapan dengan Jimmy.


Kedua pasang mata itu saling pandang dengan tatapan sayu mengisyaratkan keduanya ingin melakukan lebih dari apa yang telah dilakukan Jimmy barusan.


"Apa kamu lelah?" tanya Jimmy memastikan. Walau ia begitu menginginkan, tetapi tidak ingin memaksa. Apalagi mereka baru saja melakukan perjalanan sangat jauh.


Nasya tersenyum diiringi gelengan kepala. Tangan nya terulur mengusap pipi Jimmy dengan ibu jari, lalu mengecup bibir sang suami secara singkat.


"Ayo kita ke kamar, mas. Jangan sampai Tiara mendengar dan melihat apa yang kita lakukan," bisik Nasya membuat Jimmy bangkit lebih dulu.


Jimmy langsung menggendong Nasya. Hampir saja wanita itu hendak berteriak jika Jimmy tidak membungkam dengan cara mencium bibirnya.


Jimmya menutup pintu kamar Tiara perlahan, kemudian berjalan menuju kamar mereka yang terhalang satu kamar kosong di antara kamar mereka.


Jimmy mendudukkan Nasya kemudian berjalan menuju walk in closet mengambil salah satu benda yang ia beli saat di Dubai.

__ADS_1


Jimmy tersenyum saat memberi benda itu. Sementara Nasya hanya diam seraya menggigit bibir bawahnya.


"Sayang, jangan menggoda mas dengan menggigit bibir bawah begitu. Mas ingin kamu memakainya lebih dulu," kata Jimmy merasa tidak tahan dengan kelakuan Nasya yang tanpa sengaja semakin memancing biirahii nya.


"Aku malu, mas."


"Pakai, ya. Kan hanya mas yang lihat," ucapnya mengiba. Tapi percayalah, Jimmy saat ini hanya berakting.


Nasya merasa iba langsung menerima.


"Mau kemana, sayang?"


Nasya menoleh ke belakang dimana Jimmy sudah duduk di tepi ranjang.


"Mau ganti ini di kamar mandi."


Jimmy menggeleng. "Disini saja. Mas mau lihat. Mau ya," lagi-lagi ia mengeluarkan jurus nya agar membuat Nasya mengabulkan kemauan nya.


Nasya menghela nafas lalu mengangguk. Dengan malu-malu ia melepas piyama. Saat hendak memakai lingerie merah yang diserahkan Jimmy, suaminya itu berdiri dan menahan tangannya.


Jimmy kebelakang Nasya lalu membuka pengait braa nya. Sontak saja membuat sang empu menahan benda itu.


"Mas," cicitnya memiringkan kepala saat Jimmy sedang mengecup lehernya di sisi berlawanan.


"Jangan dipakai. Mas suka lihat ini kamu menonjol dan menantang," ucap Jimmy seraya mereemas payuudara Nasya dari belakang.


Setelah puas mereemas dan membuat Nasya tak berdaya, ia membantu istrinya memakai lingerie merah cerah itu.


Tanpa basa-basi, ia langsung menyerang dengan sentuhan lembut yang memabukkan.


"Mas. Aku malu," cicit Nasya lagi saat Jimmy mengangkat tubuhnya menjadi diatas pria itu.


"Aahh.."


Lenguhan, desaahan, dan racauan menggema saat Jimmy membantu Nasya bergerak turun naik di atas tubuhnya.


Jimmy benar-benar menggila dibuat tubuh Nasya yang sudah menjadi candu. Bagian tubuh istrinya yang sensitif selalu tersembunyi itu pada kenyataan nya jauh lebih menggiurkan.


Jimmy kembali merubah posisi menjadi mengukung Nasya karena merasakan sebentar lagi akan mencapai puncak kenikmatan.


Tubuhnya perpacu hebat, menghentakkan hingga menimbulkan bunyi yang saling berhadapan.


Eerangan dan racauan semakin menjadi hingga puncak kenikmatan telah sampai.


"Makasih banyak, sayang. Semoga kita akan cepat diberi momongan," ucap Jimmy seraya mengusap pelu keringat di dahi Nasya lalu mengecup seluruh wajah istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2