
Menunggu adalah kata yang sederhana namun sangat sulit untuk dipraktikkan. Butuh kesabaran dan keikhlasan hati untuk menjalaninya. Sayangnya, tidak sedikit orang yang memiliki sifat tidak sabar dalam menunggu dan terburu-buru.
Sabar menunggu mungkin terasa sulit dilakukan, tapi kita bisa mendapatkan manfaat hidup dari sana. Dengan sabar menunggu akan memberi kita waktu berharga untuk memahami dan memperbaiki diri agar bisa menjadi seorang yang lebih baik saat waktunya tiba.
Selain itu, kita juga akan terus mengembangkan harapan dalam sebuah penantian, sehingga doa-doa secara otomatis keluar dari lisan. Hal ini sekaligus menjadi sarana bagi kita untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta.
Nasya tersenyum menatap dirinya dari pantulan cermin di hadapan nya. Baru disadarinya bila gamis yang diberikan Jimmy dahulu sangat cocok untuk nya.
Gamis berwarna merah maroon dan juga hijab dengan warna yang sama. Memikirkan pria itu semakin membuat Nasya merasa rindu yang menggebu.
Rasa tak sabar ingin bertemu dan segera di halal kan semakin menggunung di hati Nasya.
*
*
Nasya keluar dari rumah dan tak lupa mengunci rumah sebelum masuk ke dalam mobil.
Retno menginap di rumah Nasya hanya selama satu Minggu menunggu Gadhing mendapat apartemen yang akan disewa wanita itu.
Sementara Joko yang sudah menunggu di dalam mobil hanya dapat tersenyum melihat Nasya tampak sangat bahagia.
Malam tadi, Joko menerima pesan dari Rispan bahwa Jimmy ingin bertemu dengan Nasya di Pantai Kenjeran Surabaya.
Lebih dari satu jam kemudian mereka telah sampai di Pantai Kenjeran Surabaya tepat saat senja telah tiba.
"Semangat sekali," ledek Joko ketika Nasya terburu-buru ingin keluar dari mobil.
__ADS_1
Nasya mencebik. "Bukain, kak." Ia cemberut karena Joko mengunci pintunya dan justru berhasil membuat pemuda itu terbahak-bahak.
"Oke baiklah. Jangan pasang wajah kesal mu itu di hadapan pak Jimmy, oke!" kata Joko menyerah karena tidak tega.
Joko mengalah, dibuka dan membiarkan Nasya turun.
Langkah Nasya semakin cepat setelah melihat bias sosok pria di ujung sana. Senyuman tak pernah memudar segera ingin memeluk Jimmy.
Setelah langkahnya hampir sampai, ia batu sadari jika pria itu bukanlah Jimmy melainkan Rispan.
Matanya pun melirik ke semua tempat berharap ada Jimmy disana. Tetapi sepertinya harapan itu harus pupus.
Kekecewaan semakin terasa ketika Rispan balik badan ke arahnya dengan wajah datar.
Untuk pertama kalinya Rispan dapa berbicara dengan Nasya. Tetapi, bukan itu tujuan nya.
Nasya menghela nafas pelan. Ia beralih memposisikan diri ke arah kanan dari posisi sebelumnya, mata teduh nya menatap Mentari yang tak lama lagi akan tenggelam dan digantikan sang Bulan.
"Aku baik," sahut Nasya singkat.
Rispan menatap wajah Nasya yang cantik walau dilihat dari samping. Wajah yang terkena bias mentari senja semakin membuat gadis itu terlihat cantik tiada tara.
"Ini ada sesuatu dari pak Jimmy. Maaf, beliau sedang ada urusan penting!" Rispan kotak berukuran sedang berwarna putih dengan tutup berwarna abu-abu tua, serta tali pita menghiasi kotak tersebut.
Nasya berbalik menjadi berhadapan dengan Rispan. Percayalah, gerakan Nasya semakin membuat degub jantung Rispan semakin tak karuan.
__ADS_1
Nasya tersenyum menerima yang diberikan Rispan. Seketika kekecewaan tadi menghilang dan kembali berpikir positif karena memang tahu bila Jimmy adalah pria yang giat bekerja.
Nasya berpikir jika Jimmy tidak dapat hadir karena ada pekerjaan penting dan ia tak mempermasalahkan hal itu.
Kepala Nasya menengadah menatap Rispan dengan senyuman yang mengembang. "Boleh aku buka sekarang?" tanya nya penuh permohonan seperti anak kecil yang baru saja diberi hadiah oleh sang ayah.
Rispan hanya mengangguk dan berusaha tersenyum.
Dengan semangat Nasya membuka kotak hadia tersebut. Matanya berbinar saat melihat isi kotak tersebut adalah sebuah gaun pengantin berwarna ungu, warna kesukaan nya.
Seketika pipinya merona hanya karena diberi sebuah gaun pengantin. Nasya menghela nafas panjang setelah itu itu meraih sebuah amplop berwarna merah muda.
Masih dengan semangat yang menggebu, Nasya membuka dan membaca isi surat itu
Hening.
Rispan bahkan tak ingin bertanya apapun karena tahu apa yang terjadi.
Nasya meremas surat itu seraya mengangguk-angguk kan kepala. Ia sangat berusaha menahan dan menekan hati agar ombak yang sangat sulit di sanggah tidak menerjang pertahanan.
"Baiklah. Katakan padanya aku akan melakukan apa yang diminta Majikan anda, pak Rispan," kata Nasya datar tetapi suaranya sudah terdengar bergetar.
Tangan Rispan terkepal karena tak dapat melakukan apapun. Keadaan yang membuat semuanya berantakan.
Nasya meninggalkan Rispan, air matanya tak dapat dibendung nya lagi.
❤️
__ADS_1
Maaf ya, emak lagi hajatan di rumah..