Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
58. JSAMS


__ADS_3

Mobil yang di tumpangi Nasya dan lain nya berhenti di pekarangan rumah sederhana dimana sedari kecil Nasya tinggali hingga berusia 18 tahun.


Nasya tersenyum melihat orang tua angkat nya yang tak lain Buya Niko dan bunda Fadia telah menunggu kedatangan nya di teras rumah.


Nasya dan Joko turun dari mobil langsung mendatangi orang tua angkatnya. Tak lupa Nasya dan Joko bersalaman kepada mereka juga memberi salam.


Nasya memutar badan ke belakang mencari Jimmy.


"Nasya, kamu cari siapa?"


"Cari mas Gadhing, ya?"


Nasya kembali ke posisi awal menatap Buya Niko dan bunda Fadia bergantian kemudian menggeleng. "Bukan Buya, bunda."


Nasya berbalik kembali menuju mobil pick up tadi di bagian belakang diikuti Joko yang juga mulai khawatir.


"Astaghfirullah," sebut Nasya beristighfar melihat Jimmy tertidur di gerobak mobil tersebut.


Seketika hati Nasya meringis melihat Jimmy tertidur bersandar pada koper miliknya dengan hidung dan mulut yang di tutupi masker. Padahal sebelumnya Jimmy tidak memakai masker.


"Mas," panggil Nasya lembut.


"Mas," panggil Nasya mengulang kembali.


Jimmy tampak terkejut kemudian menoleh ke arah sumber suara yang sangat di kenalinya. Tanpa sadar juga Jimmy berdiri dan hal itu membuat orang tua angkat Nasya yang tak lain adalah orang tua Gadhing terkejut.


"Mas ngapain berdiri? sini turun," pekik Nasya membuat Jimmy terkejut.


"Ya ampun. Mas lupa kalau lagi di atas mobil," kekeh Jimmy menggaruk tengkuk leher nya.


Jimmy hendak turun namun lagi-lagi melarang Joko untuk menyentuh koper Nasya.


Joko yang diperlakukan seperti itu oleh Jimmy hanya bisa bersikap kikuk.


Nasya melihat tingkah Jimmy hanya bisa menggeleng kepala saja. "Hati-hati, mas."


Setelah Jimmy sudah turun dari mobil, Nasya mengajak pria itu menuju teras rumah dimana Buya Niko dan bunda Fadia berada.


Nasya mencoba tersenyum kepada dua orang paruh baya tersebut walau hatinya sedang dilanda ketakutan yang tak mendasar juga degub jantung yang bekerja dua kali lebih cepat.


Jimmy sendiri menatap Buya Niko dengan wajah datar karena sudah biasa baginya berhadapan dengan orang-orang yang lebih tua.


Tapi Jimmy seakan lupa jika dihadapan nya saat ini bukanlah rekan atau pesain bisnis nya.


Nasya berdehem memberi kode pada Jimmy agar memberi salam dan mencium punggung tangan Buya Niko.

__ADS_1


Jimmy menoleh ke arah Nasya dengan tatapan cinta.


"Salam takzim ke Buya, mas."


Jimmy mengangguk dengan bibir membentuk lingkaran kemudian melakukan apa yang dikatakan Nasya barusan. Saat di hadapan bunda Fadia, Jimmy mengatupkan kedua tangan ke dada seperti bunda Fadia lakukan.


"Ayo masuk-masuk," ajak Buya Niko.


Joko pamit setelah semua selesai, ia mengembalikan kunci mobil pada Daffi yang sedang berada di kandang sapi.


Sedang Gadhing saat mengetahui Jimmy ikut serta memilih pergi dari rumah lewat pintu belakang. Sakit rasanya melihat Nasya sudah memiliki yang lain.


Bunda Fadia dan Nasya berada di dapur sedang membuat teh untuk Buya Niko dan Jimmy. Nasya hanya diam saja karena bingung harus memulai pembicaraan bagaimana dengan bunda Fadia.


"Nasya siapa dia, nak?" tanya bunda Fadia.


Sedangkan Nasya memejamkan mata sejenak karena tahu akan ditanya seperti ini pada wanita yang sudah membesarkan nya.


"Di-dia mas Jimmy, Bun."


Nasya tertunduk tidak berani menatap bunda Fadia. Karena ia tahu bila sang bunda masih menaruh harapan untuk hubungannya dengan Gadhing.


"Kamu pasti tahu apa maksud bunda, kan?" tanya bunda Fadia lembut tapi sangat mengintimidasi.


"Minuman dan cemilan nya segera bawa ke depan, Bun. Enggak enak sama tamu. Nanti saja kita bicarakan masalah ini," ujar Buya Niko.


Akhirnya bunda Fadia mengangguk. Nasya langsung meraih nampan dan berjalan menuju ruang tamu dengan kepala menunduk.


Nasya meletakkan salah satu gelas berisi teh ke depan Jimmy. "Di minum, mas."


Jimmy mengangguk disertai senyuman. "Makasih, sayang."


Bunda Fadia melihat itu hanya menghela nafas panjang.


Mereka berempat duduk saling berdiam diri. Buya Niko berdehem. "Sudah lama mengenal Nasya?" tanyanya memulai pembicaraan.


Buya Niko tentu tahu maksud dari seorang wanita membawa pria ke rumah orang tua nya itu berarti hendak mengenalkan pria yang sudah serius menuju pelaminan.


Jimmy menatap Buya Niko dengan berani. "Satu tahun kurang lebih, pak."


Buya Niko mengangguk-angguk. "Asli orang mana?"


Jimmy tersenyum. "Saya orang Surabaya keturunan Jawa-Jerman. Mama Jawa dan almarhum papa Jerman," sahut Jimmy tegas.


"Kamu kerja apa?" sebagai seorang ayah, tentu saja Buya Niko tak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan untuk anak gadisnya kedua kalinya.

__ADS_1


Jimmy tersenyum tipis. Sebagai pria tentu saja tahu tujuan Buya Niko. "Jual suku cadang sepeda motor di Surabaya, pak."


Buya Niko hanya tersenyum tetapi berbeda dengan bunda Fadia yang tercengang. Sedangkan Nasya tak percaya dengan apa yang dijawab Jimmy. Bagaimana bisa pria itu berbohong walau tak sepenuhnya?


"Kamu tahu kalau Nasya pernah menikah?" tanya Buya menatap dalam ke mata Jimmy.


Dengan tegas Jimmy mengangguk. "Saya tahu, pak. Dan saya juga tahu pernikahan Nasya juga gak bahagia," jawab Jimmy membuat bunda Fadia tampak tak suka.


"Bagaimana kamu bisa menghidupi Nasya kalau hanya berjualan suku cadang sepeda motor? atau kamu mau numpang hidup dengan Nasya?" cecar bunda Fadia membuat Buya Niko dan Nasya terkejut.


"Bunda," cicit Buya Niko dan Nasya.


Jimmy sendiri hanya diam menatap bunda Fadia. Ia juga tahu bagaimana masalalu wanita paruh baya itu sebelum menikahi kakak dari ibu Nasya, Hanum.


"Yang terpenting saya akan terus bertanggung jawab untuk kebutuhan Nasya. Bapak dan Ibu enggak perlu mengkhawatirkan kekurangan Nasya, karena saya akan terus berusaha memenuhinya," kata Jimmy masih belum mau memberi tahu kekayaan nya.


"Kamu yakin dengan orang ini, Nasya?" tanya Buya Niko beralih menatap Nasya.


Nasya yang di tanya dan ditatap seperti itu menjadi salah tingkah. Matanya juga melirik bagaimana bunda Fadia menatapnya dengan tajam. Sudah dapat dipastikan jika akan ada sesuatu yang tidak mengenakkan setelah ini.


Nasya mengangguk. "InsyaAllah sudah, Buya."


Jimmy menarik nafas panjang. Sebenarnya tahu sikap bunda Fadia menunjukkan ketidaksukaan padanya. Tetapi, sekali lagi ia harus berjuang mendapatkan Nasya.


"Pak, bu, saya sudah memantapkan hati kepada anak bapak dan ibu, begitu juga Nasya dan kami sudah memutuskan bersama."


"Pak, bu, saya sudah memantapkan hati kepada anak bapak dan ibu, begitu juga Nasya dan kami sudah memutuskan bersama.


"Satu tahun bukan waktu yang sebentar saya mengenal anak bapak dan ibu. Kami berdua saling mencintai, jadi saya mau meminta persetujuan untuk melamar dan menikahi anak bapak dan ibu."


"Saya ingin menyampaikan dengan segenap isi hati saya bahwa saya mencintai anak bapak seutuhnya dan izinkan saya untuk menjadi teman hidup Nasya hingga akhir hayatnya pak."


"Dengan tulus hati dan penuh tanggung jawab saya ingin meminta restu kepada bapak dan ibu agar bisa menarungi hidup bersama," ucap Jimmy pasti membuat Nasya melongo karena pria itu tidak ada memberi tahu sebelumnya.


 "Mas," gumam Nasya membuat Jimmy tersenyum padanya.


"Aku gak mau khilaf, Sya. Aku takut dosa," kata Jimmy seakan tahu yang dimaksud Nasya.


Buya Niko tersenyum dan mengangguk. "Sebagai orang tua, Buya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian."


❤️


Penasaran dengan tanggapan Bunda Fadia gak?


Tembus komen 20, emak up lagi gaes

__ADS_1


__ADS_2