
Nasya dan Jimmy duduk bersebelahan dengan posisi saling berhadapan. Belum ada yang bicara karena Nasya sibuk memperbaiki kimono handuk nya.
Sementara Jimmy hanya bisa menghela nafas panjang berulang kali karena pikiran nya menjadi tidak fokus akibat apa yang dilakukan Nasya. Sedang adik kecil di balik handuk yang melilit di pinggangnya sudah berdiri tegak sejak tadi.
Jimmy semakin gusar hingga menarik dan mendudukkan Nasya ke pangkuannya.
"Mas, turuni aku!" pinta Nasya gelisah, ia merasakan sesuatu yang keras disebelah paha kanan nya.
Jimmy segera memeluk pinggang Nasya kemudian dagunya berada di salah satu bahu istrinya itu. "Tenang, sayang. Kita harus bicara lebih dulu tapi kamu sudah bangunkan Junior mas," ungkap Jimmy membuat Nasya mematung.
Merasa Nasya diam saja di pangkuannya, Jimmy melepas pelukan, kembali duduk tegak. Diselipkan rambut Nasya ke daun telinga istrinya itu.
"Kamu cantik, sangat cantik." Jimmy memuji Nasya dengan suara bergetar.
"Kamu boleh marah sekarang," imbuhnya lagi.
Tapi Nasya hanya diam saja. Ingin sekali ia marah tetapi entah mengapa tak bisa melakukan itu. Apakah selama ini Nasya tidak marah?
Atau hanya kecewa sesaat dan berharap Jimmy kembali lagi? Ah, Nasya malu untuk mengakui hal itu.
"Kamu jahat," ucap Nasya dengan suara serak.
Jimmy langsung memeluk Nasya Dangan mengucapkan kata maaf berulang kali. Tetapi, apa yang dilakukan Jimmy membuat tangis istrinya itu semakin pecah.
Untuk beberapa saat, pengantin baru itu saling berpelukan. Tidak tahu untuk melepas rindu atau menangisi apa yang terjadi pada mereka. Tetapi, seperti itulah cara mereka melepas kegundahan dihati.
"Jangan pergi lagi," ucap Nasya terbata-bata.
Jimmy melepaskan pelukan, menangkup wajah Nasya yang sudah basah karena air mata. Ibu jarinya mengusap pipi itu dengan lembut membuat Nasya terpejam.
"Mas gak akan meninggalkan kamu, lagi."
Bibir Nasya yang sedikit terbuka seakan mengundang Jimmy untuk menyambutnya. Dengan perlahan, Jimmy memberanikan diri untuk mencium bibir ranum sang pujaan hati.
Untuk sesaat mereka melupakan masalalu yang menyakitkan, hanya kepuasan dahaga adalah keinginan yang hendak dicapai.
Perlahan Jimmy mengangkat tubuh Nasya lalu dibaringkan ke atas ranjang. Masih dengan bibir yang saling berpagut, tangan Jimmy sudah masuk ke dalam kimono handuk yang dikenakan istrinya.
Sebenarnya, Jimmy merasakan keanehan dari sambutan bibir Nasya. Masih kaku, itulah yang dirasakan olehnya.
Jimmy melepas pagutan, ia menegakkan tubuhnya dengan kedua lutut berada di sisi paha Nasya.
Tatapan yang sudah berkabut gaiirah berdecak kagum atas pemandangan tubuh polos Nasya.
Nasya menyilangkan kedua tangan di dada agar menutupi payu dara nya yang polos. Sungguh ia sangat malu ditatap seperti itu oleh Jimmy.
__ADS_1
"Aku malu, mas." Pipi Nasya memerah. Bagaimana tidak? ini pertama kalinya.
Jimmy tak menjawab, tetapi tangan nya dengan lembut menyingkirkan kedua tangan Nasya. Mata tajam seorang Jimmy tidak pernah ada bila berhadapan dengan Nasya.
"Ini sangat indah, sayang."
Sungguh, pujian Jimmy membuat Nasya ingin menghilang saja karena malu serta senang bersamaan.
Jimmy kembali mencium bibir Nasya. Kali ini ciuman itu terasa menuntut lebih dari sekedar ciuman.
Jimmy beralih ke leher putih dan mulus milik Nasya. "Keluar saja sayang. Jangan ditahan suaranya," katanya kembali menikmati leher putih itu.
Gigitan dan hisapan terasa sedikit nyeri namun semakin membuat tubuh Nasya melayang. Ini adalah pengalaman pertanya. Dahulu saat masih bersama Gadhing, ia belum pernah sampai ke tahap ini.
"Ahh," tanpa sadar Nasya meendesah saat lidah Jimmy telah menguasai pucuk payu dara nya.
Jimmy tersenyum dan semakin menggila ketika berhasil membuat Nasya mendesah, seperti suatu kebanggaan baginya.
Sudah bertahun-tahun Jimmy tidak pernah melakukan hubungan badan, terakhir kali saat harus membuat mantan istrinya hamil. Setelah hamil, Jimmy tidak lagi melakukan itu.
Tubuh Nasya semakin menggila, bergelinjang, dan melengkung nikmat ketika kecupan, hisapan, dan jilatan lidah Jimmy turun hingga ke bawah perutnya.
Walau masih tertahan, namun suara desaahan dari Nasya sudah keluar seiring kenikmatan yang terus diberikan oleh Jimmy.
"Mas," sumpah demi apapun Nasya merutuki dirinya sendiri. Niat hati ingin menegur cara tatapan Jimmy justru suaranya terdengar merengek pada sang suami.
Jimmy tersenyum menatap Nasya. "Kenapa sayang?" tanyanya seraya jemarinya menyentuh inti kenikmatan pada tubuh istrinya.
"Aahh, mas." Sekali lagi Nasya mendesah hingga tubuhnya menggelinjang.
"A-ku mau pipis," cicit Nasya dibarengi suara desaahan yang begitu merdu di telinga Jimmy.
Jimmy mengerutkan dahi sesaat karena ucapan Nasya seperti gadis polos yang belum pernah melakukan hubungan badan.
Bukankah pernah menikah? itulah pertanyaan yang datang dalam benak Jimmy.
"Keluarkan saja, sayang. Jangan ditahan," ungkap Jimmy kemudian tubuhnya membungkuk setara dengan inti tubuh Nasya.
Lidah Jimmy menjulur dan menikmati pada inti tubuh Nasya itu semakin membuat sang empu meendesah nikmat hingga pelepasan pertama buat gadis itu rasakan.
Tanpa rasa jijik, Jimmy menghabiskan cairan pelepasan itu dengan lahap kemudian menegakkan tubuh, kembali mengukung Nasya.
"Gimana rasanya, sayang?" tanya Jimmy saat Nasya masih memejamkan mata menikmati sisa pelepasan.
Sunggu disaat begini, Nasya tampak lebih menggoda.
__ADS_1
Mata Nasya terbuka dan tatapan mereka terkunci. "Rasanya aneh, mas."
Jimmy terkekeh. Jawaban yang cukup aneh untuk wanita yang sudah pernah menikah, menurut Jimmy.
Jimmy kembali menyerang bibir Nasya dan kembali melakukan pemanasan. Ia kembali membuka kedua paha Nasya lebar-lebar dan mengarahkan junior yang sudah berdiri tegak sedari tadi.
"Ssshh, ah." Nasya meremas seprei ketika ujung junior baru saja menekan inti nya yang masih rapat dan tersegel.
Jimmy tersentak ketika merasakan junior kesulitan masuk ke dalam inti Nasya. Matanya menatap Nasya dengan tatapan tidak percaya.
Jimmy tidak ingin berharap bahwa dugaan nya benar. "Sya. Apa kamu belum pernah melakukan itu dengan mantan suamimu?" tanya Jimmy membuat tatapan mereka bertemu.
Nasya hanya mengangguk saja. Ada rasa malu, tetapi harus bagaimana lagi?
Jawaban Nasya membuat Jimmy tersenyum senang. Ia menangkup wajah sang istri kemudian mengecup seluruh wajah itu.
"Terimakasih, sayang. Mas akan pelan-pelan. Tahan sedikit, ya."
Jimmy kembali mengulang mengarahkan junior kepada inti tubuh Nasya.
Nasya kembali merasakan sakit ketika kepala junior baru saja masuk. Peluh keringat sudah membasahi dahinya, remasan pada seprei semakin kuat diiringi rintihan karena merasakan ketidaknyamanan di inti tubuhnya.
Jimmy tidak menyangka akan sesulit dan semenyiksa itu untuk Nasya. Ada rasa tidak tega melihat Nasya yang kesakitan, tetapi tidak mungkin ia urungkan karena sudah separuh jalan menuju kesuksesan malam ini.
Jimmy terus memajukan dengan sedikit menekan agar pintu kegadisan istrinya terbuka. Hingga juniornya benar-benar telah masuk sempurna.
Jimmy tidak langsung memulai permainan karena memberi waktu bagi inti tubuh Nasya untuk beradaptasi atas kehadiran junior di dalam sana.
Ada rasa bangga menyelimuti hati Jimmy saat ini.
Masih dalam menyatu, Jimmy mengusap pelu keringat dan air mata yang menetes di wajah Nasya.
"Apa sangat sakit?" tanya Jimmy membuat Nasya menatapnya.
"Sedikit."
"Setelah ini pasti gak akan sakit. Apa kamu sudah siap?" tanya Jimmy tanpa menunggu jawaban, ia kembali memagut bibir Nasya yang akan selalu menjadi candu.
Pijatan dari inti tubuh Nasya membuat Jimmy semakin menggila. Dengan perlahan ia memaju-mundurkan pinggul agar mencapai puncak nirwana.
Begitu pula dengan Nasya yang awalnya meringis dan tidak nyaman, kini berubah menjerit nikmat selaras dengan gerakan pinggul Jimmy yang sedang bekerja.
"Aahh, sayaaang."
"Mas ah maas."
__ADS_1