Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
91. JSAMS


__ADS_3

Jimmy terus mengulas senyum karena perbuatan nya barusan. Walau ada rasa sesal setiap kali rasa cemburu itu datang, tetapi tetap saja kepuasan lebih besar dari rasa cemburu itu.


Sedangkan Nasya hanya hanya dapat menghela nafas berat lantaran harus mengulang mandi dan berdandan kembali.


"Jangan mengeluh, sayang. Itu pahala," tutur Jimmy setiap melihat wajah Nasya tampak masam.


Nasya menoleh ke arah Jimmy lalu mencebikkan bibir. "Aku gak ngeluh, mas." Tidak mengeluh, tetapi wajah nya masih tampak masam.


Sabda Rasulullah SAW: “Siapa saja perempuan yang bermuka masam di hadapan suaminya berarti ia dalam kemurkaan Allah sampai ia senyum kepada suaminya atau ia meminta keredhaannya.”


Jimmy mengucapkan itu karena pernah membaca suatu artikel.


Ucapan Jimmy refleks membuat Nasya bangkit dari duduknya lalu menghampiri Jimmy yang tengah merapikan dasi. Ia memeluk perut dan menengadah menatap wajah sang suami.


"Mas," panggil Nasya dengan manja, ia memasang wajah imut bak anak kucing yang menggemaskan.


"Hem," Jimmy berdehem tetap menatap cermin, ia tak ingin menunduk melihat wajah Nasya yang menggemaskan.


"Maaf, ya. Aku gak cemberut, aku ikhlas layani kamu. Tadi hanya kesal saja harus mandi dan dandan ulang. Mas juga kenapa harus cemburu? bukankah mas sendiri yang meminta Rispan agar menjemput istri mas ini," Nasya mengeluarkan kalimat pembelaan.


Jimmy menunduk lalu melabuhkan kecupan pada bibir sang istri. Ia lebih suka Nasya yang cerewet seperti ini, membela dirinya karena merasa tak bersalah.

__ADS_1


"Bukan karena Rispan," desis Jimmy membuat Nasya mengerutkan dahi.


"Jadi karena apa, mas?"


"Gadhing. Mas gak suka kamu dekat-dekat dengan dia sementara masih ada mas," sahut Jimmy.


*


*


Telah usai acara resmi perkenalan dirinya sebagai istri dari pemilik Perusahaan PT. Istana Tiara, Nasya menjadi canggung kala banyak nya pegawai mengucapkan kata selamat dan mendoakan kelanggengan untuk pernikahan mereka.


Yang pasti, Nasya tidak menerima pria untuk berjabat tangan padanya. Begitu juga Jimmy dengan sigap menerima uluran tangan mereka yang hendak berjabat tangan dengan sang istri.


Ya, jika hanya berdiri dan duduk serta menyambut pegawai lain nya tidak merasa lelah. Ia merasa lebih melelahkan saat usai melayani Jimmy di kamar.


Eh! Nasya menggeleng serta beristighfar karena pikiran nya justru mengarah ke arah ranjang saja.


"Mas mau makan?" tanya Nasya dan diangguki oleh Jimmy. "Tapi mas pingin masakan kamu saja, sayang."


"Ya sudah, aku juga sudah masak sayur asem di rumah. Mau salad buah saja?" tanya Nasya.

__ADS_1


Jimmy mengangguk dan Nasya langsung bangkit mengambil dua cup salad buah.


"Terimakasih, sayang. Kamu habis satu cup jumbo itu?" tanya Jimmy heran dan tak yakin bila Nasya akan menghabiskan salad porsi jumbo tersebut.


Nasya terkekeh. "Habis, mas. Akhir-akhir ini makan aku banyak," sahut Nasya menjelaskan.


Jimmy tersenyum. "Lanjutkan makan banyaknya, ya. Mas suka kalau kamu gendut. Enak di pegang."


"Dasar mesum."


Jimmy tertawa karena perkataan Nasya yang mengerti maksud dari ucapan nya sebelumnya. Ia melihat sekeliling nya, tidak ada yang memerhatikan mereka langsung mengecup pipi sang istri.


*


*


Rispan menghela nafas berat sedari tadi menyaksikan keharmonisan Jimmy dan Nasya. Ia tidak mau merasakan sakit ini terlalu lama, tetapi semakin berusaha membunuh perasaan nya justru semakin sulit.


Pandangan nya menunduk kala melasakan tangan nya yang terkepal di genggam oleh tangan seseorang. Kemudian ia melihat siapa pemilik tangan tersebut.


"Sudah ku katakan tetap istirahat," ucapnya dingin.

__ADS_1


Novi menggeleng disertai senyuman. "Aku mengkhawatirkan hatimu."


__ADS_2