
Nasya meremas jemarinya setelah pegawai resepsionis mengatakan jika Dila dipanggil ke ruangan Jimmy.
Dengan menenteng dua kantung plastik dan tas bekal buat Jimmy, Nasya berjalan ragu menuju ruang kerja sang suami.
Nasya berdecak kagum atas kemajuan Perusahaan sang suami, banyak berubah setelah dua tahun tidak pernah menginjakkan kaki di gedung ini.
Setelah tiba di lantai paling atas, dimana ruang kerja Jimmy berada, Nasya merasa aneh karena meja sekretaris Jimmy tampak kosong.
Nasya mengetuk pintu ruang kerja Jimmy.
*
*
Setelah selesai rapat, Jimmy ingin segera menjemput sang istri. Ia tidak dapat menghubungi istrinya lebih dulu karena kehabisan daya saat berada di ruang rapat tadi.
"Selamat siang, pak."
Langkah Jimmy terhenti saat salah satu pegawai resepsionis menghentikan langkahnya. Ia menatap pegawai tersebut dengan tatapan tajam.
Tidak sopan, pikirnya.
"Maaf, pak. Ada titipan dari mbak Nasya," ucap pegawai itu menunduk merasa ciut karena tatapan tajam Jimmy.
Jimmy mengerutkan dahi. "Istri saya datang kesini? lalu dimana istri saya sekarang?" tanyanya beruntun. Ia mengedarkan pandangan ke setiap sisi lobby, namun tidak ada Nasya disana.
Pegawai resepsionis tersebut tersedak ludahnya sendiri setelah alat pendengaran nya tidak salah. Istri?
"Katakan dimana istri saya?" tanya Jimmy lagi membuat pegawai resepsionis tersebut gelagapan.
"Tadi Bu Dila memesan nasi liwet kepada mbak Nasya, pak. Beliau menitipkan bekal ini kepada saya," katanya semakin gugup.
Rahang Jimmy mengeras. Kedua tangan nya terkepal, entah mengapa hatinya menjadi gelisah. Ia yakin bahwa sang istri disepelekan.
"Cari pegawai yang menyuruh istri saya dan bawa pegawai itu ke ruangan saya. Segera!" Titah Jimmy tak terbantahkan.
Rispan yang berdiri di belakang Jimmy mengangguk hormat lalu pergi meninggalkan Jimmy disana.
Sebelum mencari Dila, Rispan menuju ruangan CCTV buat memeriksa apa yang telah terjadi sebelumnya.
__ADS_1
Rispan berdecak kesal karena baru tahu siapa wanita itu, yang tak lain adalah sahabat Novi. Ia pun segera mengambil ponsel disaku lalu menghubungi Novi.
"Bawa sahabat kamu itu ke ruangan Pak Jimmy, sekarang!" tanpa menunggu jawaban dari orang yang di telepon nya.
Sedang Novi di meja kerjanya selalu merasa senang bila Rispan menghubunginya walau dalam perihal pekerjaan.
Tidak butuh waktu lama, Novi dan Dila sudah berada di ruang kerja Jimmy.
Rispan tahu jika dirinya akan ikut terseret dalam masalah ini. Apalagi ia juga harus duduk di sofa panjang bersama Novi dan Dila. Sementara Jimmy duduk di sofa tunggal berhadapan dengan mereka.
Persis seperti seorang terdakwa.
Suara ketukan pintu membuyarkan tatapan tajam Jimmy yang seakan menguliti ketiga orang di hadapan nya.
Jimmy bangkit dari duduk nya lalu melangkah menuju pintu, sengaja ia membuka pintu itu sendiri karena tahu pasti sang pengetuk pintu adalah istrinya.
Nasya tersenyum. "Assalamualaikum, mas."
Nasya meraih dan mencium punggung tangan Jimmy.
"Waalaikumsalam."
Melihat senyum Nasya saja sudah membuat emosi Jimmy yang sempat hampir meledak, seketika menguap entah kemana.
Nasya merasa heran mengapa Jimmy tidak mengatakan sesuatu.
"Kamu bawa apa?" tanya Jimmy seakan tidak mengetahui apapun.
Nasya nyengir kuda. "Aku bawain bekal buat, mas. Tapi aku harus kasih pesanan mbak-mbak yang pesan di lobby. Aku lupa tanya nama dia siapa," ucapnya. Ia mendadak sedih karena lupa menanyakan siapa pemesan nasi liwet dan nasi Padang yang di bawanya. Selain takut rugi, Nasya juga sangat takut bila pelanggan nya tidak puas atas pelayanan nya.
Nasya belum mengetahui jika di dalam ruangan Jimmy ada orang lain karena tertutup tubuh tegap pria itu.
Di dalam ruangan. Dila menjadi semakin takut dan gelisah setelah mendengar ucapan Nasya.
Jimmy mencoba tersenyum. Tetapi percayalah, ia sedang menahan amarah nya mendengar ucapan polos Nasya. Padahal, istrinya itu sedang disepelekan oleh pegawainya sendiri.
Jimmy menghela nafas panjang. "Kita masuk dulu, yuk. Mas sudah lapar," kata nya membawa sang istri masuk ke dalam ruangan nya.
Nasya melebarkan mata saat melihat ada orang lain di dalam ruangan sang suami. Seketika ia menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Ia menengadah menatap sang suami yang masih saja merangkul pinggangnya. "Mas masih kerja? maaf kalau aku ganggu," ia benar-benar merasa tidak enak pada Jimmy, kemudian ia kembali menoleh ke arah tiga orang tersebut.
"Mas memang masih bekerja, sayang." Nasya menengadah menatap Jimmy yang tengah tersenyum, menunduk, dan tersenyum padanya. "Tapi pekerjaan bisa mas hentikan sementara jika itu persoalan dengan keluarga. Kalian prioritas mas, sayang."
Nasya tersenyum dan kembali mengikuti arahan Jimmy untuk duduk di sofa dimana tadi ia duduk. Tetapi, Nasya bangkit karena tidak ada lagi sofa untuk Jimmy duduki.
Jimmy merasa heran dan tetap diam memerhatikan Nasya mengambil kursi di depan meja kerjanya.
Ia terkekeh dan menggelengkan kepala saat dirinya dan Nasya memiliki tujuan yang sama. Sebenarnya, Jimmy juga berencana mengambil kursi tersebut untuk ia duduki dan membiarkan Nasya duduk di sofa.
Seketika hatinya menghangat. Nasya benar-benar menjadi istri yang baik. "Kamu saja yang duduk di sofa, sayang."
Nasya tersenyum disertai gelengan. "Mas saja biar aku gampang sediain makanan nya."
Nasya mendekati sofa panjang, seketika membuat ketiga orang yang sedari tadi diam menjadi penonton kemesraan pengantin baru itu menegang.
"Tadi mbak yang pesan, kan? ini. Nasi liwet 5 dan nasi Padang 5. Semua harganya jadi 255.000," Nasya menyerahkan dua kantung plastik kepada Dila.
Mendadak Dila menjadi linglung bahkan sikap sombong nya tadi entah kemana karena sudah merasa takut akan nasib kedepan nya.
"Mbak," tegur Nasya saat mengetahui Dila melamun.
"Ah iya," cepat-cepat Dila mengambil uang ke dalam saku blazer nya karena mendapat tatapan tajam dari Jimmy saat sempat melirik ke arah Bos nya sesaat.
Dila menyerahkan uang yanilai dengan harga yang disebut Nasya.
Nasya menerima dan mengucapkan terimakasih. Setelah itu Nasya kembali duduk dan menyiapkan makan siang untuk Jimmy.
"Pak Rispan, mau? aku bawa banyak," kata Nasya menawarkan bekalnya.
"Dia gak mau, sayang. Apa kamu gak lihat di atas meja itu banyak makanan yang di pesan pegawai ku barusan?" Jimmy protes dan tidak terima apa yang diberikan Nasya untuknya juga diberikan kepada orang lain, apalagi orang lain itu seorang pria. Cukup satu pria saja yang membuatnya cemburu, yang lain jangan ada lagi.
Ya, pria itu adalah Gadhing.
Rispan yang mendengar ucapan Jimmy tersirat ketidaksukaan pun akhirnya mengambil satu bungkus makanan yang ada di dalam kantung plastik milik Dila.
"Sa-ya lebih suka nasi Padang, Bu. Terimakasih," Rispan mengubah panggilan buat Nasya.
"Pak Rispan juga suka Nasi Padang? wah sama dong kita," kata Nasya girang.
__ADS_1
Jimmy menatap Rispan dengan tatapan tajam seakan ingin menelan hidup-hidup.
Pria ini kenapa bilang suka nasi Padang. Awas kamu, Ris.