Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
57. JSAMS


__ADS_3

Jimmy merenggangkan otot karena merasa pegal duduk di kursi Kereta Api yang sudah sangat tipis busanya dan terlalu lama duduk tanpa mengubah posisi karena Nasya tertidur hampir sepanjang perjalanan.


"Maaf ya, mas."


Jimmy langsung menatap Nasya dan merasa bersalah telah membuat Nasya tak enak hati padanya.


"Sudah jangan minta maaf terus. Mas gak kenapa-kenapa, sayang. Ayo kita turun," ajak Jimmy setelah Kereta Api telah berhenti sempurna dan pengumuman telah sampai di stasiun Malang kota lama.


"Jauh gak ke rumah kamu?" tanya Jimmy.


"Lumayan."


Jimmy mengambil alih koper milik Nasya dan menarik bersamaan dengan kopernya. Sementara Nasya melihat sekitar stasiun yang sudah sangat lama tak pernah dikunjunginya.


Terakhir kali berada disini dua tahun lalu saat bersama Dimas. Nasya mengajak Jimmy menyeberang jalan menuju taman Trunojoyo.


Taman yang ditandai tiga patung singa berukuran raksasasa ini punya air mancur, permainan anak, dan perpustakaan kecil. Karena dipayungi pohon beringin, taman ini cukup teduh.


"Kenapa gak langsung ke rumah keluarga kamu, Sya?" tanya Jimmy seraya mengikuti Nasya duduk di bawah pohon beringin.


"Kak Joko masih dalam perjalanan menuju kesini. Jadi kita menunggu disini saja," sahut Nasya mengambil ponsel dan melakukan berselfi ria.


Jimmy mengangguk mengerti karena sudah tahu mengapa Joko juga berada disini karena pemuda itu teman Amanda sewaktu sekolah.

__ADS_1


Jimmy juga mengambil ponsel dalam saku kemudian memotret Nasya dalam foto candid.


"Mas. Jangan foto aku terus," Nasya menutup wajah dengan telapak tangan membuat Jimmy tertawa.


"Apaan, sih." Kata Nasya lagi sewot.


"Sebentar. Mas beli minum dulu," Jimmy bangkit kemudian mendekati pedagang asongan yang tak jauh dari mereka.


Jujur saja. Ini adalah pengalaman pertama datang ke desa tanpa ada kenderaan. Persis seperti teman-teman kuliah nya dahulu.


Jimmy menyerahkan air mineral kepada Nasya setelah membuka kan botol yang masih bersegel.


"Makasih, mas."


Dari tempat Joko berdiri, ia memicing melihat Nasya duduk bersama seorang pria. Ia tersentak karena pria tersebut adalah Jimmy.


"Waduh," cicitnya kemudian menoleh ke arah mobil dan melihat keadaan kendaraan tersebut.


"Seriusan pak Jimmy mau naik mobil begini? mana mobil buat angkat sapi, lagi."


Joko yang sudah terlanjur naik mobil itu pun hanya pasrah. Ia berjalan mendekati Nasya dan Jimmy.


"Nas," panggil Joko membuat Nasya dan Jimmy menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Kita langsung pulang saja, ya. Mobilnya mau di bawa mas Daffi," tutur Joko hendak mengambil alih koper milik Nasya dan Jimmy.


Tetapi Jimmy tak memberikan koper milik Nasya. "Jangan sentuh barang apapun yang menyangkut milik Nasya," kata Jimmy dingin dan tatapan nya begitu tajam kepada Joko.


Nasya terkekeh. Semakin kesini, ia merasa bahwa Jimmy mulai berani menampakkan rasa cemburunya.


Sedang Joko menjadi kikuk karena reaksi Jimmy begitu. Padahal, tak ada niat apapun selain membantu saja.


Nasya terkejut ketika melihat mobil yang hendak mereka tumpangi karena mobil tersebut adalah mobil mengangkut sapi.


"Kak Joko. Kenapa mobil sapi? mobil kita yang kakak bawa kemana?" cecar Nasya kemudian menoleh menatap Jimmy yang masih menatap mobil tersebut.


"Dibawa mas Daffa jemput istrinya ke terminal, Sya." Joko merasa bingung seraya menggaruk kepala yang tak gatal.


"Mau bagaimana lagi? sudah ayo kita berangkat saja," tutur Jimmy walau hatinya meringis.


"Mas gak apa-apa?" tanya Nasya seperti sudah memahami isi kepala Jimmy.


Jimmy menoleh dan menunduk menatap Nasya seraya tersenyum. "Gak apa, sayang. Ayo," ajak Jimmy kemudian membuka pintu bag Nasya.


Sedang di kediaman Buya Niko dan Bunda Fadia. Gadhing terus berjalan mondar-mandir menunggu kedatangan Nasya.


Gadhing belum tahu jika Jimmy turut serta. "Ini kesempatan aku mendekatimu lagi, Nasyama."

__ADS_1


__ADS_2