
Jimmy menitipkan sebuah kado kepada Joko yang akan diberikan kepada Dimas dan Amanda. Wajahnya terlihat sendu sedari malam.
Joko tahu apa yang Jimmy dan Nasya bicarakan malam tadi karena suara tangis gadis itu mengganggu tidurnya.
"Bapak serius pergi lebih dulu tanpa pamit dengan Nasya?" tanya Joko pelan melihat Jimmy sedang bersiap.
Jimmy menarik nafas, menoleh menatap Joko dan mengangguk. "Saya gak mau Nasya menjadi anak yang melawan orang tua. Tugas saya sudah selesai," ucapnya sembari menipiskan bibir.
Joko turut sedih atas perpisahan mereka, apalagi ia tahu sendiri bagaimana Nasya belum pernah merasakan cinta yang sebenarnya.
"Apa bapak merelakan nya?" tanya Joko lagi.
Jimmy menggeleng. "Enggak. Aku hanya mencoba mencintai dia dengan cara yang lebih dewasa. Dulu hingga malam tadi, aku menginginkan nya. Tapi, aku gak mau kehadiran saya justru membuatnya tersiksa."
Joko hanya bisa menghela nafas. Kemudian ia mengantar Jimmy ke jalan raya karena Rispan telah menunggu disana atas permintaan Jimmy.
"Hati-hati, pak."
Jimmy mengangguk. "Terimakasih. Sampaikan salam saya pada Nasya," ucapkanya.
Jimmy masuk ke dalam mobil dan menunggu Rispan memasukkan koper ke dalam bagasi setelah selesai barulah melajukan mobil.
__ADS_1
"Apa terjadi sesuatu, pak?" tanya Rispan mengerti dengan suasana hati Jimmy.
Jimmy menghela nafas panjang. "Gimana persiapan keberangkatan saya, Ris?" seakan enggan menjawab karena walau hatinya sedih atas perpisahan ini, tetapi di ujung sudut hatinya seakan percaya bahwa Nasya akan kembali padanya.
"Ibu Mayang tidak mengijinkan nona Tiara ikut karena masih masa sekolah. Beliau mengatakan akan pindah setelah akan masuk sekolah dasar," sahut Rispan.
Jimmy menghela nafas panjang. "Aku harap bawahan mu bisa menghandle Perusahaan selama aku pergi."
"Dan tetap jaga Nasya," sambungnya lirih.
Rispan melirik dari kaca spion di depan nya dan mengangguk. "Anda baik-baik saja, pak?"
Rispan hendak berkata sesuatu tetapi urung setelah melihat Jimmy memejamkan mata. Ia turut sedih karena sangat tahu bagaimana sang bos sangat terlihat bahagia ketika bertemu dengan Nasya.
Dahulu, saat Nasya masih Sekolah Menengah Atas dan mereka berdua sengaja makan di Rumah Makan Cintarasa hanya untuk melihat gadis ceria itu melayani pembeli.
Sikap ramah tamah dan sopan itulah yang menjadi nilai plus untuk seorang Nasya. Tetapi, Rispan langsung tahu diri setelah mengetahui Jimmy juga mengagumi Nasya.
*
*
__ADS_1
Sedari bangun tidur Nasya tampak murung dan banyak diam. Ia terus memaksakan senyum ketika bunda Fadia mengucapkan banyak terimakasih padanya.
"Nasya," panggil Joko dari belakang menaiki sepeda motor.
Nasya yang sedang berjalan langsung menghentikan langkah lalu menoleh ke belakang. "Kak Joko," katanya.
"Ayo naik. Kakak antar pulang," ajak Joko seraya menghentikan laju sepeda motor nya tepat di simping Nasya.
Nasya menggeleng. "Duluan, kak. Sebentar lagi juga sampai," katanya.
"Pak Jimmy titip salam buatmu, Sya."
Nasya mengerutkan dahi kemudian hatinya merasa gelisah. "Sekarang mas Jimmy dimana?"
"Sudah pergi. Baru saja aku mengantarkan ke jalan raya karena pak Jimmy sudah di jemput Asisten nya."
Seketika kantung plastik berisi belanjaan dari pasar di tangan nya terjatuh ke tanah. Matanya memanas selaras dengan air mata yang sudah menganak sungai.
Nasya berlari balik arah dimana tujuan nya adalah jalan raya. Sementara Joko mengambil kantung plastik tersebut dan melajukan sepeda motornya mengikuti Nasya yang berlari.
Ku mohon berjuanglah, mas. Jangan tinggalkan aku.
__ADS_1