
Ucapan Gadhing ternyata benar adanya. Ia akan menikahi Nasya hari ini di Mesjid yang terdapat di kampung itu.
Gadhing tersenyum melihat Nasya yang baru saja keluar dari kamar mengenakan gamis dan hijab panjang berwarna putih.
Ya, Nasya memilih baju pengantin, keempat bocah itu memakai baju serba putih termasuk Gadhing, orang tua, dan kakak kembarnya.
Beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di Mesjid tersebut. Walau usia sudah menginjak di angka 36 tahun, tetapi tetap saja membuat Gadhing gugup sedari malam.
Pernikahan mereka ini hanya secara agama karena identitas Nasya dan kedua anaknya masih warga Jerman.
Daffa dan Daffi menjadi saksi pernikahan mereka. Gadhing menghela nafas panjang menormalkan degub jantung nya yang tak normal lantaran beberapa menit lagi Nasya akan sah menjadi istrinya lagi.
Lafadzh ijab qobul pun sudah terlafadzh kan. Gadhing mengucapkan dengan satu tarikan napas dan lngsung di sah kan oleh para saksi.
Di tempat Nasya berada, ia tertunduk dengan mata terpejam. Mas. Kata mereka aku bukanlah istri solehah. Aku menerimamu hanya sebagai tempat pelarian ku karena di talak mas Gadhing. Maafkan aku jika benar seperti itu, mas. Hari ini aku telah di nikahi pria yang sama di masa lalu ku. Doakan aku, mas. Semoga kamu merestui pernikahan ku ini.
Setelah sah menjadi istri Gadhing, bunda Fadia memeluk Nasya kemudian menuntun Nasya menuju dimana Gadhing berada.
Gadhing menggeser posisi menjadi menghadap Nasya begitu juga sebaliknya.
__ADS_1
Nasya meraih tangan Gadhing lalu mencium punggung tangan pria itusebagai bentuk bahwa ia menghormatinya.
Gadhing sendiri terharu karena masih diberi waktu bisa hidup bersama dengan pujaan hatinya.
"Boleh mas cium kening kamu?" tanya Gadhing pelan.
Nasya menundukkan wajahnya lagi karena pipinya bersemu merah. Entah mengapa ia merasa malu.
CUP
Jantung keduanya bertalu-talu seakan berubah menjadi rebana yang siap menghibur kita.
"Maaf," ucap Gadhing seperti mengerti bila Nasya kurang nyaman.
*
*
"Assalamualaikum," ucap Rispan dan Novi bersamaan.
__ADS_1
Semua orang yang ada di ruang tamu menoleh ke arah pintu masuk di mana Rispan dan Novi berada.
Nasya melihat keluarga kecil itu langsung berdiri dan mendekati mereka ia menuntun Novi yang menggendong Rafael untuk duduk bersama. Sementara Rispan mengikuti ke mana Novi pergi yang di bawah oleh Nasya.
Tidak terlihat wajah amarah dari semua orang terutama dari Nasya. Nasya sudah menerima takdir yang telah terjadi untuknya.
Setelah menuntun Novi dan Rispan agar duduk bersama keluarganya, Nasya pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman dan cemilan untuk mereka.
Dalam suasana bingung dan juga canggung Rispan memperhatikan orang-orang yang berada di ruang tamu rumah sederhana itu. Sama sekali Jimmy tidak terlihat di sana.
Rispan memerhatikan Nasya yang tampak selalu cantik dengan gamis dan balutan hijab panjang nya.
"Kedatangan saya kesini ingin meminta maaf kepada pak Jimmy dan ibu Nasya karena kejadian 5 tahun lalu. Maafkan saya, Bu!" Rispan bersimpuh di kaki Nasya membuat semua orang terkejut terutama Nasya sendiri.
Nasya menatap Gadhing dan suaminya itu mengangguk. "Saya sudah memaafkan pak Rispan. Tolong jangan seperti ini, nanti mas Jimmy justru sedih melihat anda begini," tutur Nasya.
Gadhing membantu Rispan berdiri dan duduk di tempat semula. Pria itu tampak meneteskan air mata karena masih menyimpan begitu banyak penyesalan dalam hatinya.
"Bolehkah saya bertemu dengan pak Jimmy?" tanya Rispan karena sangat merindukan Jimmy.
__ADS_1
Nasya menunduk dan Gadhing langsung memberi pelukan untuknya. Ia tidak sanggup untuk menjawabnya.
"Maaf, pak Rispan. Pak Jimmy telah tiada," kata Gadhing.