
"Bisakah kamu awasi Gadhing, Ris? Aku khawatir Nasya terganggun karena pria itu," kata Jimmy seraya mengacak rambut karena sangat frustasi.
Ia marah dan cemburu sekaligus setelah melihat Nasya menangis kemarin.
Marah karena seseorang telah membuat pujaan hatinya menangis dan merasa cemburu karena pujaan hatinya satu mobil bersama pria itu, orang yang pernah begitu di puja oleh gadisnya.
"Apa kita lenyapkan saja?" tanya Rispan.
Jimmy menggeleng. "Aku hanya menyuruhmu mengawasi bukan berarti melenyapkan, Ris. Itu dosa dan aku gak mau menjadi boomerang untuk hubunganku dengan wanitaku," ungkap Jimmy tulus.
Mungkin dahulu dengan mudah Jimmy membereskan sesuatu yang menghalangi kemauannya.
Tetapi tidak dengan sekarang. Jimmy benar-benar menikmati apa yang dinamakan PERJUANGAN.
Jimmy ingin membuktikan pada Nasya bila perasaan nya serius dan pantas untuk gadis itu.
Jimmy tersenyum melihat pesan singkat yang dikirim Nasya beberapa saat lalu saat sedang rapat.
Calon istri❤️ : Sarapan nya sudah aku kirim ke Kantor, mas. Dan aku sekarang ada Rumah Sakit temani Tiara.
"Ris. Apa kamu sudah sarapan?" tanya Jimmy.
"Belum, pak."
"Oh," kata Jimmy kemudian membuka bekal dengan senyuman yang terus mengembang.
__ADS_1
Sedangkan Rispan melongo mendengar jawaban terakhir Jimmy. Gelengan kecil dari kepalanya ketika menyadari ada yang aneh terhadap sang bos.
Aku pikir akan ditawari sarapan bersama. Padahal bekal yang di bawa Nasya sangat banyak.
Rispan permisi hendak sarapan di kantin kantor karena memang terbiasa tidak sarapan pagi-pagi sekali.
*
*
"Papi kemana, mi?" tanya Tiara yang sudah tampak lebih segar dan sehat.
Hanya kaki nya saja yang masih di perban. Kini Tiara, Nasya, dan Hana si pengasuh sudah selesai bersiap untuk pulang.
Hanya menunggu Jimmy untuk menjemput, tetapi tak kunjung tiba.
Nasya mencoba memberi pengertian kepada Tiara agar tetap tenang dan berpikir positif mengenai sang papi.
Walau dirinya juga sudah dalam perasaan kesal karena Jimmy tak dapat dihubungi.
Beberapa saat kemudian pintu ruang perawatan Tiara terbuka dan terlihatlah Jimmy masuk ke dalam ruangan itu.
Nasya menatap Jimmy tanpa kedip. Untuk pertama kalinya ia merasa sangat terpukau melihat penampilan pria itu.
Bukan pakaian jas yang selalu melekat ataupun bertelanjang dada. Penampilan Jimmy masih sama, berkemeja lengan panjang. Tetapi, kopiah yang berada di kepala Jimmy membuat pria itu tlsangat memesona dimata Nasya.
__ADS_1
"Maafin Papi, sayang. Tadi papi sholat dulu di musholla rumah sakit ini," kata Jimmy seraya melepas kopiah, dilipat dan hendak di masukkan ke kantongnya.
Jimmy menoleh ke arah Nasya dan baru mengetahui jika gadis pujaan hatinya tengah memperhatikannya tanpa berkedip.
Jimmy meminta Hana untuk menunggu di luar dan ia juga meminta anak nya untuk tidak bersuara.
Ia melangkahkan kaki pelan mendekati Nasya dan sudah berdiri dihadapan Nasya.
Entah keberanian dari mana, Jimmy mengecup punggung tangan nya sendiri lalu menempelkan ke pipi Nasya.
Nasya tersentak lalu kepalanya menengadah, ia bertambah kaget ketika baru sadar jika Jimmy sudah berada dihadapan nya.
"Sejak kapan mas berdiri disini?" tanya Nasya menundukkan kepala.
"Baru saja. Mas tahu kalau mas ganteng," tutur Jimmy membuat Nasya tak berkutik.
"Jangan menatapku seperti itu, mas."
Siapa yang tahan bila ditatap seorang pria sangat dalam seperti ini. Apalagi oleh pria yang sudah membuat hatinya selalu tersanjung.
Jimmy terkekeh. Ingin sekali rasanya memeluk, membelai kepala yang terbungkus hijab, lalu menghujani kecupan-kecupan sayang ke kepala.
Tetapi, sekali lagi Jimmy menekan kan bahwa Nasya adalah gadis terhormat.
Mereka telah bersiap dan sekarang sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Pi. Tiara mau bobok di rumah mami."