Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
40. JSAMS


__ADS_3

Setelah menginap di Mansion Jimmy, Nasya tinggal di Perumahan Nasional yang dipilihkan Jimmy.


"Silahkan diminum mas, mbak."


Nasya menaruh dua gelas berisi sirup ke hadapan Dimas dan Amanda. Ia belum tahu tujuan keduanya datang ke rumah nya.


Beberapa saat lalu ketika sedang menonton televisi, Nasya dikagetkan dengan kedatangan Dimas dan Amanda.


"Sya," panggil Fimas lirih menatap Nasya kemudian melirik Amanda yang langsung mengangguk.


Pandangan Nasya beralih kepada Dimas. "Ya."


"Mas datang kesini ingin meminta maaf padamu atas semua yang telah mas perbuat dan juga berterimakasih karena kamu gak lapor polisi," ungkap Dimas lirih. Sungguh ia merasa bersalah dan sangat malu bertemu langsung dengan Nasya.


Nasya mengangguk disertai senyuman. "Aku sudah memaafkan dan sudah ikhlas, mas. Aku sudah mulai berdamai dengan masalalu," terang Nasya kepada Dimas.


Dimas tersenyum merasa tenang. Ia sangat tahu bagaimana Nasya. Walau dahulu berhubungan dengan Nasya hanya setengah hati, tetapi tak dipungkiri bila gadis di depan nya ini sering membuatnya terpesona.


Tetapi Dimas sadar diri bila Nasya bukan untuknya. Sekarang, ada Amanda yang harus di perjuangkan.


Nasya menerima sebuah map dari Dimas. "Apa ini, mas?"


"Maafkan mas, Sya. Rumah Makan Cintarasa yang mas pegang bangkrut. Mas kembalikan surat kepemilikan itu. Sekali lagi maafkan, mas."


Dimas tertunduk malu, Amanda menggenggam tangan Dimas, dan Nasya mengerutkan dahi melihat itu.


"Kalian menjalin hubungan?" tanya Nasya tanpa memperdulikan pengakuan Dimas barusan.


Amanda langsung melepas genggaman tangan tersebut. Keduanya tampak kikuk dan malu-malu ditanya seperti itu oleh Nasya.


Nasya memicing memerhatikan gelagat keduanya. "Haish.. Kamu hebat, mas. Langsung dapat ganti nya yang lebih baik dari aku dan Noni. Tapi awas kalau berani sakiti mbak aku yang satu ini, awas saja!"


Nasya mencebik dan memasang wajah galak tetapi membuat Dimas dan Amanda tertawa geli.


"Ih. Kalian," cebik Nasya lagi melihat reaksi keduanya.


"Kamu tetap saja terlihat imut kalau marah, Sya."


Dimas mengangguk membenarkan apa yang diucapkan Amanda. "Tapi kamu memiliki prinsip yang kuat jika menyangkut dirimu. Aku salut," terang Dimas membuat Nasya tersenyum.


"Untuk menjaga kewarasan," tutur Nasya.


Setelah banyak mengobrol, Dimas dan Amanda pamit untuk pulang. Nasya mengantar keduanya hingga depan rumah.


Nasya memandangi keduanya yang naik sepeda motor dan menghilang di persimpangan blok Perumahan Nasional.


Ia berjalan masuk ke dalam rumah dengan ukiran senyum manis di bibirnya. "Alhamdulillah, ternyata berdamai dengan masalalu itu membuat hati semakin tenang."

__ADS_1


Nasya kembali menonton televisi dan mengganti channel nya. Mata Nasya membola melihat Jimmy menjadi tamu di salah satu acara talk show yang dibawakan beberapa artis, salah satunya penyanyi dangdut terkenal sebagai presenter nya.


Nasya tahu jika Jimmy sudah dua hari berada di Jakarta dan dirinyalah yang mengantar jemput Tiara dua hari ini. Tetapi, ia tidak mengetahui tujuan pria itu untuk menghadiri acara televisi.


Semenjak berpisah dengan Gadhing, Nasya sangat jarang memegang ponsel apalagi media sosial.


Ternyata, Jimmy di undang ke acara tersebut karena pria itu masuk ke 5 kategori pebisnis sukses di usia muda dan memiliki wajah tampan dengan tubuh atletis.


Jimmy menjadi urutan pertama karena ia jauh dari gosip miring sedari dahulu dan begitu misteri masalah percintaan.


Incaran para kaum muda.


Di acara tersebut, ada


"Tadi sudah a' jelasin masalah karir yang terus melejit, nih. Sekarang Ayu mau tanya, mas pisah nya karena apa?"


Nasya mendengar pertanyaan sang pembawa acara langsung duduk tegak karena juga penasaran dengan jawaban dari pertanyaan itu.


Jimmy tersenyum. "Karena sudah enggak cocok dan lebih baik berpisah dari pada saling menyakiti karena gak cocok itu."


Nasya melengos mendengar jawaban Jimmy. "Sebenarnya karena apasih? aku kepo tapi gak mungkin tanya langsung," gerutu Nasya.


"*Sama aku cocok gak, a'?"


"Idih. Mulai."


Nasya mencebik tak suka tetapi melihat reaksi Jimmy membuatnya merasa lega. Setidaknya Jimmy tidak menanggapi guyonan para pembawa acara tersebut.


"*Saya sudah punya calon istri," sahut Jimmy tegas semakin membuat para pembawa acara menertawakan Ayu.


"Maaf nih. Calon nya janda atau perawan?" tanya sang pembawa acara lain berkepala botak*.


Jimmy menoleh menatap sang pembawa acara yang bertanya padanya. "Perawan, mas. Dia masih gadis."


Nasya melotot mendengar itu apalagi jawaban Jimmy mengundang guyonan orang-orang disana.


Salah satu diantaranya mengatakan belum berpengalaman atau apapun.


"Bagi saya gak masalah belum berpengalaman, yang terpenting dia menerima saya dan anak saya. Dia merasa aman dan nyaman ketika sedang berada di dekat kami berdua. Karena bagi saya, pernikahan adalah kerja sama menciptakan cinta dan kebahagian bersama."


Nasya tersenyum mendengar ucapan Jimmy membuat pembawa acara tidak lagi membuat guyonan karena dirinya yang belum berpengalaman.


"So sweet banget sih kamu, mas. Kenapa kita ketemu baru sekarang?"


*


*

__ADS_1


Gadhing bernafas lega saat hakim mengetuk palu sidang persidangan perceraian nya dengan Noni.


Kini, mereka resmi bercerai dan malam ini Gadhing akan berangkat ke Malang untuk menemui orang tuanya.


Keputusan persidangan, Gadhing bersedia memberi tunjangan setiap bulan dan membiayai pengobatan Noni dan mantan istri Gadhing tersebut menerima apapun keputusan persidangan karena ketahuan selingkuh.


"Setelah ini, aku akan berusaha memenangkan hatimu lagi, Nasyama."


"Tidak penting jika aku harus bersaing dengan Jimmy sekalipun," imbuhnya lagi.


*


*


Jimmy baru saja keluar dari lokasi shuting. Wajahnya berubah datar setelah keluar dari sana. Sumpah demi apapun, ia tidak suka kehidupan pribadinya menjadi pembahasan publik.


Salahnya juga tadi mengapa harus memperjelas status Nasya di depan kamera. Ingin sekali tadi Jimmy tidak memberi tahukan jika sudah memiliki calon istri agar masalah pribadinya tidak menjadi konsumsi publik.


Tetapi, Jimmy tidak ingin Nasya menjadi salah paham bila menonton acara tadi. Ia tidak ingin perjuangan nya mendapatkan gadis pujaan hatinya seketika hancur karena kesalahpahaman.


Bahkan ia merasa was-was jika reaksi Nasya akan marah mengetahui bahwa salah satu pembawa acara tadi nampak genit walah hanya di depan kamera.


Jimmy menaiki mobil yang di sewanya selama berada di Jakarta menuju hotel tempatnya menginap.


Jimmy duduk di jok penumpang dan langsung merogoh ponsel yang sedari tadi bergetar.


Jimmy tersenyum ketika Nasya menghubunginya lewat panggilan video.


"Ya, sayang."


"Assalamualaikum, mas."


Jimmy terkekeh setiap kali memulai telepon selalu lupa memberi salam.


"Maaf, sayang. Waalaikumsalam. Kamu sedang di rumah?"


Jimmy hafal betul bilannasya sedang berada di kamar Tiara.


Nasya nampak mengangguk. "Malam ini aku menginap, ya. Kasian Tiara dari tadi telepon pengen di temani tidur."


"Makanya, cepatlah kamu menjadi Nyonya Soecipto. Aku gak keberatan kalau kamu mau dalam waktu dekat ini," tutur Jimmy dengan santai membuat Nasya melotot dan itu membuat Jimmy terkekeh.


"*Ck. Ngomong sama kamu pasti selalu mengarah kesana. Sudah deh," kata Nasya nampak kesal.


"Cepat pulang, mas*."


Jimmy terkejut dengan kalimat terakhir Nasya sebelum gadis itu mematikan sambungan panggilan video.

__ADS_1


"Kamu sungguh menggemaskan."


__ADS_2