
Sesuai janji Nasya kepada kedua anaknya akan membawa mereka ke tempat wisata di Surabaya. Mereka telah bersiap dengan keperluan masing-masing.
"Mi. Kak Tiara tadi telepon dan mereka sedang berlibur ke Perancis," tutur Azzura yang sering berkomunikasi dengan kakak tirinya.
Semenjak mendengar Jimmy meninggal dunia, Diana mengambil alih adopsi Tiara hingga sekarang. Hubungan Nasya dan Diana juga baik sehingga tidak perlu merasa khawatir dengan pertumbuhan Tiara.
Nasya dan kedua anaknya telah sampai di depan rumah Gadhing. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Emier dan Asnan.
"Mami cantik sekali," puji Emier yang sedari tadi memeluk Nasya.
"Kamu juga sangat tampan, sayang. Oh iya, kenalkan ini kedua adik kamu dan Asnan." Nasya memperkenalkan Azzam dan Azzura.
"Ayah kemana? jadi ikut?" tanya Nasya menatap Emier dan Asnan bergantian.
Nasya melihat perubahan mimik wajah kedua anak Gadhing itu. Ia pun kembali berjongkok di hadapan kedua anak Gadhing itu.
"Kenapa, hm? Gak masalah kalau ayah gak ikut, kita bisa main berlima, bukan?" tanya Nasya lembut.
Emier menggeleng. Ketika hendak menjawab pertanyaan Nasya, pandangan kedua anak laki-laki itu menatap kedepan dan membuat Nasya memutar badan mengikuti arah pandang kedua anak laki-laki Gadhing.
Nasya tersenyum lalu berdiri menghadap Gadhing yang keluar bersama Dena.
__ADS_1
Sangat jelas Gadhing tampak gugup setelah ia mematung melihat kedatangan Nasya. Sangat terlihat jelas kedewasaan dan aura kecantikan Nasya lebih meningkat.
Jelas saja.
Usia Nasya sudah 29 tahun dan bergelimang harta. Aura high class benar-benar terlihat.
Nasya melihat ada seorang wanita mendampingi Gadhing turut senang. Akhirnya akan ada wanita yang di panggil bunda oleh kedua anak Gadhing.
"Assalamualaikum, mas, mbak!" sapa Nasya menatap Gadhing dan Dena bergantian.
"Waalaikumsalam," sahut keduanya hampir bersamaan.
Nasya tersenyum dengan pandangan menunduk karena sedari tadi Gadhing menatapnya tanpa kedip.
"Dena. Kenalin ini Nasya," kata Gadhing setelah dapat menenangkan degub jantungnya.
Nasya tersenyum kepada Dena lalu mengulurkan tangan kepada teman Gadhing. "Nasya, mbak. Sepupu mas Gadhing," kata Nasya membuat Dena merasa lega.
"Apa masih lama, mi? takut kemalaman," tegur Azzam mulai gerah berada di luar.
"Ya ampun. Mami lupa," ucapnya lalu menatap Gadhing. "Boleh Nasya bawa Emier dan Asnan, mas?"
__ADS_1
Gadhing melihat ke arah dalam mobil. "Kamu nyetir sendiri?"
Nasya mengangguk tetapi membuat Gadhing mencebik. Bagaimana bisa wanita itu menyetir sendiri dan tidak merasa trauma setelah kejadian kecelakaan lima tahun silam, pikir Gadhing.
Gadhing maju selangkah mengikis jarak dengan tangan menengadah di hadapan Nasya. "Mana kunci mobil kamu? biar mas yang setir," ucapnya membuat kedua anaknya melompat girang.
"Loh, mas. Kata kamu, kita naik mobil kamu karena Emier dan Asnan pasti naik mobil Nasya," protes Dena karena ia ingin berduaan dengan Gadhing.
Nasya meringis melihat wajah Dena yang masam. Ia kembali mengambil kunci mobilnya dari tangan Gadhing. "Mas sama mbak Dena saja. Kami biar satu mobil," izin nya.
Tanpa mengatakan apapun lagi dan rasa khawatir kepada keselamatan Nasya dan anak mereka masing-masing membuat Gadhing mempertegas ucapan nya.
"Mas yang setir. Kalau kamu keberatan satu mobil dengan kami, kamu bisa naik mobil sendiri atau pulang saja!"
Skakmat. Dena akhirnya menuruti apa yang dikatakan Gadhing karena ia ingin menghabiskan waktu bersama dengan pria itu.
"Asnan mau duduk di depan sama mami," pinta anak bungsu Gadhing.
"Sama Tante saja, ya. Kita duduk di sebelah ayah," bujuk Dena tetapi Asna justru menangis.
Gadhing merasa merepotkan Nasya. "Maaf, Nasyama!" ia sama sekali tidak memikirkan perasaan Dena yang sudah kesal.
__ADS_1
Nasya duduk di sebelah Gadhing dengan memangku Asnan. Sedangkan Emier duduk bersama Azzura dan Dena. Sementara Azzam duduk di kursi paling belakang.
"Besok mami bobok sama Asnan, ya?!"