
Buya Niko mengangguk mengerti, sedangkan bunda Fadia diam seribu bahasa dan sesekali tangan nya mengusap pipinya yang basah karena air mata yang menetes tanpa perintah.
Kedua paruh baya itu sangat menyayangkan apa yang terjadi diantara Jimmy dan Nasya. Tanpa diketahui dua belah pihak, ternyata menjalani kehidupan yang sulit.
"Kesalahan saya yang telah membuat pak Jimmy mengambil keputusan sepihak. Tolong maafkan pak Jimmy dan terima lamaran saya ini," pinta Rispan merendah. Untuk pertama kali dalam hidupnya merendah kepada lawan bicaranya selain pada Jimmy.
Bahkan terhadap ibu Mayang tak sekalipun pernah melakukan hal seperti ini.
"Semua keputusan ada pada Nasya, nak Rispan. Kami gak mau membuatnya tertekan lagi. Setahun belakangan ini keadaan Nasya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya," tutur Buya Niko benar adanya.
Satu tahun pertama banyak cobaan yang dilalui Nasya. Dari stigma buruk yang sudah melekat pada diri gadis itu sebagai orang gagal nikah, perebut suami sahabat sendiri, dan di tinggal pria lain, membuat Nasya mengalami keterpurukan.
Berulang kali masuk Rumah Sakit, menangis dalam kesendirian, mengalami trauma jika di dekati pria lain.
Rispan mengangguk mengerti. "Saya akan berusaha agar Nasya menerima pak Jimmy kembali karena ini adalah kesalahan saya," kata Rispan.
Lama mereka berbincang, setelah merasa tak ada lagi kepentingan Rispan pamit kembali ke Surabaya.
Sudah dua tahun namun rasa bersalah dihatinya tidak kunjung hilang. Padahal Jimmy telah memaafkan dirinya. Tapi, tetap saja tidak membuat Rispan merasa tenang.
*
__ADS_1
*
"Buya. Bagaimana jika yang dikatakan nak Rispan tadi, benar?" tanya bunda Fadia.
Buya Niko menghela nafas panjang. Sepanjang mereka berbicara tadi, ia tidak menemukan kebohongan dari sorot mata pria itu.
"Entahlah, Bun. Buya hanya ingin Nasya bahagia," sahut Buya Niko dan disetujui oleh bunda Fadia.
*
*
Dua hari kemudian, bunda Fadia sudah tiba di Surabaya, lebih tepatnya di kediaman Nasya. Wanita paruh baya itu sengaja datang ke rumah anak angkatnya guna membicarakan perihal lamaran kemarin.
"Sudah, sayang. Kamu sudah makan? gimana keadaan kamu? asam lambung nya masih sering kambuh?" tanya bunda Fadia beruntun membuat Nasya terkekeh.
"Nasya sudah sangat baik, bunda. Jangan khawatir lagi," terang Nasya gemas kemudian mencium pipi bunda Fadia.
Bunda Fadia tersenyum. "Bunda ingin mengatakan sesuatu padamu," wajah bunda Fadia berubah serius membuat Nasya memperbaiki posisi kembali.
"Mau bilang apa, Bun?" tanya Nasya tahu bila sang ibunda hendak berbicara serius.
__ADS_1
Bunda Fadia berdehem. "Gimana hubunganmu dengan Dika?" tanyanya memastikan. Karena yang diketahuiny, Dika tampak dekat dengan Nasya.
Nasya mengedikkan bahu. "Hanya berteman biasa, gak lebih."
Bunda Fadia menggenggam tangan Nasya dengan senyum yang dipaksakan. "Sayang. Apa kamu sudah siap menikah?" tanya bunda Fadia.
Nasya menelan saliva dengan kasar. Ia teringat pernah mengatakan sesuatu pada bunda Fadia.
Yaitu tidak ingin berpacaran atau berhubungan lama dengan pria lagi. Tapi, jika ada seseorang datang kepada Buya Niko dan bunda Fadia buat melamar, dirinya sudah siap menikah. Tetapi harus atas persetujuan kedua orang tua angkatnya.
Karena baginya, pilihan orang tua jauh lebih baik.
"Apa ada yang datang melamarku lagi, Bun?" tanya Nasya karena sudah beberapa kali pria yang tak dikenal Nasya melamar ke kediaman orang tua angkatnya.
Bunda Fadia mengangguk.
"Apa Buya dan bunda menyetujuinya?" tanya Nasya memastikan.
"Belum. Bunda ingin bertanya langsung padamu, bagaimana jika bunda dan Buya setuju?" tanya bunda Fadia membuat Nasya dia beberapa saat.
Masih dalam keheningan Nasya menatap kosong ke depan. Sudah waktunya aku berhenti mencintaimu, pria menyebalkan.
__ADS_1
Nasya memaksakan tersenyum. "Apapun keputusan Buya dan bunda, insyaallah Nasya siap."