Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
118. JSAMS


__ADS_3

Jika para pengantin baru akan menghabiskan malam panas sepanjang malam. Berbeda dengan pengantin baru stok lama ini.


Baik Gadhing maupun Nasya sedang sibuk mengibaskan sampul buku yang tak terpakai ke arah Azzam dan Azzura.


Rumah orang tua mereka yang sederhana tidak memiliki fasilitas lengkap seperti di mansion Nasya. Bukan tidak mampu, namun pasangan paruh baya itu menikmati masa tua dengan kesederhanaan.


Azzam dan Azzura yang sedari lahir tinggal di ruang Air Conditioner/AC membuat bocah itu kepanasan dan tidak bisa tidur.


"Sudah tidur, ya!" sekali lagi Nasya menenangkan kedua anaknya.


Pukul 11 malam akhirnya kedua anak Nasya tertidur pulas. Ia segera menyelimuti tubuh keempat anaknya itu.


"Sudah?" tanya Gadhing berbisik karena ia menunggu di kamar itu juga.


Nasya mengangguk lalu keduanya keluar kamar bersama.


"Anak-anak sudah tidur?" tanya Buya Niko yang masih menonton televisi.


"Sudah, Buya. Kenapa belum tidur?" tanya Nasya duduk di samping Buya Niko dan menyandarkan kepala di lengan ayah angkatnya yang sudah tak lagi segagah dulu.


"Buya gak bisa tidur habis minum kopi sore tadi. Audah sana kalian tidur," ucap Buya Niko.


*


*


Di dalam kamar, Gadhing dan Nasya tampak hanya diam saja. Ada kegugupan menyertai dalam diri mereka. Bagaimana tidak? sudah 5 tahun tidak pernah bertegur sapa, justru mereka dihadapkan dengan pernikahan kembali.


"Mas. Boleh aku bertanya?" tanya Nasya.


Gadhing yang duduk di sebelah Nasya menoleh lalu mengangguk.


"Hubungan mas dengan mbak Dena gimana?" tanya Nasya yang memang mengira Gadhing dan Dena memiliki hubungan lebih dari sekedar teman saja.


Gadhing tersenyum. Ia merasa senang bila Nasya ingin tahu tentang kehidupan nya begini, sama seperti dahulu.


"Dena itu pasien mas sekitar 1 tahun lalu. Dia di vonis mandul," ucapnya kemudian menatap Nasya yang tampak terkejut.


"Terus?"


Gadhing semakin mengembangkan senyuman nya karena Nasya menanggapi ceritanya.


"Dia bercerai karena keadaan nya itu. Sejak saat itu kami sering bertemu dan ya seperti itu."


Nasya mengerutkan dahi. "Pacaran?"


Gadhing terkekeh. "Apa seusia mas masih pantas dikatakan pacaran kalau dekat dengan perempuan?"


Nasya mencebik dan memalingkan wajah. Bagaimanapun dirinya seorang wanita. Pastilah menginginkan hubungan yang jelas.


"Tetap saja mas itu beri harapan buat mbak Dena," sungut Nasya tetapi justru membuat Gadhing terkekeh.


"Mas!" pekik Nasya karena kesal dengan Gadhing yang terkekeh.


"Iya, sayang!" sahut Gadhing lembut dengan suara bas nya.

__ADS_1


Entah mengapa Gadhing menyebutnya sayang membuat Nasya memalingkan wajah karena wajahnya panas dan bersemu merah.


Bahkan Nasya mengibaskan kedua tangan nya di depan wajahnya.


Sementara Gadhing melipat bibirnya karena menahan tawa melihat Nasya sedang malu. Ia pun mengubah duduknya menjadi berhadapan dengan Nasya.


"Jangan melihatku begitu, mas!" Nasya semakin kesal karena Gadhing menggodanya dengan tatapan suaminya itu.


"Kamu cantik, dan selalu cantik."


"Bolehkah mas membuka hijab kamu, Nasyama?!" izin Gadhing.


Tubuh Nasya menegang mendengar gading meminta izin untuk membuka hijabnya. Ada rasa yang tak biasa hadir dalam dirinya. Entahlah, Nasya tidak tahu apa arti itu, apakah Cinta lama tumbuh kembali atau memang cinta itu selalu tertanam di hatinya walau Jimmy telah hadir dalam hidupnya?


Yang pasti Nasya tidak ingin mengelak bahwa dirinya kini telah menjadi istri dari seorang Ahmad Gadhing Athafariz.


Nasya mengangguk.


Gadhing menghelan nafas perlahan sebelum tangannya terangkat membuka hijab panjang Nasya. Detak jantung keduanya berdetak kencang ketika hijab itu telah terbuka.


Surai hitam yang diikat dibuka oleh Gadhing dan penampakan rambut hitam yang berkilau. Gadhing memandang dengan takjub kecantikan Nasya yang tidak pernah berkurang bahkan setelah 5 tahun tidak bertemu kecantikan Nasya semakin memukau.


"Nasyama," panggil Gadhing pelan membuat Nasya menoleh ke arahnya.


Karena Nasya menoleh ke arah Gadhing, otomatis wajahnya tertutup oleh rambut panjang nya.


Gadhing merapikan rambut dan menyelipkan di daun telinga Nasya. Sementara Nasya kembali menunduk karena gugup.


"Akhirnya kamu kembali padaku, Nasyama. Begitu banyak kisah kita pada akhirnya bersatu kembali. Maafkan suami mu ini begitu banyak menorehkan luka. Andai dari dulu aku nggak membesarkan luka lama hingga menciptakan benci itu, pasti kita sekarang sudah hidup bahagia."


"Empat, sayang. Anak kita sudah besar," ungkap Gadhing dan diangguki oleh Nasya.


Nasya terkekeh. "Benar. Anak kita empat," ucapnya.


Gadhing tidak mengatakan apapun. Dirinya lebih menarik memerhatikan wajah Nasya dari samping.


"Dan mereka sudah bisa di beri adik. Terutama Azzura, dia harus diberi adik perempuan agar punya teman di rumah," tutur Gadhing membuat tubuh Nasya menegang.


Gadhing menarik lengan Nasya agar mengarah kearahnya. "Apa kamu sudah siap, sayang?"


Nasya memberanikan diri menatap Gadhing kemudian mengangguk.


"Kita sholat dulu ya, mas."


Gadhing mengangguk lalu keduanya keluar dari kamar. Buya Niko sudah tidak ada di ruang tamu. Mereka berwudhu secara bergantian lalu melaksanakan sholat Sunnah sebelum melaksanakan malam pengantin.


Beberapa saat kemudian mereka telah selesai melaksanakan sholat Sunnah. Nasya kembali duduk di tepi tempat tidur lebih dahulu menunggu Gadhing menyimpan sajadah dan mukenahnya tadi.


"Kamu sudah siap?" tanya Gadhing dan diangguki oleh Nasya.


Walau degub jantung Gadhing tidak bisa terkontrol lagi, ia mengecup kening, kedua mata, lalu mengecup bibir Nasya.


Kedua mata mereka bertemu kemudian jarak wajah keduanya kembali terkikis dan bibir itu saling bertemu.


Awal yang lembut, tangan Gadhing mulai merayap masuk ke dalam baju tidur Nasya. Tangan nya mulai merayap tubuh istrinya.

__ADS_1


"Ahh," lenguh Nasya mulai terbakar gaiirah.


Tangan nya dengan lincah membuka kancing sang istri tanpa melepas pagutan. Mengelus, meraba, mereemas payuudara yang masih terbungkus pelindung berenda tersebut.


Gadhing mendorong pelan tubuh Nasya hingga terhempas di tempat tidur. Ia membuka kaos dan celana pendek yang dikenakan nya sendiri.


Nasya memalingkan wajah ketika Gadhing hampir polos.


Gadhing mengukung Nasya kembali. "Kenapa?"


"A-aku malu," sahut Nasya.


Gadhing meraih dagu Nasya kemudian menciumnya kembali tanpa menanggapi ucapan istrinya tadi.


"Ahh, mas!" desaah Nasya ketika Gadhing memainkan payuudaranya.


Gadhing menjeda permainan nya. "Sebut namaku seperti itu, sayang. Aku suka," ucap Gadhing kemudian melanjutkan permainan nya.


Sementara Nasya tak dapat mengungkapkan apa yang dirasakan nya. Rasa yang sudah lama tidak pernah lagi dirasakan nya.


Tubuhnya benar-benar memberi reaksi yang semakin membuat Gadhing bersemangat. Gadhing juga telah membuat tubuh Nasya menjadi polos.


"Aah.. Aahh," tubuh Nasya menggeliat ketika merasakan sesuatu di bawah sana.


Ya, Gadhing tengah menikmati inti kenikmatan tubuh Nasya. Lidahnya menjelajahi inti itu dengan sepuasnya.


Karena ingin memuaskan Gadhing juga, Nasya menuntun Gadhing untuk duduk bersandar di headboard, berganti posisi. Ia membantu Gadhing melepaskan celana dalaam suaminya.


Nasya memandang senjata milik Gadhing yang panjang dan berotot sudah berdiri kokoh. Ia pun menelan saliva nya.


Perlahan Nasya memasukkan senjata Gadhing ke dalam mulutnya.


"Aah, sayang!" Gadhing mengerang saat senjatanya berada di dalam mulut Nasya.


Gadhing tidak menyangka bila Nasya dapat melakukan hal seperti ini. Tangan nya terulur merapikan rambut Nasya agar memudahkan istrinya bermain dengan senjatanya.


"Sayang, sudah!" Gadhing sudah tak tahan dan hendak menuntun Nasya merebahkan diri tetapi istrinya itu menggeleng.


"Biar aku saja, mas."


❤️


Mohon dukungan nya di karya baru aku di akun baru ya sayang..


Klik ❤️ untuk favorit.


Kenapa aku buat di akun baru?


jawaban nya adalah utk ikut lomba penulis pemula ya..


Ini kisah cinta Sania. Akun baru aku namanya Butiran Salju.


Untuk cerita Mario aku buat setelah cerita Malvyn tamat ya..


__ADS_1


__ADS_2