Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
45. JSAMS


__ADS_3

Kehidupan yang dijalani Gadhing semakin hari semakin memprihatinkan. Hanya pekerjaan yang dapat mengalihkan kesedihan yang melanda.


Ia juga baru mendapat kabar bila Noni semakin hari tidak menunjukkan kemajuan melainkan semakin lemah.


Mantan istri pertamanya itu hanya hidup sebatang kara karena sang ayah sudah meninggal sejak lama dan ibunya meninggal saat usia pernikahan mereka menginjak satu tahun.


Gadhing juga tahu bila Dimas dan Amanda sering mengunjungi Noni.


Gadhing menatap nanar dua bingkat kecil berisi dua foto dirinya dan Nasya. Hembusan nafas kasar terdengar.


Semenjak berpisah dengan Nasya, Gadhing benar-benar merasakan sepi ditinggalkan gadis itu. Padahal, ketika masih berhubungan dengan Dimas, Nasya selalu menyempatkan diri menanyakan kabar setiap harinya.


Malam hari, Gadhing bersiap hendak pulang. Tetapi, kerinduan nyabterhadap mantan istri keduanya membuncah membuat tangan nya bergerak memutar setir menuju alamat rumah Nasya yang baru.


Cukup jauh karena Gadhing tahu alamat rumah Nasya sangat dekat dengan alamat mansion milik Jimmy.


Mengingat nama pria itu, Gadhing mengeratkan pegangan di setirnya sebagai luapan amarah dan cemburu menjadi satu.


Pria itu benar-benar bisa membuat dirinya tak berkesempatan untuk bertemu dengan Jimmy.


Mobil Gadhing berhenti ketika melihat Nasya keluar rumah dibarengi Jimmy dan juga anak kecil yang diyakininya adalah anak pria itu.


"Sebegitu mudahnya kamu melupakan aku, Nasyama."


Melihat mobil Jimmy melaju tanpa Nasya, membuat nya tersenyum. Ia pun segera melajukan mobil menuju rumah Nasya.


*


*


Nasya tampak terkejut melihat mobil yang sangat dikenalnya baru saja berhenti tepat di hadapan nya karena belum beranjak dari tempat semula setelah mengantar Jimmy dan Tiara.


Nasya menelan saliva karena dugaan nya benar jika seseorang yang ada di dalam mobil adalah Gadhing.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Nasyama."


"Waalaikumsalam, mas. Ada apa?"


Gadhing menatap Nasya dalam. "Mas kangen kamu, Sya. Mas kangen kita yang dulu," tutur Gadhing merasa matanya mulai memanas.


Nasya memberanikan diri menatap mata Gadhing. "Seperti dulu?"


Gadhing mengangguk. "Maaf, mas. Aku gak bisa. Hatiku sudah tenang dan damai sekarang. Kalau mas kangen kita yang dulu, berarti mas kangen aku menjadi pengemis cinta? mas ingin aku kembali seperti dulu yang gak punya harga diri?" cecar Nasya terpancing emosi.


"Bu-bukan itu maksud aku, Nasyama."


Nasya menggeleng kemudian mengusap air matanya yang menetes tanpa permisi. "Hidupku sudah tenang, mas. Sebelum aku menerima mas Jimmy, sempat aku merasa trauma karena takut jika ending nya sama. Ya, sama-sama di tinggalkan."


Hati Gadhing terasa sakit seperti ditusuk belati. Ia menginginkan kedekatan mereka seperti dahulu tetapi Gadhing lupa jika dahulu Nasya mengejar cintanya.


"Maaf," kata Gadhing.


"Mas ingin memperbaiki hubungan kita, Sya. Mas ingin kita rujuk," imbuh nya lagi.


"Mas mohon," Gadhing memohon.


Nasya kembali menolak karena hatinya telah mantap memilih Jimmy.


Gadhing mengangguk paham. "Baiklah. Tapi mas pastikan kamu akan menikah dengan mas."


Gadhing meninggalkan pekarangan rumah Nasya dan meninggalkan gadis itu yang masih membeku.


Apa yang akan dilakukan mas Gadhing?


*


*

__ADS_1


Sudah tujuh bulan Nasya menyandang status janda di mata agama. Beruntung tidak banyak yang tahu jika dirinya pernah menikah dan menjadi perebut suami orang.


Hanya tetangga di Malang lah yang banyak tahu. Tetapi, bagi Nasya tidak menjadi masalah karena tidak mendengar secara langsung menjadi buah bibir para tetangga.


"Ikan Nila dan ayam kapan mau di beli? sore ini atau besok pagi-pagi saja?" tanya Joko, keduanya sedang memeriksa stok bahan dapur.


"Besok pagi saja, kak. Sekalian aku ikut, sudah lama enggak blusukan ke pasar."


"Ya namanya calon istri orang kaya," sindir Joko bergurau.


"Apaan sih, kak. Sama saja tahu."


Suara ketukan pintu terdengar dan Joko mempersilahkan masuk. Ternyata orang tersebut adalah Tita.


"Eh ada adik manis. Ada apa?"


Tita tampak tersipu malu. "Ada kurir bunga di depan," katanya.


"Bunga?" tanya Nasya dan Joko bersamaan dengan alis saling bertaut.


"Untuk mbak Nasya," perjelas Tita membuat Nasya terkejut.


Nasya langsung beranjak dan segera keluar melewati Tita.


Joko juga berdiri dan berjalan mendekati Tita. "Nanti malam mau keliling kota sama kakak?" bisik Joko membuat gadis manis itu tersipu malu seraya mengangguk.


Joko tersenyum. "Jam tujuh mas jemput ke kosan."


Sedang Nasya memijat pelipisnya karena pusing melihat rumah makan nya sudah di penuhi dengan bunga anyelir merah putih. Beruntung pengunjung sudah tidak ada karena Rumah Makan sudah berbenah hendak tutup.


Nasya menanda tangani bukti terima kiriman bunga dan tak lupa memberi uang tip untuk tiga orang kurir.


"Makasih ya, pak."

__ADS_1


Nasya memilih duduk memerhatikan bunga-bunga tersebut yang tergeletak di atas semua meja di ruangan itu.


"Ini buang-buang uang namanya. Apa aku jual saja?"


__ADS_2