
Gadhing tersenyum sepanjang lorong hingga berada di luar Rumah Sakit dengan sebuah kotak kardus berisi barang-barang pribadi miliknya yang berada di ruang kerja nya selama bekerja di sana.
Beberapa saat lalu, Gadhing mendatangi Rumah Sakit dimana ia bekerja selama ini atas undangan Pemilik Rumah Sakit tersebut.
Perihal undangan itu untuk permintaan maaf dan mengadakan konferensi pers dengan tujuan membersihkan nama baiknya yang telah tercemar akibat kesalah pahaman akibat ulah Dena.
Gadhing datang sesuai undangan pemilik Rumah Sakit dan menerima permintaan dari mereka. Tetapi, ia menolak untuk bekerja di Rumah Sakit itu lagi tepat dihadapan para awak media.
Selain kecewa, ia juga benar-benar ingin pensiun dari pekerjaan nya yang sangat menguras waktu sehingga waktu untuk keluarga sangat minim.
Beberapa saat kemudian mobil yang dinaiki Gadhing telah sampai di depan rumahnya. "Assalamualaikum," sapanya dan langsung disambut kedua putranya.
"Maaf papi lama, ya. Kalian sudah makan?" tanya Gadhing seraya menghempaskan bobot tubuhnya di sofa.
"Sudah, Pi. Tadi makan di suapi Mbak sus!" sahut Emier yang sudah mengerti keadaan sekitar.
Dua hari lagi keberangkatan mereka ke Jerman tanpa memberi tahu Nasya dan Gadhing sudah merasa tidak sabar waktu itu segera hadir.
__ADS_1
"Papi mandi dulu, ya. Setelah itu kita cari oleh-oleh untuk mami dan kedua adik kalian," tutur Gadhing membuat kedua putranya bersorak gembira.
"Abang. Kita mau naik pesawat?" tanya Asnan si paling baik budi.
Emier mengangguk. "Iya. Nanti kita bisa lihat langit," jawabnya antusias.
Sesuai yang dikatakan Gadhing, setelah membersihkan diri dan bersiap, ketiganya pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli sesuatu yang dibutuhkan selama berada dalam perjalanan menuju Jerman.
Gadhing tersenyum melihat deretan pakaian bayi di salah satu toko disana. Rasanya ingin sekali memiliki anak dari Nasya.
Gadhing mengikuti arah jemari Emier yang menunjuk salah satu sepatu anak perempuan. Ia tersenyum seraya mengacak rambut anak sulung nya karena merasa sangat perhatian kepada adik sambungnya.
"Ayo kita beli dan pilih buat mami juga Azzam," ajak Gadhing dan disetujui oleh Emier dan Asnan.
Lagi-lagi Gadhing merasa bersyukur melihat keantusiasan kedua putranya untuk memilih barang yang akan diberikan kepada ibu dan saudara sambung mereka.
Gadhing menjadi lebih tidak sabar akan bertemu istri nya. Rasanya sangat berat menjalani pernikahan namun tidak bersama.
__ADS_1
Setelah puas berbelanja, Gadhing membawa kedua putranya kembali pulang. Sesampainya di rumah, Asnan langsung masuk ke dalam karena sudah tahu bila Buya Niko dan bunda Fadia sudah datang. Sementara Emier membantu Gadhing membawa belanjaan mereka.
"Sepatu adik Zurra biar Emier yang simpan ya, Pi!" pinta Emier dengan senyum manis nya.
Gadhing tersenyum dan mengizinkan permintaan Emier.
Bunda Fadia terus saja memeluk dan mencium Emier dan Asnan karena sebentar lagi akan berpisah dalam waktu lama dengan anak dan cucu-cucu nya.
"Kenapa harus ke Jerman?" tanya bunda Fadia masih merasa belum rela jika harus jauh dengan anak dan cucu-cucu nya.
"Karena tanggung jawab Nasya besar, Bun. Ada ribuan karyawan almarhum pak Jimmy yang harus diberi gaji," jawab Gadhing setelah duduk di sofa.
Awalnya juga Gadhing tidak rela bila Nasya tinggal Jerman, tetapi setelah mendengar penjelasan Rispan bila Perusahaan Jimmy di Jerman lebih besar dari PT. Istana Tiara yang ada di Surabaya.
"Gadhing memilih pindah ke Jerman juga mengurangi kecemasan Nasya yang gak bisa jalani kewajiban sebagai isteri," imbuh Nasya lagi.
Bunda Fadia berdecak. "Dasar kamu yang gak bisa jauh dengan Nasya!"
__ADS_1