Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
87. JSAMS


__ADS_3

Gadhing hanya diam saja semenjak setengah jam lalu di ruang tamu kediaman Dimas dan Amanda. Bukan tanpa alasan, di ruang tamu tersebut ada Dimas dan Jimmy.


Cukup aneh baginya duduk bersama dua pria lain nya yang pernah berhubungan dengan Nasya.


Gadhing mengambil gelas berisi kopi miliknya lalu diseruput perlahan. Kenapa ia merasa mendadak gugup begini? padahal, Dimas sedang santai bermain ponsel, sementara Jimmy sedang fokus pada MacBook.


*


*


Sama halnya yang dirasakan Jimmy, ia merasa canggung dan mencoba menekan rasa gelisah pada dirinya karena Gadhing juga berada di kediaman Dimas dan Amanda.


Jika saja tahu bila Gadhing juga berada disini, sudah pasti akan menunda kedatangan mereka melihat bayi Amanda.


Walau Jimmy sudah percaya dengan cinta yang diberikan Nasya untuknya, tetap saja ia merasa belum bisa percaya kepada Gadhing.


Apalagi mengingat bagaimana sikap dan tatapan mata Gadhing saat di taman bersama Nasya dan Emier sebelum ia menikahi Nasya.


Sangat terlihat jelas gesture tubuh Gadhing menunjukkan perhatian seorang pria terhadap wanita bukan seorang kakak kepada sang adik.


Akhirnya Jimmy memilih bekerja sembari menunggu Nasya puas melihat bayi Amanda.


*

__ADS_1


*


Di dalam kamar, Nasya sedang menggendong bayi laki-laki Dimas dan Amanda yang diberi nama Reza Bimantara.


Tetapi sedari tadi Emier tampak cemberut merasa cemburu karena Nasya lebih memilih menggendong Reza.


"Ami."


"Ami," panggil Emier pada Nasya yang belum bisa menyebut Mami dengan sempurna.


Nasya menoleh melihat Emier merentangkan tangan minta digendong olehnya. Amanda dan Retno terkekeh melihat tingkah Emier.


"Oh, Abang Emier. Kamu mau mami gendong juga?" tanya Nasya lembut dan diangguki Emier.


Jujur saja, ia menyimpan rasa cemburu kepada Nasya karena sudah sering melihat Gadhing melamun atau bahkan saat suaminya itu sedang sakit.


Ya, Gadhing mempunyai kebiasaan ketika sakit, membuat Retno cemburu. Tetapi, ia juga tidak bisa berbuat apapun karena tahu bagaimana dahulu Nasya selalu berbuat apapun demi bisa dekat dengan Gadhing, dan Gadhing tidak pernah menolak walau memasang wajah datar, masam, dan ketus kepada Nasya.


Nasya membawa Emier keluar kamar. Amanda memerhatikan Retno dengan seksama.


"Mbak baik-baik saja?" tanya Amanda.


Retno menoleh menatap Amanda disertai anggukan. "Ya."

__ADS_1


"Nasya dan Mas Gadhing besar dilingkungan dan rumah yang sama. Mungkin akan ada masa dimana kita merasa cemburu, tetapi selagi mereka tidak melewati batas, jangan pernah suudzon, mbak."


Retno masih menatap Amanda cukup lama. Benar saja, walau bagaimanapun perasaan Gadhing kepada Nasya, tidak pernah sekalipun melewati batas terhadap Nasya.


Retno mengangguk. "Kamu benar."


*


*


Nasya duduk disebelah Jimmy dengan Emier dipangkuan nya.


Mengetahui Nasya datang dan duduk disebelahnya, Jimmy menyudahi pekerjaan nya.


"Loh, ganggu ya?" tanya Nasya saat melihat Jimmy menyudahi pekerjaan.


Jimmy tersenyum. "Nanti bisa dikerjakan lagi, sayang." Jimmy menatap Emier yang tengah memeluk Nasya. "Mas juga mau di peluk, sayang." Suara Jimmy dibuat sedramatis mungkin sehingga membuat Nasya melotot lalu mencubit lengan bagian atas Jimmy.


Bukan marah, melainkan terkekeh mendapatkan cubitan yang tidak terasa sakit sama sekali. Mungkin seperti itulah wanita kepada pria yang disayang dan dicintanya tak akan mungkin menyakiti dalam keadaan apapun.


Gadhing dan Dimas bagai patung bernafas yang tidak dipedulikan oleh Jimmy dan Nasya. Bahkan saat Emier berada dipangkuan Jimmy dan Nasya mengajak main persis seperti keluarga kecil yang bahagia.


Gadhing menghela nafas panjang dan kembali menatap ponselnya lagi demi menyembunyikan perasaan yang menghimpit di dada. Andai.. Pasti kita sudah punya anak.

__ADS_1


__ADS_2