
Nasya tertawa terbahak bahak melihat Jimmy sedari tadi mengusap dahi yang di penuhi peluh sebesar biji jagung.
Tetapi, tawanya surut ketika berubah khawatir melihat Jimmy sangat kepedasan tetapi tetap mencoba menghabiskan seblak level dower sama seperti dirinya.
Nasya mengambil tisu di atas meja lalu mengelap peluh yang sudah hampir penuh membasahi wajah Jimmy.
"Jangan diterusin makannya, mas."
Nasya benar-benar terlihat khawatir apalagi Jimmy menggeleng. "Mas harus habisin biar dapat finger love dari kamu," ucapnya sembari melanjutkan suapan nya.
Nasya menepuk jidat karena ucapannya tadi dianggap serius oleh Jimmy.
Tadi, saat pesanan seblak level dower mereka tersaji, Nasya mengatakan jika dapat menghabiskan lebih dahulu seblak tersebut maka yang menang akan mendapatkan finger love dari yang kalah.
"Gak harus habisin kalau mas gak sanggup. Aku akan berikan finger love buat, mas."
Jimmy mengusap peluh nya di dahi kemudian meminum air yang disediakan Nasya tadi. "Aku gak sanggup lagi, sayang. Aku menyerah," katanya sembari mengibas tangan ke arah wajahnya.
"Maaf, ya."
__ADS_1
Jimmy hanya mengangguk karena masih kepedasan dan merasa bibirnya sangat panas saat ini.
Di meja lain, Rispan menggeleng serta dihiasi senyuman khas pemuda Jawa. Ia tak menyangka jika sang bos begitu memuja gadis yang membuatnya jatuh hati untuk pertama kalinya.
Sebenarnya, Dirinyalah yang bertemu Nasya pertama kali di Malang. Karena dirinya ingin melihat Nasya, ia mengajak Jimmy makan di rumah makan Cintarasa.
Tetapi, selain Rispan tahu diri. Ia juga merasa bersyukur karena Jimmy menemukan cinta yang tepat. Apalagi dirinyalah yang menemani bos nya saat masa keterpurukan dahulu setelah mengetahui perselingkuhan Diana dan seorang model dan juga artis tersebut.
*
*
Jimmy mengangguk puas. "Kamu cantik disini. Pengen cubit," kekehnya serta membuat jemari telunjuk dan ibu jari bersitatap seperti hendak mencubit pipi Nasya.
Nasya mengatup kedua pipinya. "Awas saja kalau berani," cicit Nasya.
Setelah puas makan seblak dan berfoto di ponsel Jimmy, mereka memutuskan meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanan senyum manis Nasya tak surut. Sempat terbersit di hati, berandai-andai jika malam ini yang sedang bersama nya adalah Gadhing. Karena, sudah sejak lama begitu ingin bisa menghabiskan malam bersama Gadhing, pria yang dicintanya kala itu.
__ADS_1
Tetapi lihatlah. Tuhan tahu jika keinginan tak sesuai kenyataan dan kenyataan lah yang pasti terbaik bagi takdir seseorang.
Nasya menoleh kembali ke arah Jimmy yang tengah serius dengan ponsel di tangan pria itu.
Senyuman terukir dengan kata syukur terus bergumam di dalam hati karena dipertemukan oleh pria dewasa di sebelahnya ini.
Nasya kagum kepada Jimmy karena begitu sabar menghadapi sikapnya yang keras kepala dan masih bertahan tanpa memaksa dirinya untuk segera menerima pria itu.
Jika diingat, tanpa sadar Nasya sudah pernah membohongi Gadhing kala masih menjadi suaminya. Ia pernah berbohong kepada mantan suaminya tentang Jimmy yang menjadi pelanggan tetapnya.
"Kenapa menatap mas sampai begitu, hm?" tanya Jimmy berbisik membuat Nasya memundurkan wajahnya, gadis itu terkejut atas perlakuan Jimmy.
Hembusan nafas Jimmy mengenai pipi nya dan berhasil membuat pipi Nasya merona karena tak pernah jarak antara dirinya dan pria itu tak pernah sedekat itu.
"Maaf, Sya. Maaf sudah lancang," kata Jimmy.
"Mas membuat jantungku hampir copot," Nasya mengelus dadanya.
Setelah puas berkeliling kota, Jimmy mengantar Nasya hingga sampai di depan pintu barulah ia pergi dari sana. Senyuman itu terus mengembang di wajah tampan nya.
__ADS_1