Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
78. JSAMS


__ADS_3

Setelah seharian beristirahat di Hotel, Jimmy dan Nasya akhirnya akan berangkat menuju Jakarta, setelah itu ke Dubai.


Ibu Mayang, Tiara, Buya Niko, bunda Fadia mengantarkan Jimmy, Nasya, dan Rispan ke Bandar Udara Internasional Juanda.


Nasya memeluk Ibu Mayang dan bunda Fadia secara bergantian. "Semoga pulang dari bulan madu langsung isi ya," kata ibu Mayang.


"InsyaAllah, ma."


Nasya berjongkok di hadapan Tiara yang sudah bertambah tingginya. "Tiara baik-baik,ya. Libur sekolah, kita akan liburan bersama."


Nasya mengatakan itu karena tahu bila anak sambung ya tengah merajuk karena tidak ikut pergi bersama mereka.


"Janji, ya. Mami jangan pergi lagi," tutur gadis cantik itu.


Nasya mengangguk disertai senyuman. "Iya mami janji. Dipakai terus hijabnya, ya. Tiara cantik kalau pakai hijab," Nasya memeluk Tiara sangat erat dan penuh kasih sayang.


Kemudian Nasya beralih mendekati Buya Niko lalu memeluknya. "Doain Nasya, Buya."


"Selalu, sayang. Kamu hati-hati dan jaga Marwah mu sebagai istri. Kurangi keras kepalanya dan belajarlah bergantung pada suami, karena laki-laki sangat suka itu."


Nasya mengangguk disertai kekehan karena selama ini biasa hidup sendiri membuatnya mandiri.


Jimmy memeluk ibu Mayang dan mendapat tepukan di punggungnya. "Jangan kelelahan sayang dan jangan terlalu semangat membuat istrimu lelah. Lihatlah mata panda kalian berdua. Emangnya jam berapa kalian selesai, sih?" omel ibu Mayang membuat Nasya salah tingkah.


"Hanya sebentar, ma. Kan mubazir kalau Nasya diangguri," sahut Jimmy ambigu dan itu langsung membuat Nasya memukul punggung nya.


Jimmy menoleh ke belakang dimana Nasya berdiri. "Mas bicara yang sebenarnya, sayang." Ucapannya membuat Nasya mencebik.


Beberapa saat kemudian, ketiganya sudah di dalam pesawat. Bukan pesawat first class yang biasa di naiki Jimmy dan Rispan.


Nasya sedari tadi hanya diam saja membuat Jimmy terheran. "Kamu kenapa, sayang?" tanya Jimmy.


"Aku baru pertama kali naik pesawat, mas. Takut mogok," bisik Nasya.


Jimmy mendekap tubuh Nasya. "Apa kamu merasa pusing?" tanya nya dan diangguki oleh Nasya.


"Ya sudah, kamu bawa tidur saja ya. Setiba di Jakarta, kita akan naik jet pribadi akan lebih nyaman dari ini."


Nasya mengangguk dan memejamkan mata dalam dekapan Jimmy. Pria itu pun dengan sigap mengelus kepala hingga punggung Nasya yang tertutup pakaian syar'i.

__ADS_1


Dua jam kemudian, Ketiganya sudah berada di Jakarta dan mereka berada disalah satu Restoran di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta.


Nasya menopang dagu di atas meja, menatap ke sekeliling. Sudah dua kali ia mendapati Rispan sedang memerhatikan nya lalu ia menatap Jimmy yang tengah melihat buku menu Restoran tersebut.


"Grandma's Fride Rice dan Spaghetti Rica-rica. Minum nya orange's juice dua."


"Ada lagi, pak?"


Jimmy menggeleng. "Tidak, terimakasih." Katanya sembari menyerahkan buku menu tetapi tatapan matanya tertuju pada sang istri.


"Kenapa, hm?" tanya Jimmy.


Nasya ditatap seperti itu menjadi malu dan menggeleng kecil. "Mas malu gak nikahi aku yang gak pernah punya pengalaman pergi jauh-jauh?"


"Semua orang rumah selalu ngelarang kalau aku pengen pergi kemana-mana. Aku dikasih ijin kuliah di Surabaya itu karena ada mas Gadhing," curhat Nasya tetapi justru membuat Jimmy kesal.


Nasya menyadari perubahan raut wajah Jimmy berubah muram durja. "Mas kenapa?"


Jimmy tidak menjawab karena makanan mereka baru tersaji di meja. Ia menengadah kedua tangan nya membaca doa makan diikuti Nasya lalu mengusap wajah setelah selesai berdoa.


Nasya mengikuti Jimmy memulai makan tetapi tatapan nya sesekali melihat sang suami. Benar saja, raut wajah pria itu masih sama setelah ia menceritakan dirinya tadi.


Hingga keduanya menghabiskan makanan juga, Jimmy masih diam saja. Pria itu menyeruput separuh orange's juice miliknya lalu separuh lalu ia sodorkan ke arah Nasya.


Bukan.


Bukankah hal itu seperti Nabi Muhammad Saw dengan Aisyah r.a yang minum dalam gelas yang sama?


"Apa mas Jimmy marah karena aku cerita tadi dan menyebut nama mas Gadhing?"


Jimmy mencebik. Ia semakin kesal karena Nasya menyebut nama pria lain lagi terlebih pria itu adalah mantan suami sang istri.


"Aku cemburu kamu sebut nama laki-laki lain dihadapan ku. Apalagi aku tahu gimana cinta nya kamu terhadap dia," ucap Jimmy lirih.


Nasya merasa bersalah. Di genggam tangan Jimmy yang berada di atas meja. "Maaf," ucapnya pelan.


"Aku juga cemburu saat kamu di taman gendong anak dia dan dia hampiri kamu. Jarak kalian terlalu dekat," ungkap Jimmy mengepal tangan padahal tangan nya masih di genggam Nasya.


Nasya terkejut. "Gimana mas tahu?"

__ADS_1


Jimmy berdecak dan merutuki diri karena keceplosan. Ia memalingkan wajah namun Nasya menggoyangkan tangan nya.


"Mas kok tahu?" tanya Nasya sekali lagi.


"Gak sengaja lihat," sahutnya singkat dan tidak berbohong.


"Mas mata-matain aku, ya? kamu belum bisa move on dari aku ya?" goda Nasya justru membuat Jimmy salah tingkah.


Tapi tunggu. "Bukankah kamu juga belum bisa move on dari mas?"


Nasya menarik tangan nya lalu mengedikkan bahu. "Sudah. Buktinya aku mau dinikahi dengan laki-laki yang belum pernah aku temui sebelumnya," sahutnya santai.


Tetapi jawaban Nasya membuat Jimmy kesal dan cemburu. "Jadi, kalau bukan aku yang nikahi kamu kemarin berarti sudah lupain aku?"


Mendengar pertanyaan Jimmy sekaligus sang suami menyebutkan diri sebagai aku membuat Nasya menelan saliva. "Enggak. Hati aku tetap untuk mas."


Perdebatan manis keduanya terhenti saat Rispan sudah berdiri disamping meja mereka. "Sudah waktunya berangkat, pak."


Keduanya menoleh lalu berdiri secara bersamaan. Dengan sigap Jimmy menarik koper milik Nasya dan Rispan menarik koper Jimmy serta miliknya.


Kedua tangan Jimmy dan Nasya saling bertaut dan memancarkan kebahagiaan. Sangat terlihat cinta dari tatapan keduanya.


Perpisahan selama dua tahun dan perdebatan tadi seakan sirna dikalahkan cinta dari keduanya.


Rispan menatap kedua tangan saling bertautan itu dengan tatapan sedih. Helaan nafas panjang berulang kali darinya.


Perasaan mu ini salah, Ris. Sampai kapan kamu begini terus? apa gak lelah?


*


*


Nasya menatap sekeliling pesawat yang dikatakan sang suami adalah jet pribadi. Ia terpukau dengan kemewahan yang tersaji disana.


Sedang Jimmy melihat reaksi sang istri bukan menjadi ilfil melainkan sangat gemas. Ia langsung mengecup pipi sang istri yang sedang fokus menatap sekitar.


"Mas," cicit Nasya dengan mata melebar.


"Kamu gemesin banget tahu," kata Jimmy mengecup pipi Nasya kembali.

__ADS_1


Rispan menatap keduanya hanya dapat memalingkan wajah. Sungguh pemandangan itu membuatnya merasa damai karena telah membuat sang bos bahagia, tetapi di sudut hatinya yang lain merasakan perih.


Kubur perasaanmu, Rispan.


__ADS_2