Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
94. JSAMS


__ADS_3

Sedari tadi senyum manis Nasya terus mengembang kala orang-orang terdekat menjenguk dan mengucapkan kata selamat.


Tidak lupa pula sang ibu mertua dan anak sambung nya diberi kabar, dan mereka tak kala girang nya atas kehamilan Nasya.


Buya Niko dan bunda Fadia juga turut hadir ke mansion demi mengucapkan kata selamat secara langsung.


"Kalau ada apa-apa segera hubungi mas Gadhing agar segera ditangani," kata bunda Fadia tanpa sadar jika di kamar itu ada Jimmy dan Retno.


Nasya tidak langsung menjawab, ia melirik reaksi sang suami dan istri Gadhing, Retno. Helaan nafas Nasya terasa berat setelah bunda Fadia mengatakan hal tersebut.


Nasya menggenggam tangan bunda Fadia. "Nasya dan mas Jimmy memilih Dokter perempuan, Bun. Enggak baik jika mas Gadhing yang tangani Nasya," ucapnya lembut.


Bunda Fadia meringis pelan saat Nasya mengatakan hal itu. Ia lupa apa yang telah terjadi, ia pun menoleh ke belakang melihat Jimmy dan Retno. "Maafin bunda, ya. Bunda lupa," kata beliau merasa bersalah.


Retno mencoba tersenyum dan memaklumi, sementara Jimmy hanya diam saja menatap sang istri.


Karena merasa tidak enak hati kepada Jimmy, bunda Fadia dan yang lain nya memilih keluar kamar dan meninggalkan pasangan suami istri yang tengah berbahagia ini.


Nasya tersenyum dan meminta Jimmy mendekat dan duduk di sebelahnya. Ia tahu jika hati sang suami selalu tidak baik-baik saja jika ada Gadhing di dekat mereka.


"Jangan cemburu lagi."


Jimmy memasang wajah datar. "Pasti bunda belum bisa terima mas," ucapnya dingin.


Nasya menghela nafas panjang. "Yang terpenting aku terima kamu, mas. Kita hidup bahagia bersama anak-anak kita. Sudah, ya. Jangan begini, aku gak bisa mengubah masa lalu. Andai aku tahu jika jodoh ku adalah mas, maka aku akan menjaga hatiku sampai mas nikahi aku."

__ADS_1


Jimmy tersenyum disertai tatapan penuh cinta kepada Nasya. Ia memajukan kepalanya hingga bibir keduanya bertemu.


Untuk sesaat keduanya menikmati cumbuan yang mengantarkan rasa cinta begitu dalam.


*


*


Setelah semua nya keluar, bunda Fadia langsung menuju dapur mencari buah-buahan di dalam lemari pendingin.


"Saya bantu kupas ya, Bu." kata Bibi Nur dan disetujui oleh bunda Fadia.


Keduanya tampak bahagia dan membahas kehamilan Nasya. Persis seorang ibu yang terlihat bahagia ketika pernikahan dan kehamilan hadir di waktu yang tepat.


"Ibu pingin cucu perempuan atau laki-laki?" tanya bibi Nur.


Bunda Fadia menatap bibi Nur sekilas. "Apapun, Bi. Terpenting sehat Nasya dan bayi nya."


Bibi Nur mengangguk setuju.


"Gadhing. Tolong ambilkan yogurt di dalam kulkas buat Nasya," kata bunda Fadia spontan seperti kebiasaan nya seperti dahulu meminta ketiga anaknya menyayangi Nasya seperti adik sendiri. Begitu juga kepada Gadhing walau dahulu anak sulung nya itu selalu protes, tetap melakukan apapun yang diminta sang ibunda.


Gadhing menelan saliva mendengar perkataan bunda Fadia karena ada Retno disampingnya.


Retno sendiri sedang memerhatikan wajah tegang Gadhing setelah bunda Fadia mengatakan hal tersebut. "Pergilah, mas."

__ADS_1


Gadhing menoleh menatap Retno dengan seksama lalu menggeleng. "Aku gak ingin kamu berpikir macam-macam lagi tentangku," ia berusaha keras untuk tidak menuruti bunda Fadia kali ini demi istrinya.


Retno memaksakan senyuman nya. Walau dihatinya tersimpan kecemburuan yang menggunung, tetapi tak ingin egois.


Retno sudah pasrah dengan keadaan karena sudah berusaha keras menjadi istri yang baik, tetap saja tidak bisa merebut cinta Gadhing walau suaminya itu tetap perhatian dan bertanggung jawab kepadanya.


"Pergilah, mas. Aku tak apa," ucapnya meyakinkan Gadhing.


Dan benar saja, Gadhing mengangguk disertai senyuman yang mengembang. Sangat tampan.


Gadhing ikut bergabung bersama bunda Fadia dan bibi Nur. Tak lupa mengambil yogurt di dalam lemari pendingin dan menyerahkan kepada sang ibunda.


Bunda Fadia menerima yogurt itu lalu menaruh di atas nampan yang telah ada potongan buah juga disana.


"Ini kasih istrimu dan juga Nasya, bunda mau ke kamar mandi dulu."


Gadhing menjadi ragu. Tidak mungkin ia ke kamar utama dimana hanya pemilik kamar yang ada di dalam nya.


Saat ingin meminta bibi Nur mengantarkan, ternyata sudah tidak ada di dapur. Ia pun menghela nafas panjang kemudian melangkahkan kaki mendekati Retno.


"Ini buat kamu. Dihabisi," ujarnya meletakkan sepiring potongan buah dan yogurt. Kemudian melangkah mendekati anak tangga dan menuju kamar utama.


Tangan nya yang menggenggam nampan berubah kuat, bahkan raut wajah Gadhing berubah merah menahan amarah.


Gak kenal waktu. Ah, ini sakit.

__ADS_1


__ADS_2