
"Minggir, Sya."
Nasya menggeleng dan tetap merentangkan tangan buat menghalangi Jimmy masuk ke dalam ruang kerja.
Jimmy menghela nafas panjang berulangkali. "Hanya sebentar," katanya seraya memalingkan wajah. Sungguh tatapan mata Nasya membuat nya sakit bila mengingat apa yang didengarnya tadi.
"Aku hanya ingin menenangkan hatiku," ucap Jimmy.
Mendengar ucapan Jimmy semakin membuat Nasya yakin bila pria di hadapan nya ini telah mendengar pembicaraan nya dengan Gadhing tadi. Apalagi Jimmy menyebut dirinya dengan kata 'aku' bukan lagi mas seperti biasa.
"Kita harus bicara dan selesaikan kesalahpahaman ini, mas."
Jimmy menghela nafas panjang. Ia tidak bisa bicara sekarang karena ingin menenangkan diri lebih dahulu sebelum berbicara dengan Nasya. Takut bila hal yang tak diinginkan terjadi karena masih dalam emosi yang tak stabil.
Sedang Nasya ingin bicara sekarang karena tak ingin masalah ini larut lebih lama dan akan menimbulkan kesalahpahaman yang baru.
Jimmy menghela nafas panjang. "Kenapa kamu keras kepala, Sya?" tanya Jimmy lirih.
Nasya berdecak. "Ayo kita bicara," tutur Nasya tanpa menanggapi ucapan Jimmy barusan.
"Nanti saja, Sya."
Nasya menggeleng dengan wajah cemberut. Keinginan nya tak ingin dibantah.
Jimmy menghela nafas panjang. Ia melangkahkan kaki menuju dapur. Rasanya hanya ini satu-satunya cara agar meredam emosinya.
Sementara Nasya mengikuti langkah Jimmy bak seekor anak ayam mengikuti sang induk. Dan itu berhasil membuat Jimmy terhibur karena tingkah lucu gadis itu.
Jimmy mengajak Nasya duduk di bar kecil yang ada di dapur. Keduanya duduk saling berhadapan.
Jimmy duduk dengan kedua tangan diatas meja dengan jemari saling bertaut. Dan matanya menatap dalam pada mata Nasya.
Nasya yang dilihat seperti itu oleh Jimmy membuatnya salah tingkah. Pria dihadapan nya selalu bisa membuatnya terintimidasi.
"Mas dengar apa saja?"
"Dengar yang mana?"
Nasya memberanikan diri menatap Jimmy, entah mengapa tatapan Jimmy begitu datar dan itu membuatnya tidak nyaman karena sudah terbiasa ditatap dan diperlakukan dengan lembut oleh pria itu.
__ADS_1
"Pembicaraan ku dengan mas Gadhing yang bilang kalau aku masih memiliki rasa cinta untuknya," sahut Nasya lirih.
Rahang Jimmy mengeras beserta kepalan tangannya begitu erat. Ia terus menekan cemburu dan amarahnya agar Nasya tidak takut karena sangat berbahaya bila emosinya sudah tak terkendali.
Nasya tahu jika Jimmy sedang menahan emosi, apalagi pria itu sudah tak lagi menatapnya. "Teruslah curahkan perhatian padaku, agar luka di hatiku segera mengering. Aku sudah mengatakan pada mas Gadhing kalau aku gak akan pernah kembali kepada masalalu."
Jimmy mendengar ucapan Nasya barusan menoleh dan menatap Nasya dengan tatapan tidak percaya.
Nasya mengangguk. "Aku menerimamu, mas."
Seketika binar bahagia diwajah Jimmy terlihat dan menambah ketampanannya. "Serius?"
Nasya mengangguk lagi.
"Kita menikah, besok?" tanyanya sontak membuat Jimmy bangkit dan hendak memeluk Nasya.
Nasya melotot langsung memberi peringatan sehingga Jimmy tersadar.
"Jangan asal bilang menikah. Apa mas lupa kalau pernikahan itu bukan hanya menyatukan dua orang? gimana sama keluarga mas?"
Jimmy mencebik. "Mas lupa kalau ada ibu Mayang," kekeh Jimmy kemudian duduk kembali.
"Apa orang tua mas akan setuju?"
Wajah Nasya berubah menjadi serius. "Mas."
Jimmy yang sedari tadi tersenyum, melihat raut wajah Nasya yang serius berubah menjadi serius juga.
"Mas. Aku bukanlah gadis lagi," kata Nasya mencoba ingin melihat reaksi Jimmy bagaimana jika ia mengatakan hal ini.
"Dan aku bukan lagi perjaka. Kenapa kamu bahas itu? saat aku memutuskan untuk memenangkan hatimu, itu berarti apa yang ada pada dirimu sudah aku terima."
"Apa mas akan kecewa kalau aku gak sesuai ekspektasi, mas?"
Jimmy mengerutkan dahi. "Maksud kamu?"
"Aku bukan perempuan sholeha. Buktinya aku menjatuhkan harga diriku agar bisa menjadi istri mas Gadhing, lebih parahnya aku menjadi seorang pelakor!" kata Nasya lirih karena makin kesini, ia sadar betapa memalukannya dulu saat dirinya mengejar-ngejar Gadhing.
Jimmy tersenyum hangat. Ingin rasanya menggenggam tangan gadis pujaan hatinya namun tak mampu. "Sayang. Dengarkan mas, sama seperti yang pernah mas katakan padamu. Jangan bicarakan masalalu karena mas juga punya masalalu yang kelam. Kami dijodohkan dan aku jatuh cinta pada mantan istriku tetapi dia gak cinta. Aku hanya meminta lahirkan anak untukku, setelah Tiara dilahirkan, kami pisah ranjang sampai pada akhirnya aku mengetahui perselingkuhan nya dengan sesama model."
__ADS_1
Nasya tertegun mendengar cerita Jimmy. Baru pertama kali ia mengetahui penyebab perpisahan Jimmy dengan Diana karena hingga sekarang tidak ada yang mengetahui penyebab perpisahan mereka.
"Ta-tapi kenapa publik gak ada yang tahu penyebab kalian berpisah , mas?"
Jimmy menatap dalam pada mata Nasya. "Karena aku gak suka masalah pribadiku diketahui publik."
"Atau mas masih ada perasaan untuk ibu kandung Tiara?" entah mengapa pertanyaan nya sendiri mengganggu ketenangan hatinya.
"Apa kamu cemburu?" tanya Jimmy tanpa menanggapi pertanyaan Nasya.
Tetapi, bagi Nasya itu adalah bentuk mengalihkan Jimmy agar tidak menjawab pertanyaan darinya tak dijawab.
Nasya hanya diam tanpa menjawab.
"Cintaku untuknya telah mati ketika melihat secara langsung ibu kandung Tiara sedang bercinta dengan kekasih nya. Kamu gak perlu khawatir, posisi kamu di hatiku utuh hanya ada kamu, bukan sepertiku dihatimu, Sya."
Nasya tertunduk. Hatinya tertegun mendengar ucapan Jimmy. Pria itu selalu bisa membuatnya diam tak berkutik.
"Tapi kamu gak perlu merasa bersalah. Mas yakin, setelah kita menikah maka cinta itu akan tumbuh setiap saat."
Nasya menegakkan kepala menatap Jimmy disertai senyum manisnya.
Jimmy juga tersenyum lalu beranjak dari duduknya. "Ayo mas antar pulang. Atau mau menginap?"
Nasya gelagapan dan ikut beranjak. "Pulang," Nasya tertunduk malu membuat Jimmy terkekeh.
Beberapa saat berlalu, Nasya sudah berada di rumah dan baru saja selesai membersihkan diri. Ia naik ke atas tempat tidur dan memejamkan matanya.
*
*
Pukul 3 dini hari Nasya terbangun. Entah mengapa malam ini tidurnya tampak gelisah. Ia beringsut dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Nasya berwudhu buat melaksanakan sholat malam dan sholat istikharah. Ia sudah terbiasa melaksanakan sholat malam, tetapi ini adalah pertama kalinya melakukan sholat istikharah.
Selesai sholat dan mengaji, Nasya kembali tertidur masih dengan mengenakan mukenah karena akan terbangun kembali untuk melaksanakan sholat subuh.
"Astaghfirullah," desis Nasya ketika baru saja memimpikan sesuatu.
__ADS_1
Nasya membuka mukenah dan berwudhu kembali untuk melaksanakan sholat subuh.
"Ya Allah yang Maha Pengasih dan Maha Mendengar. Ampuni hamba jika mempercayai arti sebuah mimpi. Hamba tahu jika dalam mimpi itu sebuah kebaikan maka datangnya dari-Mu dan jika mimpi buruk datang dari syetan. Tetapi, apa arti mimpi hamba barusan? apakah itu mimpi buruk? ataukah mimpi baik?"