
"Dena?!!"
Sentak saja wanita bernama Dena itu menoleh ketika mendengar namanya di sebut oleh pria pujaan hatinya.
Emier mengajak ketiga adiknya pergi ke kamar mereka. Bocah itu ingin menunjukkan koleksi mainan nya yang selama ini dimilikinya.
"Mas, Gadhing. Akhirnya kamu pulang," tuturnya membuat Gadhing dan Nasya mengerutkan dahi.
Nasya melihat Dena merangkul lengan Gadhing. Sementara tangan Gadhing yang lain menggenggam tangan nya.
Jangan tanya apakah Nasya cemburu atau tidak. Tentu saja cemburu melihat suaminya di sentuh wanita lain.
Gadhing sudah berusaha melepaskan rangkulan itu dengan menarik tangan nya. Namun sepertinya Dena tidak membiarkan rangkulan tersebut lepas.
"Kenapa kamu bisa masuk ke rumahku, Dena?" tanya nya.
"Ah iya aku lupa," Dena melepaskan rangkulan ditangan Gadhing kemudian mengambil paperbag yang dibawanya tadi.
Saat Dena mengambil paperbag, Gadhing mengajak Nasya agar duduk di sofa karena tidak ingin membuat istrinya kelelahan.
"Ini dari mama. Kemarin aku pulang ke rumah mamak dan dibawakan ini untuk kamu. Dan aku bisa masuk karena bibi sedang disini," kata Dena membuat Nasya menatap tajam ke arah Gadhing.
Gadhing memang memerintahkan pelayan di rumahnya agar membersihkan kamar untuk ditempati anak-anak mereka.
Nasya tidak ingin membuka suara terlebih dahulu karena ingin melihat sejauh mana kedekatan antara Gadhing dan Dena.
"Ma-makasih," ucap Gadhing gugup karena takut terjadi salah paham.
__ADS_1
Dena sendiri merasa aneh karena Nasya tak kunjung pergi. Padahal tahu bila dirinya dan Gadhing tengah menjalin kedekatan.
"Em.. Nasya, kamu gak masuk?" tanya Dena.
Nasya tersenyum. Dugaan nya benar jika Dena tidak nyaman atas kehadirannya disini. Ia tidak lantas menjawab melainkan bertanya pada Gadhing. "Gimana, mas? aku pergi, ni?"
Nasya memang bertanya, namun pertanyaan itu sangat tegas sehingga membuat Gadhing ketar ketir. Tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, Gadhing langsung menggeleng.
"Kamu tetap disini," ucap Gadhing tak kalah tegas dan Nasya langsung mengangguk.
Dena semakin bingung dengan sikap keduanya.
"Dena," ucap Gadhing membuat sang empu nama tersenyum.
"Sebelumnya makasih banyak untuk bingkisan ini. Aku mau bilang kalau Nasya adalah istriku," ungkap Gadhing membuat Nasya tersenyum.
Tetapi tidak dengan Dena. Wanita itu tampak begitu terkejut dengan tangan terkepal. "Bukankah kalian sepupu?"
Mata Dena mengembun. "Kamu pernah berpoligami, kan? nikahi aku juga, mas."
Gadhing dan Nasya terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Dena. Ia merasakan jemari nya digenggam oleh sang suami.
"Aku gak akan pernah mau berbagi suami," ucap Nasya tegas. Bayangan masalalu menghantui dan tidak ingin mengalami hal itu lagi.
"Silahkan keluar dari rumah suami saya, mbak. Dan tolong untuk selanjutnya jangan sembarangan masuk ke rumah orang," ucapnya tegas.
Denga mengepalkan tangan kemudian pergi tanpa mengatakan apapu.
__ADS_1
Setelah Dena pergi, keduanya hanya berdiam diri. "ada yang ingin mas jelasin ke aku, gak?"
Pertanyaan Nasya begitu menyeramkan di dengar oleh Gadhing. Ia menoleh dan mengubah posisi ke arah sang istri. Dipegang kedua telapak tangan lalu dikecupnya berulang-ulang.
"Gak ada yang perlu dijelasin, sayang. Mas pernah bertemu dengan ibu nya Dena saat kami sedang makan berdua," terangnya tanpa ada kebohongan.
Nasya mengerutkan dahi. "Berdua? terus Emier dan Asnan gimana?" tanyanya beruntun.
Jika masalah anak maka Gadhing yakin akan diomeli setelah menjawab ini. "Di rumah sama baby sitter," sahut Gadhing pelan namun masih di dengar Nasya.
Nasya berdecak kesal. "Kamu itu ya, mas. Di luar senang-senang sama perempuan lain sementara anak-anak di tinggal begitu saja. Seharusnya kalau kamu serius sama mbak Dena itu, biarkan anak-anak dekat sama calon ibu sambung nya. Kamu bukan lagi bujangan, mas. Kamu itu duda beranak dua," cecar Nasya kemudian hendak bangkit namun tangan nya ditarik Gadhing hingga terduduk kembali.
Gadhing mengecup pipi Nasya karena gemas.
"Mas.. Gak boleh cium, tahu!!"
Gadhing terkekeh. "Karena mas gak serius dengan Dena makanya anak-anak gak dekat dengan dia. Mas juga gak boddoh dalam memilih istri, sayang. Mas gak mau mengulang kesalahan yang sama lagi. Mas gak mau mencari pelampiasan demi menunggu kamu," terangnya membuat Nasya diam seribu bahasa. Entah mengapa detak jantung nya berpacu dengan cepat dan ada kehangatan dihatinya.
Gadhing meraih dagu Nasya agar menatap ke arahnya. Wajah tampan nya itu semakin maju agar bibir mereka bertemu. Keduanya saling berbalas lumaatan, sesapan, dan bermain lidah.
"Mas cinta kamu, Nasyama. Enggak ada wanita lain," bisiknya setelah menjeda ciuman itu kemudian Gadhing melanjutkan nya lagi.
Gadhing tidak mengapa bila Nasya belum mencintainya karena paham pastilah Jimmy melakukan yang terbaik sehingga dapat melupakan cinta Nasya untuknya dahulu. Terpenting sekarang Nasya menerima cintanya.
Nasya mengalungkan kedua tangan di leher Gadhing. Kedua tubuh mereka sudah terbakar api gairahh dan ingin menuntaskan nya.
"Di kamar saja, mas!" Nasya berbisik dan menahan tangan Gadhing ketika hendak membuka resleting gamisnya.
__ADS_1
Gadhing mengangguk lalu menggendong Nasya ala bridal style.
"Mamiii!!!"