Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
96. JSAMS


__ADS_3

"Mas hati-hati. Jaga kesehatan," ucap Nasya pada Jimmy saat hendak berangkat ke Jakarta.


Ini adalah kali pertama Nasya ditingga pergi oleh Jimmy setelah mereka menikah.


"Mas akan usahakan pulang secepatnya, sayang. Jangan lupa makan teratur, minum vitamin, dan susu hamil nya sebelum tidur."


Nasya tersenyum dengan mata terpejam merasakan elusan jemari Jimmy di pipi nya. "Aku tunggu kepulangan, mas."


Jimmy mengangguk lalu melabuhkan banyak kecupan di seluruh wajah Nasya. Sangat tidak rela meninggalkan istri tengah berbadan dua. Tetapi, pekerjaan kali ini tidak dapat di tinggal.


"Assalamualaikum, sayang."


"Waalaikumsalam."


*


*


Nasya masuk ke dalam mobil setelah mengantarkan Jimmy ke Bandara. Ingin sekali rasanya pulang ke Perumahan Nasional dimana rumah lama nya berada.

__ADS_1


Ia akan merasa sangat kesepian karena hanya seorang diri di mansion sebesar itu. Dan pergerakan nya selalu terpantau oleh orang-orang pekerja di rumah.


"Pak. Ke Perumahan, ya. Saya mau ke rumah teman sebentar," kata Nasya tersenyum mengingat bayi laki-laki Dimas dan Amanda yang sangat mungil itu.


Ah, mengingat bayi membuatnya merindukan Emier. Namun, ia tak ingin mengunjungi rumah Retno. Itu ia lakukan untuk menjaga perasaan Retno sendiri.


Beberapa saat kemudian mobil yang membawa Nasya telah sampai di pekarangan rumah Amanda.


"Makasih, pak!" ucap Nasya sopan saat sang sopir membukakan pintu untuk nya.


"Hati-hati, Bu. Jangan angkat berat-berat," sang sopir menyampaikan pesan dari Jimmy.


"Iya," jawab Nasya merasa geli diingatkan orang lain selain suaminya. Walau ia tahu orang lain memberi peringatan atas perintah sang suami.


Pintu terbuka disertai jawaban salam dari Nasya. "Waalaikumsalam."


Nasya tersenyum lalu meraih dan mencium punggung tangan wanita paruh baya di hadapan nya.


"Ibu apa kabar? kenapa gak kabari kalau datang ke Surabaya, Bu? aku rindu," ucap Nasya beruntun membuat ibu Elsa (ibu Amanda) tertawa kecil.

__ADS_1


Ibu Elsa merangkul Nasya dan mengajaknya masuk ke dalam. "Semalam ibu sampai disini. Ibu gak enak hati ganggu kamu," terang ibu Elsa.


Amanda melihat Nasya pun tersenyum senang.


"Wah.. Reza sudah tengkurap. Cepat ya, mbak." Nasya girang melihat bayi Reza sudah tengkurap.


Nasya langsung duduk di samping bayi laki-laki dengan binar bahagia.


"Iya. Pertumbuhan nya sangat cepat. Oh iya, kemana suami kamu, Sya?" tanya ibu Elsa.


"Suami Nasya pergi keluar kota."


Ibu Elsa mengangguk mengerti. "Gimana hubungan kamu dan Gadhing?" tanya ibu Elsa.


"Ibu. Mereka sudah baik-baik saja," Amanda merasa tidak enak hati. "Maafin Ibu ya, Sya."


Nasya tersenyum disertai anggukan lalu menatap ibu Elsa. "Aku sengaja membuat jarak, Bu. Aku kenal mas Gadhing dari dulu. Bagaimana dia marah, cemburu, kesal, senang, dan bagaimana dia menatap ku sekarang. Aku tahu apa yang dirasakan mas Gadhing, tapi aku gak mau mbak Retno salah paham."


Bukan tidak mengetahui bagaimana sikap Gadhing saat sedang bersama nya dan Jimmy. Ia tahu tatapan Gadhing seperti apa. Tetapi, seperti yang dikatakan Nasya barusan, ia tak ingin Retno salah paham terhadapnya.

__ADS_1


Ibu Elsa menggenggam tangan Nasya. "Ibu mengerti. Jaga lah rumah tangga kamu, nak. Jangan adalagi perpisahan. Setiap rumah tangga pasti ada saja rintangan. Yang terpenting komitmen selalu bersama apapun yang terjadi selain ajal menjemput," terang ibu Elsa membuat Nasya manggut-manggut.


Lindungi mas Jimmy, ya Allah.


__ADS_2