
Nasya hendak menyuapi Noni tetapi ketika sendok sudah berada tepat di depan mulut Noni memalingkan muka.
"Aku hanya mau makan kalau suamiku yang suapi," kata Noni ketus.
Nasya yang sedang buru-buru hanya bisa menghela nafas. Tanpa mengatakan apapun, ia meraih ponsel di atas meja kecil dekat brankar Noni.
Ia menghubungi Suster Retno agar menyampaikan keinginan Noni setelah selesai mengoperasi pasien dan juga pamit untuk pergi bekerja.
Tanpa pamit, Nasya pergi meninggalkan Noni sendiri. Hari ini ia tidak masak, koki Rumah Makan yang memasak.
Ia menaiki angkutan umum menuju Rumah Makan Cintarasa mengambil dua bekal yang di pesan kemudian diantar Joko menuju Perusahaan Jimmy.
"Gimana keadaan Noni?" tanya Joko disela fokus nya pada jalanan yang tidak terlalu macet.
Nasya menghela nafas dalamenatap keluar jendela. "Begitulah. Aku kasihan," sahut Nasya bergumam.
Joko cukup terkejut atas jawaban Nasya. Ia menoleh sekilas lalu fokus pada jalanan lagi. "Setelah perbuatan nya ke kamu?"
Nasya mengangguk. "Aku bersyukur, kebejatan Noni dan Dimas terbongkar sebelum kami menikah, kak."
Joko mengangguk paham. "Jadi gimana hubungan mu dengan Pak Dokter?" tanya Joko pada Nasya. Ia sudah menganggap Nasya seperti adiknya sendiri.
"Mas Gadhing enggak sekaku dan seketus dulu," sahut Nasya lirih. Ia merasa begitu banyak cobaan pada cinta nya untuk Gadhing.
Baru saja hendak memulai hubungan baik dengan Gadhing, ia harus dihantam dengan kenyataan bahwa kakak madu nya mengidap menyakit dan pasti membutuhkan Gadhing lebih banyak.
Ia berpikir, bagaimana caranya tetap bisa merawat Noni tetapi juga bisa memiliki waktu berdua bersama Gadhing.
Malam pertama yang indah sudah terbayang harus di tunda lagi.
"Sya. Apa aku saja yang mengantar ke dalam?" tanya Joko melihat Nasya melamun, padahal mobil sudah berhenti.
Nasya sedikit tersentak lalu memaksa tersenyum. "Aku saja, kak."
"Baiklah. Hati-hati. Kakak pergi dulu," kata Joko setelah Nasya keluar dari mobil dan melihat ke arahnya karena jendela kaca tersebut terbuka.
"Iya," Nasya turun dari mobil dan langsung melangkahkan kaki memasuki gedung yang sangat besar itu.
Nasya memasuki lift yang ternyata juga ada orang disana. Di tekan tombol 30, kemudian pintu lift tertutup.
__ADS_1
Nasya tidak tahu jika ia menjadi bahan bisikan-bisikan karyawan di belakang nya. Bahkan ketika beberapa karyawan itu keluar dari lift sempat melirik ke arah Nasya.
Ketika mereka melirik ke arah Nasya, ia sadari tetapi tak menghiraukan mereka karena merasa tak memiliki urusan apapun pada mereka.
Nasya keluar dari lift setelah tiba di depan pintu ruang kerja Jimmy. Ia segera mengetuknya, setelah mendengar teriakan kata 'masuk', Nasya pun masuk ke ruang kerja itu.
"Assalamualaikum. Maaf, saya terlambat pak!" kata Nasya tak enak hati.
Jimmy yang masih fokus pada laptop hanya melirik sekilas. "Waalaikumsalam. Duduklah," kata Jimmy.
Nasya mengangguk lalu duduk di sofa yang tak jauh dari meja kerja Jimmy. Rasanya ia seperti mengurus dua suami.
Eh!
Nasya menggeleng. Karena Jimmy hanya partner kerja dan Gadhing adalah suaminya. Cukup lama ia menunggu semakin membuatnya bosan. Bukan tidak ingin pergi dari ruangan, tetapi tidak etis bila pergi dari ruangan tersebut padahal dirinya di persilahkan duduk dengan sopan tadi.
Sekitar setengah jam kemudian, Jimmy melepas kacamata bacanya, kemudian bangun dari duduk dan mendekati sofa, duduk berhadapan dengan Nasya.
"Kamu datang terlambat hari ini," kata Jimmy tanpa ada sikap menyebalkan dimata nasya.
Nasya mengangguk. "Ada urusan keluarga," sahut Nasya terdengar santai.
Jimmy tersenyum miring mendengar sahutan Nasya. Tentu saja ia mengetahui kenapa Nasya datang terlambat. Bahkan, ketika mencoba bekal yang dibawa Nasya pun tahu jika masakan ini bukan masakan Nasya seperti kemarin.
Semenjak memutuskan menunggu janda Nasya, ia mempekerjakan beberapa orang untuk mencari informasi dan menjaga Nasya.
Jimmy tidak tahu semenjak kapan merasa tidak rela bila Nasya akan tersakiti. Apalagi mendengar informasi pagi tadi bila Nasya berada di Rumah Sakit sedang merawat Noni.
Nasya sendiri tertegun mendengar pertanyaan Jimmy barusan. Bagaimana pria itu tahu? sementara tidak ada yang pergi kemana-mana.
"Sudah saya bilang, lebih baik menjadi istri saya maka hanya kamu satu-satunya Nyonya di rumah saya."
Percayalah. Jimmy berniat melamar tetapi lamaran itu tidak romantis ataupun lemah lembut seperti berbicara kepada sang kekasih. Melainkan terdengar seperti sedang menawarkan kerjasama kepada rekan bisnisnya.
Nasya menggeleng seraya mencebik. Rasanya ingin sekali mengumpat Jimmy karena berbicara sembarangan.
"Maaf, Pak. Apa Bapak lupa kalau saya sudah bersuami?" tanya Nasya heran dengan pria di hadapan nya ini yang baru saja menyelesaikan sarapan.
Seperti rumor mengatakan, seorang Jimmy Soecipto adalah pebisnis muda berusia tiga puluh lima tahun, berstatus duda beranak satu.
__ADS_1
Setelah perceraiannya dengan Diana empat tahun lalu membuat seorang Jimmy berubah sikap menjadi dingin dan mudah marah dengan apapun yang mengganggu dirinya.
Tetapi lihatlah, baru saja beberapa hari mengenal dan berurusan dengan Jimmy justru bukan sikap dingin dan mudah marah yang ditemui Nasya.
Justru sikap menyebalkan dan banyak bicara lah yang dilihat Nasya.
"Saya permisi, Pak. Tugas saya sudah selesai. Saya permisi," Nasya bangun dari duduk diikuti Jimmy juga bangun dari duduknya.
"Biar saya antar," kata Jimmy.
Nasya terbelalak. "Jangan, pak."
Jimmy mencebik. "Saya tidak suka penolakan."
*
*
Di salah satu warung kopi terkenal di Kota Surabaya, Dimas menikmati segelas kopi hitam pekat di tangan nya.
Pikiran nya menerawang jauh ke depan, bagaimana nasib hidupnya jika menjalani hidup yang masih sama seperti ini?
Usia nya sudah 27 tahun, sudah waktunya berubah dan mempersiapkan diri untuk berumah tangga.
Dimas mulai jenuh menjadi pelampiasan naf su Noni dan hatinya mulai lelah mencintai wanita yang sudah bersuami itu.
Apalagi memikirkan setiap nasihat sang ibunda agar berubah dan meminta maaf kepada Nasya.
Dimas teringat saat dipaksa Noni agar menabrak Nasya di depan Rumah Sakit. Awalnya ia tak mau, tetapi setir nya ditarik Noni sehingga menyerempet Nasya.
"Loh, mas Dimas?" tanya seorang gadis sedang mencari kursi kosong tetapi tidak ada selain kursi di hadapan Dimas.
Dimas tersesat sekilas kemudian berdehem dan memperbaiki duduk. "Iya. Kamu Amanda, kan? sahabatnya Nasya dan Noni," kata Dimas ramah.
Amanda tersenyum lalu mengangguk. Ia juga tahu siapa Dimas bagi dua sahabatnya.
Dimas tersenyum. "Duduklah, gak perlu menunggu aku menyuruh mu!" katanya risih melihat Amanda berdiri sedang dirinya sedang duduk.
"Kakak kapan menikah?" tanya Amanda ngasal.
__ADS_1
"Nikah sama siapa? sama kamu?"
Eh!