
Hari ini adalah hari pertama Jimmy masuk kerja di Perusahaan nya kembali setelah dua tahun vakum karena sakit akibat kecelakaan yang dialaminya.
Berita kecelakaan dan pernikahan Jimmy juga telah tersebar. Tetapi tidak dengan siapa ia menikah, tidak ada yang tahu. Hal ini dilakukan karena ia berniat akan membuat acara kecil-kecilan di Kantor sebagai syukuran atas kesembuhan dan pernikahan nya.
Bukan maksud untuk merahasiakan, tetapi sejujurnya Jimmy tidak rela orang lain mengetahui dan memandangi kecantikan Nasya.
Ya. Jimmy secemburu dan seposesif itu bila mengenai Nasya.
"Yah.. Kurang rapi, mas. Aku belum mahir," keluh Nasya berulang kali mencoba memakaikan dasi di kerah kemeja yang di kenakan Jimmy.
Bahkan Nasya sampai harus berdiri di atas ranjang karena ketinggian tubuhnya hanya sebatas dada Jimmy.
Jimmy terkekeh. "Enggak apa-apa sayang. Dengan begini, aku bisa berlama-lama memandang wajah cantikmu ini." Ia menoleh hidung mancung Nasya.
"Berhenti memuji ku, mas. Gombal terus," gerutu Nasya yang sedang kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa memasang dasi padahal Jimmy sudah mengajarinya berulang kali.
"Oke, baiklah. Ini sudah jauh lebih rapi dari sebelumnya. Besok belajar lagi, sayang."
Nasya tersenyum mendengar ucapan Jimmy yang mencoba menenangkan dirinya. Ia hendak turun dari ranjang namun dicekal oleh sang suami.
"Jangan turun dulu. Sebagai gantinya, berikan suamimu ini ciuman."
Nasya menggeleng pelan.
Salah. Pikiran yang tadi memuji Jimmy ternyata salah. Ini bisa dikatakan sevuah ganti rugi.
Nasya pun hendak mengecup pipi Jimmy tetapi, alangkah terkejutnya ketika sang suami menoleh menjadi bibirnya mendarat di bibir pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Mata Nasya melotot kala pertemuan antara kedua bibir itu berubah menjadi sebuah lumaatan. Ia terpejam kembali merasa terbuai atas perlakuan Jimmy.
"Sudah, sayang. Mas bisa gak kerja kalau berdekatan sama kamu terus," tutur Jimmy harus menghentikan aksinya agar segera pergi bekerja.
"Jadi mas gak mau dekat aku terus begitu?" jiwa sensitif Nasya meronta.
Jimmy menelan saliva saat tatapan Nasya begitu tajam padanya. Ia merutuki apa yang ia katakan barusan. "Bu-bukan begitu, sayang. Ah, sudahlah. Ayo kita sarapan, pasti Tiara sudah menunggu."
Seketikaraut wajah Nasya yang galak tadi berubah. "Ya ampun, mas. Kita sudah membuat Tiara terlalu lama menunggu," pekiknya langsung menarik tangan Jimmy keluar kamar.
Jimmy hanya menggeleng geli melihat tingkah Nasya. Sesampainya di meja makan, Tiara menatap sengit kedua orang tuanya.
"Buat adik terus sampai lupa makan," kata Tiara membuat Jimmy dan Nasya tersedak air liur nya sendiri.
Jimmy dan Nasya spontan mengambil gelas berisi air minum. Jimmy memberikan nya kepada Nasya begitu sebaliknya.
Dalam kondisi begini pun keduanya mengutamakan kebutuhan pasangan.
__ADS_1
Romantis sekali.
Keduanya tersenyum atas perlakuan mereka sendiri.
Ibu Mayang melihat itu merasa bersyukur karena Jimmy telah menemukan kebahagiaan nya.
"Ehem."
Ibu Mayang mencebik. "Segera sarapan. Ingat anak kalian sudah kelaparan."
Nasya menjadi kikuk langsung mengambilkan makanan di piring Jimmy kemudian Tiara. Tak lupa ia juga menawarkan kepada ibu Mayang. Namun wanita paruh baya itu menolak.
"Kamu yang masak?" tanya Jimmy masih hafal dengan citarasa masakan Nasya.
Nasya menyengir kuda. "Gak enak ya, mas?" tanya Nasya merasa tak enak hati.
"Enak," sahut Jimmy dan Tiara bersamaan.
"Masakan kamu memang enak, Sya. Bubur ayam nya lebih berasa," kata Ibu Mayang semakin membenarkan sahutan ayah dan anak tersebut.
"Terimakasih," ungkap Nasya haru.
Selesai sarapan, Nasya mengantar Jimmy hingga depan pintu utama. "Mas. Boleh siang nanti aku ke rumah mbak Amanda? aku ingin melihat bayi mereka," izin Nasya setelah mencium punggung tangan Jimmy.
Jimmy mengecup kening Nasya. "Boleh. Tapi sama mas," sahut nya dengan wajah datar.
Jimmy menghela nafas. "Mas izinin, sayang. Tapi kamu harus pergi dengan mas."
"Kalau ke Rumah makan boleh? nanti mas jemput aku disana saja."
Jimmy memijat pelipisnya. Ia lupa jika sang istri terbiasa melakukan apapun sendiri tetapi ia menginginkan bila Nasya selalu menyertakan dirinya karena merasa lebih dibutuhkan.
"Kalau begitu kita pergi bersama, sayang. Jangan biasakan apapun sendirian. Aku merasa gak dibutuhkan olehmu," sahutnya menahan amarahnya. Lagi-lagi Jimmy merasa tak berguna karena belum sembuh total.
Nasya tertegun. Nasya berjinjit lalu mengecup pipi Jimmy sekilas. "Aku ambil tas dan ponsel dulu, sebentar."
Nasya segera menuju kamar dan mengambil apa yang dibutuhkan nya. Tak lupa ia memakai lipstik berwarna nude, barulah menyusul Jimmy yang masih berada di luar.
Nasya langsung merangkul lengan Jimmy setiba di depan pintu. "Bermanjalah dengan ku apapun keadaannya, sayang. Jangan hanya di dalam kamar kamu terus manja dan menempel denganku," bisik Jimmy seraya membuka kan pintu mobil bagi Nasya.
Nasya melotot hendak protes tetapi Jimmy segera mendorong pelan agar masuk ke dalam mobil.
Nasya masih menatap Jimmy yang sibuk dengan Ipad nya. "Maaf," ucapnya membuat sang suami menoleh.
Jimmy mengerutkan dahi. "Maaf buat apa, sayang?" tanyanya heran.
__ADS_1
"Maaf kalau aku belum bisa menjadi istri yang mas inginkan."
Jimmy tersenyum lalu merangkul bahu Nasya kemudian memberikan kecupan hangat pada sang istri yang kemudian terpejam.
"Kita belajar bersama, oke. Jangan berkecil hati. Mas juga belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu. Mas hanya ingin kamu selalu melibatkan mas dengan apapun yang kamu lakukan. Mas ingin selalu merasa kamu butuhkan, sayang."
Nasya tersenyum lalu memeluk Jimmy dari samping. "Makasih, mas. Kamu yang terbaik."
Mobil berhenti tetapi Rispan belum juga memberitahukan kepada majikan nya. Bagaimana pun, ia tak ingin mengganggu pasangan halal yang sedang di mabuk cinta.
Lima belas menit kemudian, pasangan halal itu tak kunjung menyadari bila sudah berhenti. Keduanya bukan sedang ninu-ninu. Melainkan saling berpelukan dengan kedua pasang mata itu terpejam.
Bahkan Rispan sempat berpikir yang tidak-tidak sebelumnya saat mendengar Nasya mengucapkan kata terimakasih dan akan berlanjut adegan panas seperti di dunia novel lain nya.
Ternyata tidak dan Rispan cukup kagum melihat pasangan ini yang tidak mengumbar kemesraan yang tidak senonoh di mata orang lain.
"Kita sudah sampai, pak." Akhirnya Rispan membangunkan Jimmy karena pukul 9 akan menghadiri rapat penting.
Jimmy mengerjap mata kemudian menoleh ke arah Rispan kemudian melihat sekita sudah berada di samping Rumah Makan Cintarasa.
Mata Jimmy beralih melihat Nasya yang terlelap di dadanya. "Kamu pasti sangat lelah," gumamnya karena ia tahu Nasya bangun pukul 3 dini hari dan mereka melaksanakan sholat tahajud disambung melayaninya kembali berolahraga panas dan berakhir sebelum sholat subuh, mereka sholat subuh bersama dengan Tiara.
Tidak hanya sampai disitu. Setelah melaksanakan sholat subuh, Nasya pergi ke dapur menyiapkan sarapan, membangunkan Tiara yang tidur kembali setelah sholat subuh, terakhir melayani Jimmy yang hendak pergi bekerja.
"Tolong bukakan pintu, Ris. Aku akan memindahkan istriku lebih dulu," titah Jimmy.
Rispan hanya mengangguk dan melakukan yang diperintahkan oleh Jimmy.
❤️
KABAR GEMBIRAAAAA....
EMAK ADAIN GIVE AWAY BUAT NOVEL INI YA...
PEMENANGNYA AKAN DI TENTUKAN SETELAH NOVEL INI TAMAT.
3 PENDUKUNG TERATAS YANG AKAN AKU LIHAT DI PENGUMUMAN UMUM.
BANYAK-BANYAKIN MENDUKUNG KARYA EMAK YA.. GIFT NYA DI BANYAKIN SAYANG..
PEMENANG 1 : PULSA 30K
PEMENANG 2 : PULSA 25K
PEMENANG 3 : PULSA 15K
__ADS_1
MAKASIH BANYAK YANG UDAH DUKUNG KARYA EMAK.. LOPE U🌹🌹