
"Sayang. Pergilah ke kamar pribadi mas di balik rak buku itu, disana ada beberapa hadiah yang akan kita bawa ke rumah teman kamu. Kita akan berangkat satu jam lagi," ucap Jimmy memerintah Nasya, ia menunjukkan tak buku yang terletak di belakang meja kerjanya.
Nasya mengikuti arah jemari Jimmy yang menunjuk rak buku. "Pintunya sebelah mana, mas?" tanyanya saat tidak melihat sebuah pintu disana.
Jimmy tidak menjawab. Ia bangkit dari duduk dan mengulurkan tangan dihadapan Nasya agar istrinya itu ikut bangkit.
Jimmy menuntun Nasya menuju rak buku yang berada tepat di belakang meja kerjanya. Lalu ia menggeser dua buku besar berwarna cokelat dan terlihatlah sebuah patung kecil dengan pose menari. Ia sentuh dan kemudian rak buku tersebut berser dan menampakkan sebuah ruangan, kamar mewah mirip di mansion mereka.
Nasya menganga karena begitu terpukau. Bahkan ia berdecak kagum karena bisa melihat seperti ini sama dengan apa yang dibacanya di aplikasi novel.
Jimmy mengajak Nasya memasuki kamar pribadinya. "Kamu tunggu disini, ya. Mas kerja dulu," ia terpaksa berbohong kepada Nasya karena ingin memberi pelajaran kepada tiga orang yang telah menunggunya disana. Ia tidak mungkin memberi pelajaran di hadapan sang istri.
Nasya duduk di tepi ranjang. "Iya, mas."
"Kalau mau tidur, jangan sungkan. Ini milik kamu juga," Jimmy mengecup kening Nasya. "Mas kerja, sebentar."
Jimmy keluar dari kamar tersebut.
Nasya menatap sekeliling ruangan mewah lalu menggeleng kepala. "Begini ternyata jadi orang kaya," decaknya kagum.
__ADS_1
Nasya bangkit mengitari ranjang mendekati tiga paperbag yang diyakini adalah hadiah yang akan diberikan kepada anak Dimas dan Amanda.
*
*
"Buka semua bungkusan nasi Padang itu," titah Jimmy seraya duduk di sofa tempatnya semula.
"Saya tidak suka mengulang ucapan apa yang telah saya ucapkan," tekan Jimmy dingin.
Dengan cepat Rispan, Novi, dan Dila membuka bungkusan berisi nasi Padang. Nasi liwet yang dibeli Dila telah diberikan kepada cleaning servis.
Pasalnya ketiganya sudah makan saat Jimmy juga makan karena Nasya menyuruh mereka makan bersama.
Jimmy membiarkan mereka makan sampai mual. Ia tidak ingin memberi pelajaran bagi mereka dengan bogeman.
Beberapa saat kemudian, ketiganya telah selesai memakan nasi Padang itu semua. Mereka tampak kesusahan bernafas saking penuhnya perut mereka.
"Kamu tahu wanita pemilik Rumah Makan Cintarasa itu adalah istri saya. Dari hasil penjualan nya sebulan saja lebih besar hasilnya dari pada gaji kamu. Kenapa kamu sepele? apa karena kamu bekerja memakai pakaian rapi dan terbuka sehingga berpikir seperti itu?" cecar Jimmy.
__ADS_1
Dila menunduk malu. "Bu-bukan begitu, pak. Saya tidak tahu kalau beliau istri bapak."
"Berarti kalau bukan istri saya, bakal tetap kamu sepelekan?"
Jimmy berdecak. "Pastikan tidak ada Perusahaan yang menerima wanita ini," titahnya dingin menatap Rispan.
Rispan hanya dapat mengangguk.
Jimmy beralih menatap Novi. "Kenapa kamu juga ikut bergabung dengan mereka berdua?" tanya nya dingin, sebenarnya ia tahu mengapa sekretaris nyabitu berada disini.
"I-itu, pak. Dila tidak bersalah," jawab Novi gugup.
"Jadi, kamu yang salah? padahal jelas-jelas wanita itu menyepelekan istri saya," kata Jimmy lagi.
Novi menelan saliva. Ia tidak mungkin mengatakan alasan mengapa Dila melakukan itu karena ingin memberi pelajaran kepada Nasya yang secara tidak langsung membuatnya patah hati.
"Pergilah," kata Jimmy kepada Novi.
Sekarang hanya ada Jimmy dan Rispan. Cukup lama mereka berdiam diri.
__ADS_1
"Aku harap kamu tidak menyimpan perasaan kepada istriku, Ris. Kamu sudah aku beri waktu selama dua tahun untuk memikirkan permintaan ku kala itu, tapi tidak sedikitpun kamu mencoba mendekati istriku. Tapi, jika sekarang kamu berniat buat merebut istriku, maka akan berhadapan langsung padaku."