
"Haruskah kita pindah secepat ini?" tanya Nasya sekali lagi.
Jimmy mengatakan jika mereka harus pindah ke Jerman karena Perusahaan milik almarhum ayah nya mengalami masalah lagi.
Jimmy merengkuh tubuh polos Nasya lalu mengecup pucuk kepala dengan sang istri. "Lebih baik begitu, sayang. Mas enggak mau saat kita harus pindah, kamu dalam keadaan hamil. Yang ada justru kita akan berjauhan karena takut membahayakan kamu dan anak kita," terang Jimmy seraya memainkan rambut panjang Nasya.
Nasya menengadah menatap Jimmy yang juga sedang menatapnya. Matanya terpejam Jimmy mengecup bibirnya. "Baiklah. Tapi kita ke Malang sebelum berangkat, ya."
Jimmy mengangguk. "Itu harus, sayang."
Nasya tersenyum, menyembunyikan wajah di dada, kemudian memeluk Jimmy. "Aku ngantuk, mas."
Jimmy terkekeh lalu mengeratkan pelukan. "Tidurlah. Mas sudah puas malam ini," bohong jika benar telah puas. Nyatanya, setiap kali melihat Nasya tidak memakai hijab dan mengenakan seragam malam membuatnya tidak tahan untuk tidak menyentuh istrinya.
*
*
"Aku sudah katakan, kamu harus banyak istirahat."
Retno hanya tersenyum tanpa menanggapi. Ia bersandar pada headboard, menatap Gadhing yang tampak cemberut.
"Jangan cemberut. Aku baik-baik saja, Dhing."
__ADS_1
Gadhing berdecak. "Aku bukan menolak kehamilan kamu, Retno. Tapi sudah aku katakan kehamilan kamu terlalu dekat dan berbahaya untukmu. Kamu itu punya riwayat darah tinggi dan sekarang, hemoglobin kamu rendah. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa," cicit Gadhing lirih. Ia jujur dengan perkataan nya bahwa tidak ingin ibu dari anak nya itu kenapa-kenapa.
Kehamilan dengan jarak berdekatan dapat menyebabkan hemoglobin rendah. Dan inilah yang tengah dialami Retno.
Retno menatap Gadhing yang menunduk. "Apa kamu khawatir dengan ku?"
Seketika Gadhing langsung menatap Retno dengan tatapan tajam. "Apa maksud kamu bertanya seperti itu?" tanyanya dingin tanpa menjawab pertanyaan dari Retno.
Bagi Gadhing, pertanyaan Retno adalah pertanyaan tidak masuk akal yang tidak perlu dipertanyakan istri kepada suami. Karena, mau bagaimana pun perasaan suami, tetap saja akan khawatir dengan istrinya.
"Bu-bukan begitu, mas. Aku hanya bertanya," Retno menjadi gugup saat bertatapan dengan tajam Gadhing.
"Jangan hanya karena kamu melihat foto Nasya berada di ruang kerjaku, kamu langsung berpikir yang enggak-enggak, Retno."
Gadhing bangun dari duduknya dari tepi ranjang. "Istirahatlah. Aku harus kembali ke Rumah Sakit, setelah itu langsung menjemput Emier di mansion Nasya."
*
*
"Sayang," panggil Jimmy membuka pintu kamar Tiara dimana Nasya sedang berada di dalam kamar tersebut bersama Emier.
"Ssuuttsss.. Pelankan suaranya, mas." cicit Nasya membuat Jimmy nyengir kuda.
__ADS_1
Jimmy lupa jika Emier sudah dua hari menginap di mansion nya. Beruntung balita laki-laki itu sangat baik budi dan tidak rewel.
Jimmy nyengir kuda disertai garukan pada tengkuk leher nya. "Dasi mas belum kamu pasangin," keluh nya.
Nasya bangkit dari ranjang secara perlahan lalu mendekati Jimmy. "Kita di kamar saja, mas."
Jimmy mengangguk dan tidak membiarkan Nasya berjalan lebih dahulu ataupun dibelakangnya. Tangan nya merangkul sang istri begitu posesif.
Setelah berada di dalam kamar, Nasya langsung naik ke atas ranjang.
Jimmy memeluk pinggang Nasya dan membiarkan istrinya itu fokus pada dasi yang melingkar di lehernya.
Nasya mengecup kening Jimmy setelah selesai memasangkan dasi. "Aku cantik, nggak?" tanya nya, saat ini ia belum mandi lagi setelah selesai memasak sarapan.
Jimmy hanya diam memerhatikan wajah Nasya. "Sangat cantik."
Senyuman Nasya mengembang. Bagaimana seorang wanita lainnya, ia merasa terbang keawan saat Jimmy memuji nya.
"Kalau suatu saat nanti aku gendut gimana, mas?"
"Tetap cantik, sayang. Tapi kalau kamu kurang percaya diri, kita akan olahraga bersama."
Nasya mengangguk. "Minggu depan masuk bulan Ramadhan, nanti kita ke pasar ya."
__ADS_1
Tubuh Jimmy menegang mendengar ucapan Nasya. "Itu berarti gak boleh cium kamu dong, sayang."
Nasya berdecak. "Dasar mesum,"