Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
69. JSAMS


__ADS_3

*Assalamualaikum, Kesayangan.


Bagaimana kabar hari ini?


Harus sehat dan bahagia, ya..


Rasanya aku gak sanggup bila senja akan tiba, karena jika senja telah tiba itu berarti kamu baru saja membaca surat ini walau aku gak tahu pada senja yang ke berapa setelah aku tulis ini untukmu.


Rasanya aku tak ingin senja tiba dan kamu akan membaca surat ini. Karena, aku masih ingin merasakan bagaimana kamu merindukan aku. Tetapi, setelah membaca surat ini maka yang akan terjadi setelahnya kamu akan sangat membenciku.


Maaf*.


*AKU MEMILIH MENYERAH.


AKU SUDAH MEMILIKI KEHIDUPAN BARU. BAHKAN BEBERAPA HARI SETELAH KITA BERPISAH.


INILAH ALASAN MENGAPA AKU TIDAK BERPAMITAN LANGSUNG PADAMU.


TERIMAKASIH TELAH MENYAYANGI TIARA HINGGA SEKARANG. TAPI GAK PERLU KHAWATIR LAGI MASALAH ANAKKU.


AKU HARAP, SAAT MENIKAH DENGAN GADHING, KAMU MEMAKAI GAUN PENGANTIN YANG AKU BERIKAN.


BUKANKAH KAMU MENYUKAI WARNA UNGU?


SEKALI LAGI TERIMAKASI TELAH MEMGAJARKAN AKU BAGAIMANA ITU PERJUANGAN.


SELAMAT ATAS PERNIKAHAN KAMU.


DARI :


JIMMY SOECIPTO*


...****************...

__ADS_1


Nasya masih diam membisu di kamar menghadap jendela. Tidak menyangka kisah cinta nya stragis ini.


Ia pun berpikir dan meyakini jika ini adalah karma karena telah menjadi orang ketiga di pernikahan Gadhing dan Noni, walaupun pernikahan mereka bermasalah, tetapi seharusnya Nasya tidak berhak ikut campur.


Nasya menyembunyikan wajah diantara kedua tangan yang terlipat di atas lutut. Sungguh rasanya menyesal telah berbuat salah dan berakibat pada kebahagiaan nya.


"Jangan menangis," kata Amanda menghampiri dan merangkul bahu Nasya.


Nasya menegakkan kepala menatap Amanda kemudian menatap keluar jendela kembali.


Setelah menemui Rispan, Nasya tidak kembali ke rumahnya melainkan ke rumah Amanda.


Dimas masuk membawa segelas air minum dan satu piring berisi bubur ayam yang dibuatnya sendiri.


"Jangan salahkan diri sendiri, Sya. Maaf semua ini berawal karena aku," ucap Dimas merasa iba dengan apa yang terjadi pada Nasya.


"Ini salahku," kata Nasya dengan suara bergetar.


Nasya mengambil ponsel disampingnya kemudian memblokir semua aplikasi yang dapat menghubungi Jimmy. Hanya foto saja yang belum dihapusnya.


"Aku sudah memutuskan akses yang dapat menghubungi dia. Cerita kami sudah selesai," ucapnya lirih.


Aku sangat takut melihatmu bersama yang lain, persis apa yang kamu tulis di surat itu. Kamu sudah memiliki kehidupan baru. Tapi, jauh di dalam lubuk hatiku selalu berharap kamu sehat dan bahagia selalu. Itulah bukti cintaku yang berlantunkan doa.


"Jangan larut dari kesedihan. Jangan salahkan diri sendiri," ucap Dimas. Pria itu cukup mengerti bagaimana Nasya karena hampir semua kesalahan seseorang yang menyakitinya pasti gadis itu selalu mencari cela agar dirinya juga bersalah.


Nasya hendak protes tapi Dimas menggeleng.


"Didalam agama kita, karma itu enggak ada. Tapi akan mendapat balasan apa yang telah kita perbuat. Seperti aku sekarang. Untuk makan sehari-hari tercukupi saja sudah bersyukur, jika saja enggak ada pak Jimmy pasti kami akan mengontrak rumah. Sama seperti mas Gadhing, lihat betapa rumitnya hubungan dia dengan Retno. Jadi, kamu harus bersyukur apapun keadaannya."


Nasya hanya diam saja tetapi ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Dimas dan membenarkannya.


*

__ADS_1


*


Hubungan yang kandas meninggalkan serangkaian emosi yang bercampur aduk, kenangan yang menyakitkan, dan rasa sesak. Ini adalah beban yang sering dibawa ketika seseorang dipaksa berhenti untuk menjalin hubungan bersama sang kekasih.


Jika kita pernah mengakhiri suatu hubungan, kita akan tahu bahwa terdapat respons tertentu terhadap peristiwa tersebut. Seperti ada aturan tak tertulis, bahwa kita harus berpikir untuk move on ketika putus dengan seseorang.


Walau dalam hati dan kesendirian Nasya masih sering menangis, apalagi saat melaksanakan sholat.


Nasya tersenyum melihat sepasang pengantin baru yang baru saja sah menjadi suami istri. Ia berjalan maju menuju kearah mereka.


"Selamat ya mas, mbak!" kata Nasya menjabat tangan Gadhing kemudian Retno.


Gadhing tersenyum penuh makna kemudian mendekati Nasya, langsung memeluk gadis itu.


"Katakan kalau kamu benar-benar dalam keadaan baik, Nasyama." Gadhing sudah tahu apa yang sedang menimpa Nasya.


Nasya menepuk pundak Gadhing keras. "Sesak, mas."


Retno tersenyum melihat Gadhing dan Nasya. Bukan karena cemburu, ia tahu Gadhing tak akan melakukan kesalahan, apalagi melihat keseriusan Gadhing mendampingi dan membelanya ketika proses perceraian nya dengan Rian.


Nasya menatap Gadhing dengan senyuman setelah pelukan itu teruai.


"Aku jauh lebih baik, mas."


Bukan tanpa alasan Gadhing menanyakan keadaan Nasya. Selama enam bulan berakhir sejak Jimmy meninggalkan Nasya, sudah beberapa kali gadis itu masuk Rumah Sakit harus dirawat karena jarang makan dan stres berkepanjangan.


Wajar bila Nasya sampai down begitu karena tidak memiliki tempat mengadu selain Allah. Tetapi, gadis itu adalah manusia biasa yang bisa mengalami keterpurukan.


"Mas. Aku boleh foto bersama dengan mas berdua?" tanya Nasya kemudian menatap Retno.


"Berfotolah sepuas kalian," sahut Retno seakan tahu maksud tatapan Nasya meminta izin padanya.


Nasya tersenyum kemudian menarik tangan Gadhing menuju sisi ruangan yang sudah di dekorasi indah.

__ADS_1


Nasya merangkul lengan Gadhing dan keduanya siap di potret. Apalagi ia tampak sangat cantik dengan gaun ungu.


Aku malas menyebut namanya.


__ADS_2