
Pagi bisa menjadi salah satu momen spesial di setiap harinya. Pasalnya, pagi adalah saat di mana dibukanya lembaran baru dalam hidup seseorang. Oleh karena itu, pagi seringkali dilalui dengan penuh semangat dan suka cita. Pagi yang segar juga menjadi waktu yang tepat untuk mencari inspirasi.
Nasya tersenyum di atas tempat tidur dengan kedua lutut menjadi tumpuan kedua tangan nya yang terlipat. Ia juga menyandarkan kepala di atas kedua tangan yang terlipat.
Matanya terus memandang ke arah luar jendela dimana sedang turun hujan deras tanpa adanya petir yang menyambar.
Alasan mengapa Nasya tersenyum ialah setelah membaca pesan dari Amanda yang berisi ucapan terimakasih atas kado pemberian Jimmy untuk mereka.
Isi kado tersebut adalah surat kepemilikan sebidang tanah dan bangunan berupa rumah yang berada tidak jauh dari rumah nya saat ini.
Sebagai orang biasa seperti dirinya dan Amanda tentu saja kado pemberian dari Jimmy terlalu besar dan berharga.
Aku rindu, mas. Rasanya aku benar-benar ingin ikut denganmu. Aku gak sanggup hidup seperti boneka begini.
Tapi, aku ingin menghajar mu lebih dahulu karena kamu sudah ghosting aku.
Sudah satu Minggu sejak pulang dari Malang, Nasya tidak pergi ke Rumah Makan ataupun bertemu Gadhing.
Ternyata ia belum siap untuk menjalani hari dekat dengan pria itu karena masih merasakan sakit hati.
Andai emak author ingin menjabarkan bagaimana sikap dan perlakuan Gadhing terhadapnya selama enam tahun belakangan, tentu saja para readers akan memahami bagaimana perasaan Nasya saat ini.
Kelabilan dan menerapkan selalu berpikir positif itulah yang membuat Nasya tetap berusaha mendapatkan cinta Gadhing.
Tapi lihatlah. Perasaan yang hendak berbunga justru dicabut dan dibuang secara paksa oleh pria itu sendiri.
Masih pantaskah Nasya menerima Gadhing kembali?
Haruskah Nasya dikatakan wanita murahan hanya karena dalam waktu satu tahun sudah melabuhkan cintanya pada pria lain?
*
*
"Kamu kok masih di rumah sakit?" tanya Gadhing pada Retno saat baru saja keluar ruangan dan waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.
Sedari tiga tahun lalu semenjak Retno berumah tangga, Gadhing selalu memerintahkan asisten nya itu pulang saat sore hari.
Hal itu dilakukan nya agar Retno juga memiliki banyak waktu kepada suaminya.
Retno menoleh ke arah Gadhing tampak salah tingkah. "Iya, Dok."
Gadhing mengerutkan dahi. "Kalau ada masalah dengan suami cepat diselesaikan, jangan kabur-kaburan begini. Ya sudah, saya pulang duluan."
Retno tersenyum getir menatap punggung Gadhing. Setelah pria itu tak nampak dalam pandangan, ia menghela nafas panjang.
Andai saja atasan nya itu mengerti apa yang terjadi kepada dirinya, apakah akan ada rasa iba?
__ADS_1
Entahlah.
Rasanya Retno sudah enggan untuk pulang ke rumah yang bukan dirinya lagi sebagai ratu disana.
Bagaimana bisa sebuah istana memiliki dua ratu? tentu saja posisi mereka tidak akan pernah seimbang.
Tiga tahun menjadi istri seorang Rian Baskara, anak tunggal dari keluarga yang cukup berada.
Sebagai anak tunggal pastilah keturunan yang terus di nanti-nanti namun tidak kunjung tiba.
Sehingga orang tua Rian memaksa untuk menikah lagi dengan sekretaris nya satu tahun lalu dan sekarang sedang hamil muda.
Sakit.
Perih.
Rasanya ingin mati setelah mengetahui kenyataan pahit yang menimpanya. Tidak ada hal yang mencurigakan sebelumnya, Rian masih bersikap perhatian dan lemah lembut.
Tetapi malam itu, Rian pulang terlambat dan membawa seorang wanita yang diakui sebagai istri kedua, madu yang tak diinginkan Retno.
Belum cukup sampai disitu, Retno dipaksa mertuanya untuk menerima dan merawat Siska, madunya.
Retno mencoba sabar karena sikap Rian masih sama seperti dahulu, manis dan lemah lembut.
Tetapi, setelah sebulan Siska berada di rumah mereka. Perlakuan wanita itu semakin semena-mena padanya.
Kejadian dimana ia di tampar oleh ibu mertua dan Rian karena Siska dengan sengaja menjatuhkan diri di depan Retno yang hendak ke dapur mengambil air minum.
Retno menatap ponsel yang bergetar di tangan nya. Lagi-lagi panggilan telepon dari Rian.
"Ya, mas."
"Sayang. Kamu dimana? kenapa belum pulang?"
Retno tersenyum getir mendengar pertanyaan dan suara lemah lembut Rian. Jika dahulu ditanya seperti ini akan sangat bahagia dan ia pun membalas tak kalah lembut dan manja.
Tetapi sekarang?
Apa gunanya?
"Dokter Gadhing ada operasi besar malam ini jadi aku gak pulang," kilah Retno berbohong.
"Mas jemput, ya. Mas tungguin."
"Gak perlu."
Retno mematikan ponselnya. Hatinya semakin sakit mendengar suara Rian. Ia tak menyangka cinta Rian padanya tidak sedalam cintanya pada suaminya itu.
__ADS_1
Menjalin kasih lima tahun dan memutuskan menikah dan pada akhirnya menjadi seperti ini.
Miris.
*
*
Gadhing tersenyum setelah keluar dari mobil. Ia bercermin di jendela mobil seraya merapikan tatanan rambut dengan satu tangan, tangan satunya memegang sebuah buket mawar merah.
Setelah merasa lebih rapi dan tampan, Gadhing melangkahkan kaki menuju pintu rumah Nasya.
"Assalamualaikum," katanya.
Pintu terbuka menampakkan Nasya masih mengenakan apron dengan hijab instan.
"Waalaikumsalam," sahut Nasya.
"Silahkan masuk, mas."
Gadhing mengangguk mengikuti langkah Nasya dan duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
Nasya tak memberi izin Gadhing untuk masuk ke rumah nya selain di ruang tamu. Hanya Jimmy yang sudah memasuki setiap ruangan rumah itu.
Bukan hanya karena Jimmy yang memerlukan nya, tetapi setiap pria itu berkunjung ke rumah selalu bersama Tiara. Jadi, tak masalah baginya.
Ah, menyebut nama Jimmy membuat Nasya sangat merindukan pria itu lagi.
Tetapi rindunya sedikit terobati karena malam tadi Nasya melaksanakan sholat istikharah dan bermimpi dengan mimpi yang sama. Karena mimpi tersebutlah membuat Nasya melaksanakan sholat tahajud.
Nasya teringat ucapan Jimmy padanya beberapa saat lalu sebelum pulang ke Malang.
"Jika istikharah mu tidak menemukan aku, maka aku akan meminta kamu pada-Nya dalam tahajud."
Nasya tersenyum sembari membalikkan ikan yang di gorengnya. Ternyata, yang singkat justru sangat berkesan. Semoga kamu baik-baik saja dan segera pulang sebelum tiga bulan yang kamu ucapkan itu.
Nasya membawa ikan goreng yang telah matang dan sayur tumis pepaya ke atas meja di hadapan Gadhing. Nasi juga sudah tersaji disana.
"Di makan, mas."
Gadhing mengangguk. "Ini bunga untuk kamu."
"Terimakasih."
Nasya hanya mengangguk dan fokus pada sarapan nya saja. Ya, Gadhing yang meminta sarapan bersama.
Sebenarnya Gadhing merasa curiga dengan perubahan Nasya dan tidak nampaknya Jimmy akhir-akhir ini.
__ADS_1
Gadhing tidak tahu bila bunda Fadia lah penyebab perpisahan antara Nasya dengan Jimmy.
Tetapi, ketiada hadirnya Jimmy membuat Gadhing semakin semangat untuk mendapatkan cinta Nasya lagi.